25. Okt, 2016

Teks

MARDJUN HABIE

Nama Mardjun Habie saat  ini telah di sematkan  sebagai  Penanda Sebuah jalan  di Daerah  Kecamatan Palu Barat yang  menghubungkan Jalan Mokolombake dan Jalan Samudera, tentunya menjadi sebuah pertanyaan besar  tentang sosok dibalik nama Mardjun Habie, penelusuran tentang seorang Mardjun Habie  membawa kami  mendatangi kampung istri beliau di Labuan.

Sejatinya Seorang Mardjun Habie merupakan pria  yang berasal dari Utara Sulawesi tepatnya di provinsi gorontalo, Narasumber kami  yang juga merupakan keturunan beliau  di Desa Labuan hanya mampu menguraikan  asal beliau dari Gorontalo,tentunya hal ini semakin menambah ketertarikan kami tentang sosok Mardjun Habie yang tergolong Misterius, tetapi oleh pemerintah Kota Palu  diberikan kehormatan sebagai salah satu  tokoh lokal yang namanya  digunakan sebagai penanda jalan  di Kota Palu.

Informasi tertulis tentang sosok Mardjun Habie ,  berawal dari salah satu berita pada kolom  koran Hindia Belanda  “DE BREDASCHE  COURANT “ Pada halaman 6  mengangkat judul   NASLEEP VAN COMPLOT, terbit tanggal  23 juli 1937 Hari Jumat,pada kolom koran tersebut menyebutkan Seorang Mardjun Habie yang  pernah menjabat sebagai wakil  kepala daerah atau besturdeer assintaant  dituduh berkomplot dengan seorang tokoh bernama Abdul wahid Toana yang juga pernah menjabat sebagai Ex Warnement Radja Kerajaan Parigi,selanjutnya mereka  ditangkap  dan dihukum selama 5 tahun di penjara Paloe karena diangap melakukan  perbuatan  Makar pada Raja Parigi  yang syah saat itu yang bernama Tagunu Hanusu , dan kemudian  peristiwa yang lebih dikenal dengan istilah Dolago affair tsb  ditengarai sebagai ketakutan pihak Belanda akan Pergerakan Sarekat Islam di daerah Parigi yang telah mendapat banyak simpatik dari rakyat pribumi khususnya di daerah Dolago dan Tindaki.

Tak banyak  kabar atau tulisan yang  menggambarkan sepak terjang keduanya saat menjalani masa tahanan ,terkecuali sedikit info yang  mengatakan bahwa keduanya  dipisah dalam menghabiskan waktu sebagai seorang terhukum, wahid Toana ditahan di  Tangsi Militer di wilayah Besusu sedangkan Mardjun Habie dalam lisan sang informan  melalui masa tahanannya di Tavaili.

PENGARUH MARDJUN HABIE

Dalam Silsilah susunan Moh Noor  Lembah “Silsilah Kita santina”  pada Halaman  47. Disebutkan bahwa Mardjun Habie memperistri Puetri Magau parigi  ke-13 Radja Lolo Sawali  Alias Magau Mpo Ledo,yang bernama Djamparigi,Ibu djamparigi/ istri Radja Lolo  bernama Ronempeluru beliau adalah anak dari Magau Kagaua Palu Djalalemba .Mencermati  garis keturunan dari istri beliau tersebut  tak  mengherankan jika Mardjun Habie  yang dikenal sebagai Ulama sekaligus tokoh Pentolan Sarekat Islam mempunyai keleluasaan untuk bergerak dan  mendapatkan simpatik rakyat, baik di Parigi maupun di daerah asal ibu istrinya di Labua, tetapi sayangngya sampai saat ini kami belum berhasil menemukan sejumlah dokumen tentang  karir beliau di Sarekat Islam ataupun  latar belakang sejarah atas pennyematan nama  beliau sebagai jalan penghunbung di Kota Palu ,hal ini membuat  generasi  saat ini seakan dipenuhi pertanyaan , siapa sosok  dibalik nama jalan yang ada di sekitaran wilayah kecamatan Palu Barat,misalnya saja MOKOLOMBAKE,BANTILAN,Hi.Hayun,lasoso atau tokoh lokal lainnya, semoga kisah –kisah tokoh lokal dijadikan bahan  pelajaran sejarah bagi murid-murid yang ada di Kota Palu.