22. Okt, 2016

Teks

SEKILAS SEJARAH LAMAKARUMPA GUMA LEMBAH

Oleh :Rasiddiq Lamasitudju

Menurut buku silsilah kita santina Lamakarumpa adalah anak dari GumaLembah (Pue sola) dan merupakan cucu dari Latonda (magau sausu).
Di ceritakan oleh totua ri pantoloan pada masa pemerintahan Magau ke V Tawaeli yaitu Dg. Pangipi, untuk mempererat hubungan antara Tawaeli dan Sausu maka di nikahkan adik dari Magau Dg. Pangipi yang bernama Baesugi dengan Magau dari Sausu bernama Latonda yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki bernama GumaLembah dan tiga anak perempuan bernama Mane, Yalinda (Lida ntoboli), dan Kaboa.
GumaLembah sendiri mempunyai 5 orang istri. Dari istri pertama yang bernama Bolua melahirkan Borman Lembah, Panunggu, Padaula, dan Mutia kemudian Dari istri ke dua melahirkan Sipa ala, lalu dari istri ke tiga inilah lahir Lamakarumpa.
Singkat cerita suatu hari Lamakarumpa ingin mengunjungi anaknya di pantoloan karena kondisi jalan pada saat itu tidak memungkinkan melalui jalur darat, maka Lamakarumpa berserta 3 orang pengawalnya dengan atribut kerajaan yang lengkap berlayar dari Sausu dan direncanakan akan berlabuh di toboli.
Tapi di tengah pelayaran Lamakarumpa lebih dulu menghadap yang Maha Kuasa. Sementara kapal yang di tumpanginya bersama 3 orang pengawal di hantam oleh badai dan akhirnya terdampar di Desa Paranggi (kec. Ampibabo, Kab. Parigi Moutong).
Mengetahui ada keluarga bangsawan yang terdampar di Desanya akhirnya kepala desa setempat pergi ke Parigi untuk bertemu GumaLembah guna meminta agar Alm. Lamakarumpa di makamkan di Desa mereka dengan alasan karena Desa mereka tidak mempunyai seorang madika dan menurut penuturannya bahwa semuanya sudah di takdirkan bahwa beliau akan terdampar di Desa ini.
Akhirnya permintaan di setujui oleh GumaLembah dengan syarat penduduk Desa Paranggi harus merawat dan menjaga kuburan anaknya.
Alhamdulilah sampai sekarang kepala Desa memenuhi janjinya, kuburannya selalu dijaga oleh keluarga Kepala Desa secara turun temurun.
Beliau seorang laki-laki tapi menurut tradisi keluarga bangsawan yang akan di kuburkan entah itu laki-laki atau perempuan tetap menggunakan 2 batu nisan.
Di samping sebelah kanan kubur beliau dimakamkan 3 orang pengawalnya.
Terlihat dari foto, kuburan beliau sedikit lebih tinggi kurang lebih 30-40 cm dari pada kuburan lainnya.
Beliau sendiri mempunyai 2 orang anak yang bernama Lanontji (Pantoloan) dan Fatimah syah (Sausu).