Panggare Nu'Manu

22. Jan, 2019

 Foto: Hoog water voor een huis met bomen te Donggala op Celebes (Tumbuhan air (Bakau) di Donggala.

 

Hutan Bakau  atau  hutan Manggrove,   merupakan  tanaman  pesisir yang memiliki nama latin  Rhizophora,  secara  ekologis tanaman Bakau  berfungi sebagai pelindung pantai,.

Dalam banyak kasus, hutan Bakau melindungi kawasan pesisir dari terjangan badai, angin topan atau tsunami sekalipun. Karena ekosistem ini mampu menyesap air dalam jumlah besar dan dengan begitu mencegah banjir. "Akar dan dahan bakau menahan gelombang air," kata Femke Tonneijck dari organisasi lingkungan Wetlands International.

Pada peristiwa  Tsunami di Teluk Palu (28/09/2018), Bakau   mampu menjadi benteng terakhir atas gelombang tsunami yang menerjang  Kelurahan Kabonga Besar  dan Kabonga kecil di Kecamatan Banawa,  Kabupaten Donggala.

 Menurut Pengamat bencana Universitas Tadulako Drs. Abdullah dalam  diskusi  Penataan ruang  untuk mitigasi bencana menuturkan pentingnya hutan Bakau di pesisir Teluk Palu.

“Kita lihat  Kabonga, di sana cuma enam   orang korban  dan  rumah yang rusak tidak sampai  sepuluh, itupun hanya  bangunan semi permanen, itu karena Bakaunya masih padat, ”

Bakau dalam  bahasa kaili disebut Popa dan Banggo, Jejak hutan bakau di Teluk Palu  selain meninggalkan  beberapa tumbuhan Bakau yang masih tersisa, juga meninggalkan  toponimi  (penamaan daerah)  yang disebut Kale. Sejatinya Kale berasal dari kata Kale Popa yang berarti  Akar Bakau.

Kale terletak di daerah pesisir Kelurahan Layana Indah, Kecamatan  Matikulore, Kota Palu. Kale menjadi daerah terdampak saat tsunami menerjang    Teluk Palu, 28 September yang lalu,   pada tahun 1980-an hutan Bakau di sana telah beralih fungsi menjadi rumah-rumah penduduk.

Mohamad Syarif,  salah seorang pemilik lahan di Kale menuturkan kisah tentang  hutan Bakau di Kale.

 “ Dahulu hutan Bakau masih banyak di sini, mulai dari Salu Bai yang sekarang  menjadi Kompleks Pergudangan  sampai di depan Kebun Sari, waktu itu saya masih kelas tiga SD, sekitar tahun 1980-an”

 Situasi  hutan Bakau di  Pesisir Timur Teluk Palu terlihat  pada  dokumentasi  Foto Marine Luchtvaart Dienst Indië, tanggal 25 desember 1946 yang termuat  di laman  KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dengan judul; ”Luchtopname van Paloe, Midden-Celebes, yang artinya Foto Udara Palu, Sulawesi Tengah.

Menurut data yang ada, Eksploitasi Hutan Bakau dimulai tahun 1980-an, Kayu Hutan Bakau menjadi komoditas Ekspor andalan Provinsi Sulawesi Tengah, puncaknya tahun 1987, Ekspor Kayu Manggrove mencapai angka  19.320  meter kubik atau senilai  $ 613.798,961.

 

 Berikut  data Ekspor  Kayu Bakau  Sulawesi Tengah  tahun 1981-1990.

 1981: 1.179,49 M3 senilai  $23.589,80

1982: 1.107, 31 M3 senilai $ 22.146,16

1983: 3.136,92 m3 Senilai  $ 62.738,36

1984: 10.156,08 M3 Senilai $ 288.336,90

1985: 5.263,73 M3  Senilai $ 167.229, 40

1986: 12.244 M3

1987: 19.320 M3

1988: 3.250 M3

1989: 4.502 M3

 

 

4. Jan, 2019

Foto: Tampak atas daerah Kaombona.

Gempa dan tsunami yang menerjang Teluk Palu,  1 Desember 1927, menyisakan sedikit penamaan wilayah terdampak di Pesisir  Teluk Palu. Kaombona, begitu penduduk Lokal “Kaili” menyebutnya,  Kaombona berasal dari Kata  Na’ Ombo, Donna Evans menuliskan arti Kata Na’Ombo dalam Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Ingggris yang disusunnya, “ naombo adj. 1) tercekung; runtuh. cave it; sunken; collapse inward as an old building; collapse inward”.

 

Di dalam  memori kolektif  masyarakat Teluk Palu, penyebutan Kaombona  berawal dari turunnya permukaan tanah di sekitar pesisir Teluk Palu  yang  diakibatkan  gempa dengan  kekuatan 6,5  SR, pada hari Kamis,  1 Desember 1927 Pukul; 12.37 Wita. Menurut data BMKG,  pusat gempa saat itu berada di 119,5 BT dan 0.5 LS .

 

Pewarta  Koran De Telegraaf ( Minggu, 4/12/ 1927), menuliskan berita bertajuk: “HEVIGE AARDBEVING TE DONGGALA” (Gempa Bumi Dahsyat di Donggala), menyebabkan  kerugian 50.000 gulden  serta korban  meninggal 14 orang dan korban luka-luka 50 Orang.

Ahmad Arif dan Azwin Rizal Harahap  dalam Tulisannya  yang berjudul “Hikayat Runtuhnya Tanah Runtuh” mengutip  Data  Novosibirsk Tsunami Laboratory bekerja sama dengan World Agency for Planetary Monitoring and Earthquake Risk Reduction (2007), menunjukkan saat itu,  tinggi tsunami mencapai 15 meter. Dasar laut juga mengalami penurunan sedalam 12 meter.

Penurunan permukaan tanah sedalam 12 meter itulah  menjadi cikal bakal penamaan daerah tersebut  dengan sebutan Ka ‘Ombona, Secara spesifik  lokasi “Kaombona” berada di Pesisir,  dimulai dari  Rumah Makan Heni Putri Kaili sampai ke Lokasi  Polsek Palu Timur ( Lokasi eks sirkuit cross Tana Runtu).

Penyebutan Kaombona mulai pudar pada era 1970-an,   saat  itu  disekitar lokasi Kaombona  (saat ini telah menjadi Showroom dealer Mobil   Hadji Kalla) dijadikan  arena Mottocross yang dikenal dengan Sirkuit Tana Runtu,  penamaan  sirkuit “TanaRuntu” bersinonim dengan kata Ka’ Ombona, yang bermakna permukaan tanah yang turun.

Sejak 1972 sampai tahun 2000-an  berbagai gelaran even  Mottocross semakin membenamkan penyebutan  nama Ka’ombona, hingga timbul  keinginan  Pemerintah Kota Palu, menamakan Hutan Kota  di Sekitaran lokasi MTQ dengan nama Hutan Kota Ka’Ombona, inisiatif itu sejatinya  kembali mengangkat  nama Ka’ombona walau sebetulnya penamaan itu adalah sesuatu yang  ahistoris.
.

3. Jan, 2019

Foto: Peta Pesisir Teluk Palu, 1899.

Kumbili merupakan  nama tua dari Kayumalue, penamaan Kumbili  diambil dari nama pohon yang hanya hidup di daerah itu, selain tak bisa tumbuh di tempat lain, pohon kumbili memiliki siklus hidup yang sangat unik, karena hanya tumbuh dalam  waktu beberapa tahun, lalu puluhan tahun kemudian mati, dan hidup lagi.

Kumbili yang selanjutnya berubah nama menjadi Kayumalue, sedari dulu merupakan wilayah yang kaya akan cerita kesejarahan, bukan saja cerita  bertema Patriotisme, karena Kayumalue dikenal sebagai tempat pecahnya Perang Kerajaan Palu dan Kolonial Hindia Belanda (1888) yang dikenal dengan  peristiwa Kagegere kapapu Nu Kayumalue. Sejarah Kebencanaan pun menyebut Kumbili (Kayumalue) merupakan  daerah yang selamat dari amukan tsunami 20 Mei 1938.

Kayori ( sastra Lisan Suku Kaili) menggambarkan Kejadian Tsunami 1938 dimana Kayumalue menjadi satu-satunya daerah yang selamat di Teluk Palu dari ganasnya Gelombang tsunami, oleh masyarakat Kayumalue  Kayori itu diyakini terucap dari mahluk astral “Ular berkepala dua”  sebagaimana  bunyi syairnya;

                Goya-goya Gantiro

                To’ Kabonga Loli’o

                Palu, Tondo, Mamboro Na’ Toyomo

                Kayumalue Melantomo.

 

Artinya: Gempa  Bumi di Ganti (Banawa),

dirasakan juga oleh Orang Kabonga dan Loli.

Palu, Tondo dan Mamboro telah tenggelam (Tsunami), hanya Kayumalue  yang terapung (Selamat dari tsunami).

 

Syair Kayori  gempa dan tsunami 1938  kemudian menjadi ingatan kolektif masyarakat Kayumalue. Bahkan  pada saat bencana 28 September 2018, tak sedikit orang yang  mengaevakuasi diri dan keluarga mereka  menuju Kayumalue, mereka yakin bahwa Kayumalue merupakan daerah  evakuasi yang aman, sebagaimana kejadian tsunami 1938.

2. Jan, 2019

Foto: Kondisi Bangunan di Kota Salakan setelah Gempa 04/05/2000 dan Bupati Banggai (Hi. Sudarto, SH.) saat menemui Korban di tempat pengungsian.

Bencana  Gempa dan Tsunami Kabupaten Banggai terjadi pada hari Kamis, tanggal  4 Mei 2000, pukul 12:21 WITA., dengan kedalaman 26 KM (16 mil) berpusat di 1,356 Lintang Selatan  dan  123, 57 Bujur Timur ( Kompas, 5 Mei 2000).

Gempa   Banggai  4/05/2000, menurut data Badan Geologi Amerika Serikat  berkekuatan 7,6 Mw (Magnitudo Moment),  memicu gelombang tsunami  3 m, dengan gempa susulan sebanyak 9 kali.

 Gempa dirasakan sampai ke Toli-toli, Menado, Gorontalo, Palu dan Ternate dengan intensitas II-IV MMI, sedangkan di Luwuk  besaran Intensitas gempa VI-VII MMI ( Modified Mercally Intensity).

Pewarta Kompas  tanggal 05/05/2000 menuliskan, tiga korban tewas di Luwuk, empat orang lainnya mengalami luka-luka akibat tertimpa bangunan. Akibat getaran gempa di Luwuk, beberapa bagian bangunan pada Kantor Bupati Banggai, Gedung BRI, dan Mesjid Darussalam mengalami kerusakan.

Sementara di Desa Ponding-ponding, Kecamatan Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan terdapat sedikitnya 60 rumah ambruk, dua unit bangunan SMP, sebuah bangunan SD, Kantor Diknas Kecamatan, sebuah masjid, sebuah gereja, dan dua dermaga. Kerusakan bangunan yang sama parahnya terjadi di Kecamatan Balantak.

Tsunami  menenggelamkan 2 Desa di Pulau Peling (94 Km arah Tenggara Luwuk), Desa tersebut adalah Kayuntayo dan  Uwedikum dengan korban tewas sebanyak 9 orang. Di Koran yang sama edisi tanggal  9  Mei 2000, menuliskan   akibat gempa dan tsunami sekitar  700 KK atau 3.000 warga Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) melakukan eksodus ke Luwuk. Pemberitaan selanjutnya tanggal 20 Mei 2000 kembali pewarta Kompas menuliskan ;  Di Kabupaten Bangkep, sekitar 26.682 jiwa pengungsi tersebar di tempat penampungan, yakni Lapangan Trikora Salakan (sekitar 3.548), Pelabuhan Penyeberangan Salakan dan di jalan-jalan (sekitar 3.365), Lapangan Sepak bola Totikum (sekitar 13.980), dan Lapangan Sepak bola Banggai (sekitar 5.789 jiwa). Sementara di Kabupaten Banggai terdapat sedikitnya 13.000 jiwa pengungsi tersebar di Kecamatan Luwuk (sekitar 4.450), kecamatan Lamala (sekitar 3.678), Kecamatan Balantak (sekitar 4.760), dan Gedung Nasional Luwuk (sekitar 205 jiwa).

Korban Gempa  dan Tsunami  Banggai 4 Mei 2000  secara keseluruhan  menewaskan 54 Orang dan 264 orang Luka-luka.

Penyebab Gempa Banggai

Daryono (BMKG) menuliskan  bahwa Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah merupakan bagian dari kerangka sistem tektonik Indonesia. Daerah ini terletak pada zona “triple junction”, terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik, sehingga ketiganya bertumbukan mengakibatkan Daerah Banggai sebagai salah satu daerah yang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi di Indonesia.

Daryono juga mengutip pendapat Steve, J.M. and Moyra E.J.W., 1998, (Biogeographic Implication of the Tertiary paleogeaographic evolution of Sulawesi and Borneo, SE Asia Research Group, University ofTechnology, Perth, Australia):   “Struktur Sesar Naik Balantak, Sesar Naik Batui, Sesar Naik Sangihe Timur dan Sesar Naik Sorong Utara, Sesar Naik Sula, Sesar Matano dan Sesar Sorong Utara merupakan generator gempabumi yang berpotensi mengguncang wilayah Kabupaten Banggai dan sekitarnya”

Testimoni Rehabilitasi Gempa dan Tsunami Banggai

Alm. H. Sudarto, SH, M.Hum. dalam bukunya “ H.Sudarto, SH, Karir Kepemimpinan, Demokrasi, Reformasi dan Otonomi Daerah” (2001) susunan Haryanto Djamulang menuliskan  pengalamannya sebagai Bupati Banggai  (1996-2001) kala peristiwa  4/5/2000,; “Guna membantu mengatasi bencana gempa bumi, pemerintah Kabupaten Banggai telah memperoleh bantuan dari berbagai pihak baik pemerintah pusat, Provinsi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat serta pihak-pihak yang bersimpati,  walaupun saya selalu dituding “over acting” , saya berprinsip ini adalah  masalah kemanusiaan, dan siapa saja yang mampu  wajib hukumnya untuk saling membantu”

Pun demikian Komandan Kompi Senapan A/711 Raksatama Kapten (Inf) Sudaryono menuturkan pada pewarta Kompas (Jumat, 20 Mei 2000); ‘“Kami menyatakan terbuka untuk menampung para pengungsi yang membutuhkan tempat. Bila perlu mereka kami tempatkan di barak-barak prajurit yang dapat menampung sekitar 400 jiwa,”.

 

 

 

28. Des, 2018

Foto: Laporan Belanda, tentang wabah Diare  di Palu, Poso, Menado dan Kwandang, tahun 1916.

Undang-Undang  Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan  bencana mendefinisikan Bencana sebagai  peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Produk legislasi itu  mengkategorikan jenis- jenis bencana menjadi  3 kelompok, yaitu; bencana alam, bencana Non alam dan becana sosial.

Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Sejarah bencana non alam di  Palu, Sigi dan Donggala terekam melalui sejumlah arsip dan cerita (Oral History),  bahkan beberapa kasus  menjadi perhatian khusus pemerintah Kolonial Hindia Belanda di masanya

Berikut  peristiwa  bencana  non alam  berupa penularan penyakit  yang menyerang penduduk Lembah Palu dalam lintasan sejarah;

Gondok.

Penyakit Gondok (struma) adalah pembengkakan di leher (laring) karena kelenjar tiroid yang membesar. Gondok Banyak diderita penduduk Lembah Palu, khususnya yang mendiami  dataran tinggi, sebuah  dokumentasi foto Hindia Belanda hasil jepretan Albert Grubauer, di akhir abad ke-19, menggambarkan   salah satu daerah yang banyak penderita  Gondok adalah Kampung Saluboku di Sulawesi tengah.

Disentri.

Awal Abad ke-20, tepatnya tahun 1916-1917, Lembah Palu terserang wabah penyakit disentri, kejadian  luar biasa ini membuat pemerintah Kolonial harus mengeluarkan peringatan khusus,  tentang  bahaya disentri, wabah penyakit itu kemudian menjadi asbab meninggalnya anak Jodjokodi yang bernama La Pariusi (Ayah dari Djanggola), menurut Andi Alimuddin Rauf ; “cerita yang diturunkan dari Ibunya saat itu banyak Orang yang meninggal, jika ada  jenazah yang akan dimakamkan, beberapa saat kemudian ada lagi yang meninggal, bahkan ada lokasi kuburan massal di Kampung Lere waktu  itu” ,  beliau melanjutkan tentang wafatnya  La Pariusi ; “  Kenapa Bapak dari Djanggola  (La Pariusi) dimakamkan di dekat Masjid Lere bukan di  Tangga Banggo, Siranindi?  karena  wabah disentri saat itu, orang-orang ketakutan untuk keluar dari rumah”.

Dalam Dokumen  tertanggal  28 April 1917, pemerintah Hindia Belanda melalui Residen Menado, menjadikan wabah Disentri menjadi perhatian khusus di Midden Celebes, wabah disentri saat itu diinformasikan  telah menjangkit  di Poso , Menado, Kwandang dan Bolaang Mongondow sedangkan penyebabnya  berasal dari  kotoran hewan (Kerbau dan Kuda).

 

 

Flu Spanyol

Penyakit Flu Spanyol Menjadi Bencana Dunia pada tahun 1918, menurut virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai "The Mother of All Pandemics” hal itu karena kedahsyatan penyebarannya, penyakit yang diyakini berasal dari Camp Funston dan Haskell County (Kansas) Amerika Serikat itu dibawa oleh buruh Tiongkok dan Vietnam yang dipekerjakan militer Inggris dan Perancis selama Perang Dunia I (PD I). pandemi bermula di Swedia atau Rusia lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara. Virus  flu Spanyol membinasakan sepertiga populasi dunia.

Bulan Oktober-Desember 1918 virus Flu Spanyol mewabah sampai ke Lembah Palu, sebelumnya  Virus itu telah sampai ke Jawa dan Sumatera,  menurut pemberitaan surat kabar Soerabaia diperkirakan 1,5 juta penduduk Hindia menjadi korban virus flu spanyol,  di dalam dokumen Belanda  menguraikan bahwa Virus Flu Spanyol  menjadi penyebab kematian Raja Kulawi  Tomampe ( Toma I Masi),  masih di dalam laporan yang sama virus Flu Spanyol juga menjangkiti Raja Palu yang bernama Parampasi , di Nisan Magau  (Raja) Parampasi, bertuliskan ” " Kaanat Wafat (Telah Wafat),Parampasi Magau Palu, 12 Rabiul Awal Sanata , 1337 Hijriah”   bila  dikonversi  ke dalam penanggalan Masehi menjadi,  16 Desember 1918.

 

Lepra (Kusta)

Penyakit Lepra atau kusta oleh Masyarakat Kaili disebut dengan Lampa Vau, sejak tahun 1920-an, Penyakit Lampa Vau telah mewabah  di Lembah Palu, di dalam catatan Kolonial, tahun 1933 telah dibangun sebuah Sanatorium (Leprozarie)  di Watusampu,  penyakit  yang disebabkan Mycobacterium leprae ini pada awalnya disebut sebagai penyakit kutukan, karenanya penderita Kusta  disembunyikan  bahkan dijauhi dalam pergaulan sosial.

Tahun 1942 penularan  Penyakit Lepra menjadi meluas, sesuai dengan dokumentasi foto NMVW, yang menggambarkan sejumlah warga Watusampu penderita lepra di kumpulkan, untuk didata dan diobati, selanjutnya tahun 1960-an pemerintah,  medirikan  tempat penderita penyakit Kusta/lepra di daerah Kawatuna (Sekarang  menjadi AKPER),  eksistensi Sanatorium Kawatuna digunakan sampai  akhir  tahun 1980-an.

Flu Mao

Penyakit Flu mao mewabah di Palu tahun 1970, seperti yang dilansir surat  kabar Sulteng Pos, tanggal  10 Januari 1970, virus Flu Mao menyerang warga Kota Palu setelah merayakan Natal, Tahun Baru serta Lebaran yang  jatuh  pada waktu yang berdekatan.

Dikabarkan saat itu Warga Kota Palu tidak dapat keluar rumah dan hanya tiduran saja, karena Flu Mao menyerang persendian yang diikuti demam serta muntah-muntah.Wabah Flu Mao pun menjangkit sampai ke daerah Donggala.

Demikian beberapa  wabah penyakit di Lembah Palu yang terekam dalam  ingatan, semoga kita semakin memperhatikan kebersihan serta menjaga  pola hidup yang higienies setelah terjadi bencana 28/09/2018, untuk menghindari mewabahnya penyakit setelah bencana.