2. Nov, 2016

POSO

POSO CALON IBUKOTA PROVINSI  YANG TERELIMINASI

Dalam Peta  DE BOCHT   VAN TOMINE, Befeilt met de Hoecker de Brant- gans Anno 1682, nama Poso disebutkan sebagai Posfo yang letaknya  dibagian hulu sungai Posfo. Di era  1800 akhiir atau awal 1900-an Nama poso  sejatinya telah menjadi ikon studi dan riset  oleh sejumlah ilmuwan serta missionaris (Zending) Eropa yang  tertarik untuk melakukan riset  tentang  Geografis,keanekaragaman Flora dan Fauna serta  keunikan Sosial Budaya Masyarakat Poso  sebut saja  Nichoulas Adriani ( 1886 )dan  A.C Cruyt ( 1893) yang kemudian mendapatkan sejumlah gelar  akademik kehormatan berkat  Kegiatan Zending dan  karya tulisnya yang menggambarkan keadaan sosial budaya masyarakat poso , dan sampai saat ini buku-buku tersebut masih dijadikan rujukan dan Tinjauan pustaka  bagi  sejarawan dan peneliiti lokal untuk membuat  karya tulis tentang poso bahkan celebes.

Ditahun 1918 pemerintahan kerajaan  di seluruh  Celebes disebutkan sebagai kekuasaan self bestuurder sebagai wilayah adat yang dikuasai Seorang raja  yang terikat sejumlah Verklaring dengan pemerintah Kerajaan Nedherland  dalam hal ini diwakili seorang Gouvenuer General Hindia Nedherland  yang berkedudukan di Batavia.

Pada  era  tahun  1940an  kota Poso menorehkan tinta sejarah tersendiri dalam perjalanan sejarah Sulawesi tengah, Poso sebagai Afdeeling  dari daerah otonom Sulawesi Tengah menjadi daerah rekomendasi  untuk dijadikan pusat Sulawesi Tengah [ ibukota daerah otonom sulawesi tengah ], sesuai putusan Konfederasi raja-raja Sulawesi Tengah afdeling Donggala  yang dipelopori oleh Magau Kagaua Palu Tjatjo Idjasa  dan kawan-kawan,yang diadakan di Parigi  pada tanggal 27 November-2 Desember 1948, dan selanjutnya diperkuat dengan surat permohonan yang ditujukan  kepada Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri NIT ,Padoeka Yang mulia Anak Agung Gede Agung,  tertanggal  8 februari 1949.

Pict. Surat  Raja-Raja Sulawesi Tengah afdeeling Donggala

Rekomenndasi tersebut tentunya menjadi pertimbangan besar  bagi Paduka Yang Mulia Ir.soekarno sebagai presiden RI pertama,  untuk berkunjung ke Poso di medio 21  November 1951, tetapi kemudian poso sebagai daerah rekomendasi para Raja dan secara implisit  sebagai daerah  pilihan Ir.soekarno untuk dijadikan pusat otonom  Sulawesi Tengah  seakan tereliminasi oleh desakan sejumlah tokoh  yang mengatas namakan  “Pemandangan rakjat  palu’ yang melalui suratnya tertanggal april 1949 memberikan sejumlah pertimbangan lain  yang menyatakan kelayakan  Kota Palu sebagai ibukota daerah otonom.

Di tahun 2016 Poso seakani mengalami de’javu [ mimpi yang terulang dalam kenyataan ] saat Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Daerah tingkat I Sulawesi Tengh, mengetuk palu sebagai  tanda persetujuan pembentukan Provinsi Sulawesi Timur [ SULTIM ] sebagai pemekaran  Provinsi Sulawesi Tengah yang menetapkan Luwuk sebagai ibukotanya, kembali  Poso tereliminasi sebagai Ibukota provinsi.

Peristiwa ini seakan membenarkan  sebuah pendapat  “ Bahwasanya Sejarah akan terulang dalam Ruang  dan waktu yang berbeda”. [ dari Berbagai sumber ]