8. Sep, 2016

Teks

PERANG KAYUMALUE ( Ka Pa'pu Nu Kayumalue)

berdasarkan catatan yang ditemukan pada tahun 1941 bertuliskan huruf Bugis di rumah panggung milik keluarga Yundalemba di Kelurahan Besusu tentang tahun kejadian perang di Kayumalue. Di dalamnya secara singkat diceritakan sebagai berikut.
Tahun 1884, kapal perang Belanda dari Manado melakukan pengintaian pertamanya di daerah yang sekarang masuk wilayah Palu. Pengintaian dilakukan selama berbulan-bulan dengan bantuan mata-mata.
Tahun 1885 terjadi pertikaian antara Raja Tavaili dengan Raja Kayumalue. Penyebanya sepele, yaitu terkait diadakannya perhelatan adapt secara besar-besaran dengan memasang umbul-umbul (ula-ula) sebagai perhiasan meresmikan pesta adat. Dengan bantuan Mangge Risah (Raja Maili) dan Daeng Mambani (keturunan Pue Bongo tertua) maka diambillah ula-ula peninggalan Pue Bongo tertua dari Bangga. Nama ula-ula itu adalah Garupa yang artinya segala macam warna. Panjang ula-ula itu 20 meter.
Raja Tavaili tidak senang melihat ula-ula itu da merasa dikecilkan. Menurut para orang tua, masalah itu selesai secara kekeluargaan.
Akan tetapi, Belanda mengambil kesempatan dengan menghasud kedua belah pihak sampai akhirnya terjadi perang Kayumalue pertama tahun 1886. Belanda berpihak di salah satunya, dan terus memanas-manasi hingga terjadi lagi perang yang kedua tahun 1887 di Loji.
Menyadari kejadian itu, Raja Maili dan Daeng Mambani sebagai pemimpin perlawanan, menyadari tidak ada gunanya berkelahi antar sesame, yang akhirnya memutuskan berperang dengan Belanda. Maka terjadilah perang Kayumalue yang ketiga pada tahun 1888. Kapal-kapal Belanda menembak dengan meriam dan mendaratkan Petoro (serdadu Belanda) untuk membungi hanguskan Kayumalue.
Kurang lebih tiga tahun, masuklah Belanda dan menguasai daerah Kayumalue tanpa ada perlawanan yang berarti. Dalam peperangan melawan Belanda, Raja Maili terdesak dan akhirnya pergi ke Bangga dengan mengendarai kuda untuk meminta bantuan kepada pamannya Rundalemba, Sisilemba, Penewali Sasaralemba untuk menggunakan tiga senjata peninggalan portugis, yaitu Sobende, Tarakolo, dan Matampuku. Tidak diketahui persis, apakah nama senjata itu merupakan bahasa portugis.
Akhirnya bantuan datang dari Dolo – Kaleke yang dipimpin oleh Raja Yolulemba bersama anaknya Datu Pamusu, datu Palinge yang saat itu masih sangat muda, yaitu sekitar 21 tahun.
Tidak hanya itu, bantuan juga datang dari Bulubale, Kabonga, Loli, Lambagu (Pantoloan), Vatutela, Besusu-Tatanga, bahkan Parigi pun ikut membantu. sumber Tajuk pembaca Harian mercusuar19 oktober 2010