9. Okt, 2016

VULONGGO

VULONGGO

Vulonggo atau Bulonggo secara tata bahasa kaili  menurut Bapak Amilis lagaramusu [ tokoh adat Tatanga ],merupakan antitesa dari kosakata KayuLasu,jika kayulasu diibaratkan sebagai pihak bangsawan lelaki kaili  yang boleh memilih pasangan hidupnya,tetapi  Vulonggo atau bulonggo merupakan Pihak Bangsawan wanita Kaili yang harus menjaga trah bangsawannya dengan  suatu keharusan dalam memilih pasangan hidupnya guna memastikan kelangsungan trah Bangsawan tersebut,secara spesifik  kwalifikasi Vulonggo akan dinikahkan berdasarkan prosesi perkawinan adat antara 2 Ngata yang lazimnya di sebut prosesi PEBOLAI MADIKA.

Senada dengan  pendapat Pak Amilis Lagaramusu , Pak Arsyad Risa [ Sesepuh  Sigampa /Kaleke ], mendeskripsikan Vulonggo merupakan Pemurnian Keturunan bangsawan wanita yang  tidak sembarang untuk diperistri oleh seorang pria dengan selalu memperhatikan latar belakang keluarga si calon Pria,karena seorang Vulonggo nantinya akan menurunkan Magau berikutnya.

dari kedua pendapat tersebut  penulis mengambil suatu benang merah bahwa vulonggo atau bulonggo bersifat pasif dalam prosesi Nibolai sedangkan Pihak pria sebagai kayulasu bersifat aktif dalam menentukan proses pebolai,tetapi yang perlu diperhatikan  bahwa prosesi pebolai madika merupakan perkawinan 2 ngata yang diinisiasi oleh masing-masing  dewan adat kota  tersebut dan seterusnya  meminta kepada magau atau madika setempat untuk disetujui karena pada umumnya  kedua calon merupakan anak amagau atau madika setempat ( Amilis lagaramusu).