6. Okt, 2016

ULA-ULA

ULA-ULA

Secara Historis Ula-ula merupakan salah satu  dari beberapa  Alat kelengkapan  yang dibawa Oleh sang penyebar Islam di tanah kaili yang lebih populer dengan nama Dato karama atau SYEKH ABDULLAH  RAQIE pada abad 17, bersama Gong kakula dan beberapa alat kesenian lainya Garupa ( Ula-ula dalam bentuk aslinya ) disebutkan dalam beberapa kisah mempunyai ukuran   belasan meter,disebutkan pula hal itu juga yang akhirnya menjadi  jalan masuk politik Belanda [ baca :devide at Empera ] untuk memecah keluarga Kerajaan Palu,Tavaili dalam peristiwa Ka Gegere kapapu Nu KayuMolue yang terjadi di daerah Kumbili  [ kayumalue saat ini ]tahun 1888.

Saatini Ula-ula yang seringkali digunakan  dalam pertanda  dimulainya acara perkawinan atau  kematian seorang madika [bangsawan ] Kaili ,terdiri dari sepasang kain berwarna kuning yang mirip  pria dan wanita  diikatkan pada sebuah bambu emas [ Volo Mbulava ] dan diletaka pada pintu masuk kediaman Madika  yang sedang berpesta atau berduka.

Prosesi Dinaikannya Ula-ula disebut  'No Patinda Ula-ula" dimulai dari pengikatan ula-ula pada bagian ujnung bambu emas yang bagian atasnya masih tersisa  sedikit ranting  dan  daun bambu, kemudian dilanjutkan  pembacaan doa khas masyarakat kaili yang disebut Gane-gane sambil mengolesi darah ternak yang sebelumnya telah disembelih dan darahnya ditampung pada wadah tertentu [dapat berupa darah,ayam,kambing,sapi atau kerbau tergantung  kemampuan sang empunya hajat ], part tersebut  masyarakat kaili menyebutnya sebagai  "Po Raa Ula-ula"atau juga disebut  Nocera Ula-ula  .mulai dari tahap awal sampai pada  berdirinya tiang ula-ula  diharuskan  agar ula-ula tak tersentuh tanah.

Ula-ula sebagai pertanda dimulainya suatu hajatan  atau  kedukaan dirumah madika,akan terpasang di sisi kanan dan kiri pintu masuk sampai beberapa hari  acara atau kedukaan tsb selesai dan hal ini  merupakan legitimasi apakah keluarga  tersebut merupakan madika atau bukan sehingga  dalam  sign strata sosialnya dapat dilihat dari kelengkapan Ula-ula tersebut dalam hajatan atau kedukaan sang empunya kediaman.