24. Okt, 2016

Teks

PENELUSURAN  PUSARA MAGAU JODJOKODI,MELALUI DISKUSI SEJARAH  NTANGA EO [Baca: Sejarah tengah hari ]

Siang itu di sebuah Bengkel Mobil  yang terletak di Jl.KH.Wahid Hasyim , Kelurahan Kampung Baru, tanpa disengaja saya bersua lalu terlibat perbincangan dengan seseorang yang  sosoknya tak asing bagi saya,   kemudian saya mengistilahkan perbincangan  itu dengan sebutan “SEJARAH NTANGA  EO” [ baca ; Sejarah tengah hari ],sebenarnya durasi “sejarah ntaga Eo”tsb tidak terlalu lama hanya berkisar 45 menit , saya tak sempat menghitung  pastinya karena saat itu jam yang saya pakai mati,hehehehehe......ohh iyaa...saya lupa mengenalkan sosok sang Narasumber dalam  Epilog “Sejarah Ntaga Eo”, beliau adalah ..[ tabee saya sebut Nama beliau ] dr.Nani Djanggola, dari namanya tentunya kita sudah bisa  mereka-reka tentang  keterkaitan sang Narasumber tersebut dengan Gubernur Provinsi Sulteng  saat ini Bapk Drs.H.Longki Djanggola,M,si. Berdasarkan silsilah yang ada sang Narasumber [dr.Nani Djanggola]  merupakan kakak kandung dari bapak Gubernur atau  yang akrab dipanggil Pak Longki,sedangkan dikalangan  orang tua kami sang narasumber  mempunyai panggilan “DOKTORO ” saya juga tak mengerti asal mula panggilan itu tetapi  pendapat saya kemungkinan karena beliau  mempunyai titel dokter sehingga dalam kesehariannya titel yang melekat pada  Nama beliau berubah sesuai  lidah orang kaili yang sering menambahkan  suatu kata atau nama seseorang, misal saja Idrus disebut menjadi Durusi,atau Imran disebut  menjadi Imura, aahh....saya rasa  hal itu belum penting untuk dibahas pada kesempatan ini,kita kembali ke Laptop

Adalah  adat  kita di tanah kaili saat bertemu dengan orang yang lebih tua untuk menyalami dan mencium tangannya karenanya  pada sesi awal pertemuan tersebut  dan sebelum perbincangan, saya  berinisiatif  mecium tangan  beliau sebagai bentuk penghormatan kepadanya ,selanjutnya  tanpa tedeng aling-aling saya langung membombardir beliau dengan sejumlah  pertanyaan yang berkaitan dengan sejarah  Kerajaan Palu,mulai dari kepemimpinan kakek beliau   Magau Djanggola sewaktu memerintah Kagaua Palu di medio 1921-1945, verifikasi dokumen  arsip peninggalan bahkan  sesekali  pertanyaan saya tinggi melambung mengalahkan komentar suvu Ahmad Buluri di Kolom komentar Grup ONLine media social facebook “Komunitas Historia Sul-Teng”yang selalu berisi materi mistisme,gane-gane,sastra sampai  hakekat dan tarekat versi suku kaili, pokoknya  sejarah Ntanga eo  saya ibaratkan  kekalutan tingkat tinggi dalam menelusuri sejarah Kerajaan Palu.

 

SERIUS

Pada Sesi Akhir perbincangan itu, sekitar 15 menit sebelum sang narasumber berpamit Pulang [sekali lagi kisaran waktu hanya asumsi saya, karena  Arolji saya  belum menyala..hehehehe ] ,point pertanyaan saya langsung memverifikasi  lokasi sejumlah lokasi makam tua yang belakangan teridentifikasi sebagai  lokasi pemakaman pogimba,sebagai informasi  ; pada salah satu Nisan kayu  makam di lokasi tersebut  tertulis  nama Radja maili,tetapi  sebenarnya pertanyaan saya bersifat “karambol”  [ lain di tembak  lain tujuannya,seperti permainan karambol ] karena pada akhirnya saya pasti akan menanyakan Lokasi Pusara magau lainnya yaitu  pusara magau Yodjokodi yang sampai saat ini masih simpang siur informasinya ada yang mengatakan di Pogimba tetapi dilain pihak ada juga yang mengatakan beliau dikebumikan di Labua sebagai tempat asal, 2  istrinya  [ No sambei Ompa ] yang merupakan  anak dari Magau Djalalemba Magau Kagaua Palu ,Putra dari DaeLangi Magau Palu yang berasal dari Tatanga. Seperti ini wawancara saya dengan Sang  Narasumber :

Saya                 :  “ Om, Bagaimana Pendapatnya Komiu tentang makam Magau Radja maili??

Narasumber     ; “ Oooh yang di Pogimba? Sebenarnya Bukan hanya makam radja maili yang ada di situ ,magau Yodjokodi juga dimakamkan di situ”

Saya                :“ Dimana persisnya lokasi makamnya Magau? Bagaimana om Bisa  atau sumber  yang menyatakan bahwa itu  pusara Magau jodjokodi?”

Narasumber:“ kalau yang itu begini cerintanya, posisi persisnya kuburnya Jodjokodi  pass kita masuk ,disebelah kanan adalah istri lalu makam  beliau [Magau jodjokodi], kalau sebelah kiri dari pintu masuk adalah kubur radja Maili,hal ini merupakan penerawangan anak saya yang bisa dan biasa dijadikan sakaya [ Perahu,dalam arti khiasan’sebutan bagi seseorang  yang raganya dipakai menjadi media berkomunikasi dengan mahluk Ghaib]

Saya           : “ berarti kalau kita masuk dari Utara [ mencoba mengkonfirmasi kembali ]  pintu gerbangnya ,sebelah kanan adalah  makam istri dari jodjokodi   kemudian makam magau jodjokodi,sedangkan di sebelah kiri adalah makam radja Maili??? “

Narasumber : “ iyaa,betull sudah itu”

Kemudian  Sang Narasumber   berpamitan karena istrinya telah selesai berurusan.............

 

Pict.Pusara yang diperkirakan Oleh dr.Nani Djanggola sebagai pusara Magau Jodjokodi, memerintah Kagaua Palu  tahun 1888-1906,di Kompleks Pemakaman Pogimba.

 

CEK DAN RICEK

Mendengar penuturan dr.nani djanggola tsb selanjutnya saya mendalami setiap informasi yang keluar dalam  wawancara tsb,langkah awal yang saya lakukan adalah  menncoba mengecek  nisan yang ada pada setiap nisan dalam kawasan pemakaman POGIMBA,setelah itu saya menghubungkan setiap nama yang saya dapati dengan mengcrosschecknya dengan data yang ada disetiap literatur baik buku silsilah kita santina, stamboom magaoepalu 1927 bahkan sejumlah  tutura yang saya kumpulkan dari berbagai pihak termasuk berbagai komen di komunitas yang kiranya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

 

Stamboom Magaoe Paloe 1927

HASIL PENELUSURAN NAMA DI SETIAP NISAN POGIMBA

 Sewaktu  kegiatan bersih-bersih Pemakaman Pogimba beberapa waktu lalu, saya masih mengingat saat  beberapa orang masyarakat  yang bermukim di sekitar lokasi  berceletup  bahwa  posisi  makam yang telah tumpang tindih  dan beberapa makam baru ,mengisi di bagian selatan areal tsb,memanglah  betul adanya bahwa pada bagian selatan   Pemakaman Pogimba, tanggal nisan masih tergolong baru ,ada yang meninggal ditahun 2013 bahkan ditahun 2015,tetapi menariknya terdapat beberapa nama yang tergolong asing bagi saya,  terkecuali beberapa nisan yang nama belakangnya  tertulis nama  Hi Pua baeda Dg.malindu serta adanya nisan yang nama belakang tertulis  Idjasa yang berarti  sang empunya  makam  merupakan keturunan dari Magau Palu Idjasa serta madika Malolo Daeng Malindu, nama lainya yang menarik untuk ditelusuri adalah marga Kaloso dan Mpali,bahkan dalam benak saya sempat berspekulasi tentang hubungan antara marga Kaloso yang bermukim di daerah Donggulu dan pinotu,tetapi pertanyaan itu belum bisa  terkonfirmasi sampai saat ini.sampai pada akhirnya saya  mencoba menguraikan silsilah keturunan Magau Djalalemba dan menemukan nama-nama tersebut sebagai keturunan kedua dan ketiga  dari Sang Magau, dimulai dari Nama  Mpali [Dalam Stamboom magaoe Pale 1927 tertulis Pali] merupakan anak dari Lamatalundu Djalalemba, berarti beliau merupakan cucu dari Magau Djalalemba,kemudian Kaloso  menurut  buku silsilah kita santina adalah anak dari  Bua [ dalam Stamboom magaoe paloe ditulis Boea] berarti  Kaloso merupakan Cicit dari Magau Djalalemba,selain  itu juga terdapat Marga Daeng Malindu ,dalam silsilah  Daeng Malindu  merupakan Madika Malolo Kagaua Paloe yang bersaudara sebapak  dengan pali/mpali  karena Lamatalundu Djalalemba  mempunyai istri 2 orang,adapun clan Idjasa yang tertulis  pada beberapa nisan  bagian selatan kawasan Makam Pogimba  merupakan  keturunan Magau Idjasa  yang memperistri Impero Binti radja Maili Cucu dari Magau Djalalemba atau anak dari Magau Radja Maili [ Istrinya anak dari magau Djala Lembah  yang bernama Timamparigi]

 

 

Pict.Silsilah Lamatalundu Djalalemba ( Silsilah kita santina ,halaman 49 )

Sehingga patutlah kiranya saya megamini  atau sependapat dengan apa yang menjadi keyakinan  dr.Nani Djanggola yang menyatakan,bahwa Pusara sang Magau kagaua Palu Jodjokodi bertempat di lokasi Pemakaman Pogimbaatau secara spesifik pusaranya sejajar dengan pusara Radja Maili [keduanya  mempersunting anak magau Djalalemba ],yang semakin membuat  saya yakin  adalah  bahwa beliau telah memperistri 2 orang Anak Magau  Djala Lembah,sedangkan  dari tinjauan sejarah bahwa Makam Pogimba berisikan keturunan Magau Djalalemba.