Panggare Nu'Manu

2. Okt, 2019

 

Saban tanggal 2 Oktober setiap tahunnya, Bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Batik Nasional. Pemilihan tanggal 2 Oktober tersebut didasarkan atas tanggal penetapan Batik sebagai Warisan Dunia   oleh  UNESCO yaitu badan PBB yang menangani Pendidikan , ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Batik merupakan seni menulis atau menggambar pada sebuah bidang kain, muasal kata batik diambil dari dua kata Jawa  yaitu Amba yang berarti  menulis dan Tik’ yang artinya titik, Ambatik (batik) kemudian dijadikan satu kata baru yang memiliki makna menggambar dengan menggunakan titik-titik (mBati).

Dipercaya seni membatik  telah ada sekitar abad  ke-18, bahkan sumber yang lain menuliskan  metode  menggambar pada kain berasal dari budaya Mesir kuno, Sumeria, 1000 tahun yang lalu.

Bagaimana Jika Pendapat itu dibalik, dengan mengatakan  bahwa Batik telah ada sejak 3000 tahun yang lalu di Tanah Celebes (Sulawesi)?

Fakta  itu kemudian terkonfirmasi dari sebuah temuan arkeolog berupa batu  pemukul pembuat kulit kayu (Vuya Ivo) yang disebut  ‘Ike’ dengan motif tertentu.

Fakta itulah kemudian menjadi Hipotesa seorang Arkeolog Museum Sulawesi Tengah; Drs. Iksam Djorimi, M.Hum. Menurutnya,  Orang Kaili pada umumnya telah mengenal seni menggambar pada kain kulit kayu sejak dahulu.

Setali Tiga Uang,  dengan Pendapat Iksam, hal senada sebenarnya telah digambarkan seorang Etnograf  Belanda Albertus Christian Kruyt (1897) pada Bukunya Van Poso naar Parigi, Sigi en Lindoe, beliau menuliskan budaya Orang di Lembah Palu saat itu menggambar  kulit kayu yang dipakaisebagai Ikat  Kepala dan dipakai sebagai Bloes (Baju Wanita), Pun halnya dengan Walter Kaudern yang  membuat serial buku Etnology Studi di Midden Celebes tahun 1925-1938 menuliskannya secara terperinci tentang budaya tersebut.

Saat ini, Ike yang dimaksud tersimpan di  Troopen Museum  Amsterdam, akankah temuan ini kemudian merubah narasi sejarah Batik?

Selamat Hari Batik Nasional.

1. Okt, 2019

Dituduh PKI, Ketua  Serikat Buruh Muslim Indonesia (SARBUMUSI) Kabupaten Poso, Dipenjara Delapan Tahun

Foto: Surat Pernyataan Eks'Ketua Partai Natdhatul Ulama di Poso

 

Serikat Buruh Muslim Indonesia (SERBUMUSI/SARBUMUSI)  adalah Organisasi Massa/oderbouw dari  Partai Nahdlatul Ulama (NU), bukan rahasia,  bahwa pendirian SARBUMUSI pada tanggal 27 September 1955, adalah upaya  Nahdlatul Ulama untuk menghambat laju organisasi buruh besutan PKI, SOBSI.

Rivalitas SERBUMUSI dan SOBSI pun terasa hingga ke daerah, termasuk di Kabupaten Poso. Ada kejadian yang menarik pada tahun 1971, ketika   mantan Ketua  I SARBUMUSI Kabupaten Poso, ditangkap Oleh  Tim  Satgas Intel unit C Poso,  atas tuduhan keterlibatannya pada  PKI.

Tuduhan  tersebut  didasarkan atas penulisan  nama yang memiliki kemiripan, tetapi kemudian terbukti bahwa penangkapan tersebut sarat akan Politisasi karena persaingan figur yang akan menduduki kursi anggota Dewan Kabupaten Poso.

Dalam  sebuah naskah, Sang Ketua SARBUMUSI (Sengaja saya tak menuliskan nama, atas permintaan Keluarga) menuliskan Kronologis penangkapan hingga Siksaan yang dialaminya, sebagai paksaan untuk  menandatangani pernyataan keterlibatannya dalam Organisasi SOBSI, yang terafiliasi dengan PKI.

“Saya dilibatkan pada G 30S/PKI dituduh sebagai Anggota SOBSI, sebelumnya  saya pernah menghadiri pemanggilan Tim Pelaksana Khusus Daerah (LAKSUSDA) di Kantor Polisi Militer (PM) pada  Bulan Januar, 1971. Saat itu saya diperlihatkan sebuah nama yang hampir sama dengan nama panggilan saya,  dan saya menyatakan itu bukan nama lengkap saya. Berita acara pemeriksaan itu kemudian saya tandatangani” Tulisnya pada sebuah kertas.

“Tetapi beberapa bulan kemudian, tepatnya di Bulan April, 1971,  saya ditangkap  di Kantor Pemerintah  Daerah Tingkat II Poso,  tanpa pemberitahuan dan surat penangkapan, oleh Satgas Intel Unit C Poso. Kemudain saya diperiksa dengan pertanyaan yang tidak menjurus pada  kesalahan saya, pada awalnya saya disuruh membuka  baju kemeja dan celana dinas saya, lalu ditanya, apa kerja saya di pelabuhan  dan Siapa Jacob Lamadjuda.”

“Saya menjawab, bahwa saya bukan  buruh di pelabuhan, saya adalah pegawai pemerintah, hanya kebetulan bahwa saya  Ketua Organisasi Buruh SARBUMUSI, Organisasi ini adalah Onderbouw dari Partai Nahdlatul Ulama di Poso, Jacob Lamadjuda adalah teman seperjuangan saat menegakkan Kemerdekaan  republik Indonesia di Poso tahun 1945”

“ Jawaban saya itu tidak mereka terima, kemudian saya disuruh mengaku dan mengaku disertai cambukkan  dan  pukulan secara bertubi-tubi. Alat yang dipakai berupa  seikat rotan  basah terdiri dari  5 batang yang berukuran sebesar ibu jari  dengan panjang 75 cm. Rotan itu dipukulkan sampai hancur, hingga tubuh saya berlumuran darah, selain itu dipasang pula kabel strum pada ibu jari dan kemaluan saya.”

“Siksaan itu dilakukan mulai dari jam 10 Pagi sampai jam 14 baru berhenti, lalu disambung lagi jam 16 Sore dengan siksaan strum pada tubuh saya sampai pukul 20 (menurut ingatan saya, karena setelah itu saya tidak sadarkan diri/pingsan), selama itu saya tidak tahu orang, nantipada pemeriksaan kedua tepatnya tiga hari dari pemeriksaan pertama (berarti saya  pingsan selam 3 hari) saya baru menyadarinya.”

“Pada pemeriksaan kedua, saya dipaksa mengakui bahwa saya anggota SOBSI, saya menjawab, bahwa kapan dan dimana saya  menjadi anggota SOBSI?, saya tidak mengerti tentang SOBSI, saya adalah Pengurus Partai Nahdlatul Ulama, di Poso, jabatan saya adalah  Bendahara, sejak tahun 1963, dan saya  merupakan Pegawai Negeri, Karena  ada peraturan Menteri dalam Negeri yang melarang Pegawai negeri berpartai, maka saya memutuskan memohon berhenti dari Partai”

“ Sebulan berlalu, pemeriksaan secara hukum rimba dengan paksaan itu terus menerus memaksa,  untuk mengakui keterlibatan saya sebagai Anggota SOBSI, disetiap pemeriksaan itu pula  saya membantahnya, dengan alasan kebenaran. Sampai pada suatu saat, datanglah pemeriksa di kamar tahanan saya, dengan suara lemah lembut, membujuk dengan sehelai kertas konsep pemeriksaan yang isinya menyuruh saya  menuliskan diatas kertas itu tentang keterlibatan saya  di SOBSI dan mengakui  bahwa Jacob Lamadjudja adalah teman seperjuangan saat Kemerdekaan 1945 di Poso. Dengan tangan gemetar karena takut akan siksaan sebelumnya, saya menuliskan kesaksian yang mereka inginkan, kemudian mereka ketik lalu saya disuruh menandatanganinya, atas dasar itulah, kemudian saya ditahan secara terus-menerus dari  Bulan April 1971 sampai saya di bebaskan pada Bulan Desember 1979”.

Berdasar surat keterangan dari Komando Daerah Militer XII merdeka Komando Distrik Militer 1307 Poso. Nomor SK-002/8/Dim/1968 tanggal 31 Agustus 1968, serta Surat Pernyataan Jacob Lamadjudja  sebagai Ketua Partai Komunias Indonesia Daerah Poso yang menyatakan Bahwa beliau bukan  anggota PKI dan tak terlibat didalam anggota SOBSI, kemudian diperkuat lagi dengan surat keterangan  Mahfud Badjeber  dan Maaruf Tato selaku  bekas Pimpinan Nahlatul Ulama Poso, Kemudian Beliau dipulihkan haknya sebagai warga negara  serta berhak menerima Pensiun pegawai negeri, karena statusnya Sebagai Pegawai Negeri di DAT II Poso.

Demikian kisah Seorang Ketua I SERBUMUSI Kabupaten Poso yang dipenjara karena tuduhan  terlibat PKI. Peristiwa itu memberi gambaran, bagaimana Stigma PKI kemudian menghancurkan kehidupan seseorang. Sejatinya Bencana Kemanusiaan 65, memposisikan kita semua adalah korban,  yaitu korban manipulasi informasi.

 

22. Jan, 2019

 Foto: Hoog water voor een huis met bomen te Donggala op Celebes (Tumbuhan air (Bakau) di Donggala.

 

Hutan Bakau  atau  hutan Manggrove,   merupakan  tanaman  pesisir yang memiliki nama latin  Rhizophora,  secara  ekologis tanaman Bakau  berfungi sebagai pelindung pantai,.

Dalam banyak kasus, hutan Bakau melindungi kawasan pesisir dari terjangan badai, angin topan atau tsunami sekalipun. Karena ekosistem ini mampu menyesap air dalam jumlah besar dan dengan begitu mencegah banjir. "Akar dan dahan bakau menahan gelombang air," kata Femke Tonneijck dari organisasi lingkungan Wetlands International.

Pada peristiwa  Tsunami di Teluk Palu (28/09/2018), Bakau   mampu menjadi benteng terakhir atas gelombang tsunami yang menerjang  Kelurahan Kabonga Besar  dan Kabonga kecil di Kecamatan Banawa,  Kabupaten Donggala.

 Menurut Pengamat bencana Universitas Tadulako Drs. Abdullah dalam  diskusi  Penataan ruang  untuk mitigasi bencana menuturkan pentingnya hutan Bakau di pesisir Teluk Palu.

“Kita lihat  Kabonga, di sana cuma enam   orang korban  dan  rumah yang rusak tidak sampai  sepuluh, itupun hanya  bangunan semi permanen, itu karena Bakaunya masih padat, ”

Bakau dalam  bahasa kaili disebut Popa dan Banggo, Jejak hutan bakau di Teluk Palu  selain meninggalkan  beberapa tumbuhan Bakau yang masih tersisa, juga meninggalkan  toponimi  (penamaan daerah)  yang disebut Kale. Sejatinya Kale berasal dari kata Kale Popa yang berarti  Akar Bakau.

Kale terletak di daerah pesisir Kelurahan Layana Indah, Kecamatan  Matikulore, Kota Palu. Kale menjadi daerah terdampak saat tsunami menerjang    Teluk Palu, 28 September yang lalu,   pada tahun 1980-an hutan Bakau di sana telah beralih fungsi menjadi rumah-rumah penduduk.

Mohamad Syarif,  salah seorang pemilik lahan di Kale menuturkan kisah tentang  hutan Bakau di Kale.

 “ Dahulu hutan Bakau masih banyak di sini, mulai dari Salu Bai yang sekarang  menjadi Kompleks Pergudangan  sampai di depan Kebun Sari, waktu itu saya masih kelas tiga SD, sekitar tahun 1980-an”

 Situasi  hutan Bakau di  Pesisir Timur Teluk Palu terlihat  pada  dokumentasi  Foto Marine Luchtvaart Dienst Indië, tanggal 25 desember 1946 yang termuat  di laman  KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dengan judul; ”Luchtopname van Paloe, Midden-Celebes, yang artinya Foto Udara Palu, Sulawesi Tengah.

Menurut data yang ada, Eksploitasi Hutan Bakau dimulai tahun 1980-an, Kayu Hutan Bakau menjadi komoditas Ekspor andalan Provinsi Sulawesi Tengah, puncaknya tahun 1987, Ekspor Kayu Manggrove mencapai angka  19.320  meter kubik atau senilai  $ 613.798,961.

 

 Berikut  data Ekspor  Kayu Bakau  Sulawesi Tengah  tahun 1981-1990.

 1981: 1.179,49 M3 senilai  $23.589,80

1982: 1.107, 31 M3 senilai $ 22.146,16

1983: 3.136,92 m3 Senilai  $ 62.738,36

1984: 10.156,08 M3 Senilai $ 288.336,90

1985: 5.263,73 M3  Senilai $ 167.229, 40

1986: 12.244 M3

1987: 19.320 M3

1988: 3.250 M3

1989: 4.502 M3

 

 

4. Jan, 2019

Foto: Tampak atas daerah Kaombona.

Gempa dan tsunami yang menerjang Teluk Palu,  1 Desember 1927, menyisakan sedikit penamaan wilayah terdampak di Pesisir  Teluk Palu. Kaombona, begitu penduduk Lokal “Kaili” menyebutnya,  Kaombona berasal dari Kata  Na’ Ombo, Donna Evans menuliskan arti Kata Na’Ombo dalam Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Ingggris yang disusunnya, “ naombo adj. 1) tercekung; runtuh. cave it; sunken; collapse inward as an old building; collapse inward”.

 

Di dalam  memori kolektif  masyarakat Teluk Palu, penyebutan Kaombona  berawal dari turunnya permukaan tanah di sekitar pesisir Teluk Palu  yang  diakibatkan  gempa dengan  kekuatan 6,5  SR, pada hari Kamis,  1 Desember 1927 Pukul; 12.37 Wita. Menurut data BMKG,  pusat gempa saat itu berada di 119,5 BT dan 0.5 LS .

 

Pewarta  Koran De Telegraaf ( Minggu, 4/12/ 1927), menuliskan berita bertajuk: “HEVIGE AARDBEVING TE DONGGALA” (Gempa Bumi Dahsyat di Donggala), menyebabkan  kerugian 50.000 gulden  serta korban  meninggal 14 orang dan korban luka-luka 50 Orang.

Ahmad Arif dan Azwin Rizal Harahap  dalam Tulisannya  yang berjudul “Hikayat Runtuhnya Tanah Runtuh” mengutip  Data  Novosibirsk Tsunami Laboratory bekerja sama dengan World Agency for Planetary Monitoring and Earthquake Risk Reduction (2007), menunjukkan saat itu,  tinggi tsunami mencapai 15 meter. Dasar laut juga mengalami penurunan sedalam 12 meter.

Penurunan permukaan tanah sedalam 12 meter itulah  menjadi cikal bakal penamaan daerah tersebut  dengan sebutan Ka ‘Ombona, Secara spesifik  lokasi “Kaombona” berada di Pesisir,  dimulai dari  Rumah Makan Heni Putri Kaili sampai ke Lokasi  Polsek Palu Timur ( Lokasi eks sirkuit cross Tana Runtu).

Penyebutan Kaombona mulai pudar pada era 1970-an,   saat  itu  disekitar lokasi Kaombona  (saat ini telah menjadi Showroom dealer Mobil   Hadji Kalla) dijadikan  arena Mottocross yang dikenal dengan Sirkuit Tana Runtu,  penamaan  sirkuit “TanaRuntu” bersinonim dengan kata Ka’ Ombona, yang bermakna permukaan tanah yang turun.

Sejak 1972 sampai tahun 2000-an  berbagai gelaran even  Mottocross semakin membenamkan penyebutan  nama Ka’ombona, hingga timbul  keinginan  Pemerintah Kota Palu, menamakan Hutan Kota  di Sekitaran lokasi MTQ dengan nama Hutan Kota Ka’Ombona, inisiatif itu sejatinya  kembali mengangkat  nama Ka’ombona walau sebetulnya penamaan itu adalah sesuatu yang  ahistoris.
.

3. Jan, 2019

Foto: Peta Pesisir Teluk Palu, 1899.

Kumbili merupakan  nama tua dari Kayumalue, penamaan Kumbili  diambil dari nama pohon yang hanya hidup di daerah itu, selain tak bisa tumbuh di tempat lain, pohon kumbili memiliki siklus hidup yang sangat unik, karena hanya tumbuh dalam  waktu beberapa tahun, lalu puluhan tahun kemudian mati, dan hidup lagi.

Kumbili yang selanjutnya berubah nama menjadi Kayumalue, sedari dulu merupakan wilayah yang kaya akan cerita kesejarahan, bukan saja cerita  bertema Patriotisme, karena Kayumalue dikenal sebagai tempat pecahnya Perang Kerajaan Palu dan Kolonial Hindia Belanda (1888) yang dikenal dengan  peristiwa Kagegere kapapu Nu Kayumalue. Sejarah Kebencanaan pun menyebut Kumbili (Kayumalue) merupakan  daerah yang selamat dari amukan tsunami 20 Mei 1938.

Kayori ( sastra Lisan Suku Kaili) menggambarkan Kejadian Tsunami 1938 dimana Kayumalue menjadi satu-satunya daerah yang selamat di Teluk Palu dari ganasnya Gelombang tsunami, oleh masyarakat Kayumalue  Kayori itu diyakini terucap dari mahluk astral “Ular berkepala dua”  sebagaimana  bunyi syairnya;

                Goya-goya Gantiro

                To’ Kabonga Loli’o

                Palu, Tondo, Mamboro Na’ Toyomo

                Kayumalue Melantomo.

 

Artinya: Gempa  Bumi di Ganti (Banawa),

dirasakan juga oleh Orang Kabonga dan Loli.

Palu, Tondo dan Mamboro telah tenggelam (Tsunami), hanya Kayumalue  yang terapung (Selamat dari tsunami).

 

Syair Kayori  gempa dan tsunami 1938  kemudian menjadi ingatan kolektif masyarakat Kayumalue. Bahkan  pada saat bencana 28 September 2018, tak sedikit orang yang  mengaevakuasi diri dan keluarga mereka  menuju Kayumalue, mereka yakin bahwa Kayumalue merupakan daerah  evakuasi yang aman, sebagaimana kejadian tsunami 1938.