9. Sep, 2016

Teks

KERAJAAN TATANGA

Sumber :http://curcollogi.blogspot.co.id

Berdasarkan catatan lontara yang ditulis Badrun Arif, antara lain menuliskan ; masa Kemadikaan Tatanga dinyatakan 58 tahun sebelum Perjanjian Bongaya (18 November 1667). Namun dalam Lontara itu, tidak disebutkan siapa – siapa nama madika yang memerintah Tatanga.
Hanya disebutkan, masa Kemadikaan Tatanga berlangsung selama 104 tahun, dari tahun 1609 hingga tahun 1713.

Dalam catatan Madika Malolo Tatanga, Amir Kasa tahun 1903 di kulit bambu dalam huruf bugis, tercantum masa kebaligauan (Baligau : sebutan untuk raja) berlangsung selama 46 tahun sesudah Perjanjian Bongaya, antara Belanda – VOC dengan Kerajaan Goa.
Baligau di Tatanga  mengepalai wilayah yang disebut Patanggota (empat wilayah), yang meliputi Bulili (Birobuli), Lekatu, Maravola (sekarang disebut Marawola) dan Vau (Vou). Masing-masing nggota (wilayah) dikepalai oleh Magau. Namun dari masa 1609 – 1713, Kerajaan Tatanga membawahi valunggota (delapan nggota/ngata/wilayah).
Nama – nama Baligau yang memimpin Kerajaan Tatanga periode 1713 – 1903 (atau selama 190 tahun) atau hingga awal masuknya penjajah Belanda ke Lembah Palu adalah;
Busilemba        : 27 tahun.
Bekalemba         : 23 tahun.
Mo Esabulava (ratu) : 31 tahun.
Kalonjogu         : 27 tahun.
Lasatumpagi        : 25 tahun.
Lasarata                : 19 tahun.
Maebunga (ratu)    : 10 tahun.
Lasatandedunia      : 20 tahun.
Rangginggamagi (ratu) : 8 tahun.
 Sedangkan susunan personalia pemerintahan Tatanga dibawah kepemimpinan Ratu Ranggigamagi (1895 – 1903) terdiri atas sebagai berikut; Baligau (ratu) ialah Ranggigamagi, Madika Malolo (kepala pemerintahan) Amir Kasa, Punggava (komandan pasukan) Gonurante, Pabisara (juru bicara) Latorampe, Galara (hakim) Ritulero, dan Tadulako (panglima) Songgolangi.
Dimasa pemerintahan Ratu Ranggigamagi itulah terjadi peperangan melawan pasukan (marsose) Belanda di lembah Palu. Tatanga mempersiapkan bentengnya masing-masing di Ngata (kota) Tatanga, Lelonggarata dan Bulili (Birobuli).

Pada hari Kamis 7 September 1903, Ratu Tatanga ditangkap Belanda di Uvempomata (Palupi). Sedangkan pasukan Belanda yang menyerang Tatanga dipimpin oleh Letnan Voskuil. Ikut ditangkap serta bersama Ratu Ranggigamagi, sang suami ratu bernama Lingijombu, Madika Malolo Amir Kasa, dan lima orang Tadulako masing-masing Ritulero, Gonurante, Latorampe, Kundu dan Sambali.
Oleh Belanda, Ratu Ranggigamagi bersama pengikutnya diasingkan ke Pulau Nusakambangan (Jawa Tengah), dan pada tahun 1909 sang wanita pahlawan dari Tana Kaili dipindahkan sebagai tawanan di Semarang.
Kemudian pada tahun 1912, beberapa orang panglima (Tadulako) oleh Belanda dikembalikan ke Palu. Masing-masing adalah Kundu, Tadalemba, dan Rusapande. Dari ketiganya itulah diperoleh kabar tentang keadaan Ratu Tatanga bersama dengan suami serta beberapa teman lainnya di dalam penjara Belanda, ditempat pembuangan di Pulau Jawa.
Pada tahun 1907, rakyat Tatanga, sekali lagi dibawah pimpinan Tadulako Songgolangi, Tadulako Lacedadu dan Tadulako Sendatina dengan gagah berani melakukan serangan terhadap Belanda..
Hasilnya, satu regu pasukan Belanda berhasil dihancurkan, namun Tadulako Songgolangi dan teman-temannya berhasil ditawan Belanda, yang kemudian dipancung lehernya, lalu kepalanya dibawa ke Siranindi dan digantung di Baruga Tanggabanggo.
Sedangkan Tadulako lainnya disiksa dan dipenjarakan di Kota donggala. Pertempuran kedua terjadi di bekas Benteng Tatanga di Bulili (Birobuli).
Setelah itu, Belanda menghapuskan pemerintah Tatanga, dan kemudian disatukan menjadi kerajaan Palu.
Konon, peninggalan kerajaan Tatanga yang masih tersimpan adalah Toko Polanti atau semacam tombak trisula yang biasa digunakan untuk melantik para raja. Tiga mata Toko Polanti merupakan symbol persaudaraan tiga kerajaan kaili, masing-masing Kerajaan Sigi, Kerajaan Parigi dan Kerajaan Tatanga.
Untuk mengukuhkan persaudaraan itu, maka ada kawin-mawin antara keluarga ketiga kerajaan itu. Maka tak heran jika kemudian Raja Vinono dari Parigi kemudian kawin dengan putri kerajaan Tatanga, dan diikuti keturunan berikutnya.
Sekelumit kisah tentang patriotisme di lembah palu ini, tersusun di buku berjudul ‘’Sejarah perjuangan rakyat Kabupaten Donggala’’, disusun oleh tim perumus yang diketuai Drs H Rusdy Toana.***