15. Okt, 2016

PAJOGE MARADIKA

PAJOGE MARADIKA

 Pajoge Maradika  secara harafiah berasal dari  dua kata yaitu Pajoge (Joge) bermakna gerakan tubuh  laksana tarian, sedangkan Maradika bermakna Bangsawan, sehingga  Pajoge maradika  dapat dimaknai  sebagai Tarian khusus bagi para Bangsawan,  Lazimnya pajoge Maradika merupakan tarian kebesaran saat pelantikan seorang Magau di kerajaan Parigi.

Pajoge Maradika ditarikan oleh wanita  wanita Bangsawan atau biasanya disebut  Madika yang terdiri 3-5 orang, dengan  iringan Instrumen Gimba, lalove dan kakula, berdasarkan Ensiklopedia Tari Indonesia   di halaman 5  , menguraikan bahwa  tarian Pajoge  merupakan Tari upacara tradisi yang bersifat hiburan, pada awalnya dilakukan oleh dayang-dayang Magau, yang disebut  tarian Pajoge Lalo dan bila penarinya  merupakan Puteri Raja  atau bangsawan (Maradika ), maka tarian  tersebut disebut Pajoge Maradika.

Pict. Penari Pajoge di kerajaan Parigi  dengan latar belakang  Rumah Magaoe  Tahun 1903

Secara historis  tarian Pajoge Lalo dan Pajoge  Maradika sudah ada dan dikenal jauh sebelum masuknya Islam di Kerajaan Parigi, yang disiarkan oleh  Syekh Asal Sumatera Barat bergelar Datoek Magaji atau To Mangaji (Seorang yang Mengaji) sekitar akhir abad 16, pada saat itu Kerajaan Parigi diperintah oleh  Magau Parigi ke -4 Langimoili tahun 1579-1602,selanjutnya seluruh gerakan tarian Pajoge disesuaikan dengan syariat islam  pada masa pemerintahan  Magau Parigi ke-6   makruf atau magau Djanggo tahun 1627-1661,yang pelantikannya dilakukan di Kerajaan Ternate.

pada tahun 1995 seorang Maestro seni  bernama Hasan Bahasjuan mematenkan koreografi tarian Pajoge dan lebih membumikannya dengan sebutan Tarian Pajoge maradika  yang ditarikan bukan  hanya terbatas pada  upacara pelantikan Magau saja tetapi lebih dikembangkan sebagai tarian pembuka atau saat penerima tamu besar di wilayah Parigi.