7. Nov, 2016

RAWARONTEK VS PANGISANI

RAWARONTEK VS PANGISANI : kearifan  atau kejeniusan lokal???

Dalam sebuah artikel yang dimuat sebuah media online  :Otonomi.co.id  dinarasikan Para prajurit zaman kerajaan Nusantara dikenal selalu bertelanjang dada ketika berperang. Mereka tidak pernah mengenakan baju perang, seperti para tentara di kerajaan Eropa.

Berdasarkan beberapa literatur, hal tersebut dipercaya karena para prajurit di kerajaan Nusantara seperti kerajaan Majapahit, memiliki ilmu kebal. Misalnya Rawa Rontek atau disebut juga Pancasona.

Rawa Rontek merupakan ajian kuno dari Jawa. Dulu, dipercaya para pendekar yang ada di Nusantara, khususnya dari Jawa selalu punya ilmu ini. Rawa Rontek sendiri adalah ilmu sakti di mana ketika seseorang menguasainya tidak bisa mati dengan mudah. Meski kepalanya dipenggal maupun tubuhnya dikubur hidup-hidup.

laman parapsikologi.com, amalan yang dilakukan untuk memperoleh ilmu ajian rawa rontek adalah amalan yang berat. Ketika ingin memiliki ilmu Rawa Rontek ini harus ikhlas melakukannya jika ingin membuahkan hasil.

Ini adalah mantra untuk mendapatkan Ajian Pancasona atau Rawa Rontek:

“Bismillahirrohmanirrohim niyat ingsun amatek ajiku aji pancasona, ana wiyat jroning bumi, surya murub ing bantala, bumi sap pitu,anelahi sabuwana, rahina tan kena wengi, urip tan kenaning pati, ingsung pangawak jagad, mati ora mati. Tlinceng geni tanpa kukus,
ceng, cleneng, ceng, cleneng, kasangga ibu pertiwi, tangi dewe, urip dewe aning jagad, mustika lananging jaya, hem aku si pancasona, ratune myawa sakelir.”

Kemudian amalan yang harus dilakukan langkahnya sangat banyak sekali. Pertama, harus melakukan puasa senin kamis selama 7 bulan secara berturut-turut. Dimulai sejak Bulan Syuro atau Muharram.

Setelah puasa senin kamis selama 7 bulan berturut-turut selesai, 3 hari berikutnya lanjutkan dengan puasa sunah 40 hari secara berturut-turut pula. Selama berpuasa senin kamis dan puasa 40 hari, setiap kali sholat fardlu, bacalah rapal ajian pancasona yang tersebut di atas tadi sebanyak 21 kali.

Selama berpuasa, ketika ingin memiliki ilmu ini juga diwajibkan untuk melaksanakan sholat hajat setiap malam dan membaca rapal ajian pancasona sebanyak 21 kali. Malam terakhir yaitu di hari ke-41 puasa, tidak tidur selama sehari semalam dan harus mengusahakan selalu menjaga kesucian.

PANGISANI

Pangisani atau Panginjani adalah kosakata dalam bahasa Kaili yang berarti sesuatu yang diketahui,atau dapat juga juga diartikan sebagai Ilmu yang lebih dekat  pada segala sesuatu yang berhubungan dengan aspek metafisik.

Salah satu kisah yang dituturkan oleh Orang tua di tanah Kaili adalah peristiwa seorang Tadulako yang bernama Songgo Langi,beliau merupakan Panglima perang sekaligus Cucu dari Baligau Tatanga Lasatande Dunia, dikisahkan setelah  ditangkapnya Baligau terakhir Tatanga, Ranggigamagi di UveMpomata,untuk selanjutnya dibawa ke Menado  dan  berakhir di Nusakambangan, faktanya pengasingan tersebut  tak membuat  Kebaligauan Tatanga Tunduk terhadap Pemerintah Hindia Nedherland,adalah Songgolangi yang saat itu menjabat sebagai Tadulako Tatanga  tetap mengobarkan perlawan  yang membuat Pihak Belanda di lembah kaili merasa Frustrasi,hingga harus  membuat sebuah skenario Penangkapan Sang Tadulako, bukan rahasia lagi bahwa seorang Songgo Langi memiliki kesaktian yang membuat dirinya susah untuk ditaklukan dalam istilah masyarakat Kaili disebut seseorang  “ No Pangisani” [ Sakti ] hal itu terbukti dari lolosnya  beliau  saat sejumlah penyergapan serta upaya pennagkapan paksa oleh Petoro Belanda,tentunya  belajar dari  gagalnya beberapa insiden itu ,Pihak Belanda harus berpikir lebih licik guna menghabisi sepak terjang sang Tadulako.

Disebuah acara Raego [Tarian Suku  Kaili ] dalam kisahnya disebutkan  bertempat disekitaran daerah Sigi saat ini,sang Tadulako diskenariokan ikut dalam tarian Raego,tarian yang dalam pertunjukannya dilakukan Oleh beberapa orang yang  saling berangkulan tentunya menjadi  momentum yang sangat tepat bagi  seorang Eksekutor  yang telah dipilih Belanda sebelumnya untuk memutilasi /memisahkan  antara Tubuh dan Kepala sang Tadulako, faktanya  skenario  tersebut berjalan sesuai rencana,akan tetapi dengan pangisaninya ,saat setelah terpisahnya kepala dan tubuh sang Tadulako (Songgo langi)  lantas tak membuat beliau  menjadi binasa,bahkan  antara keduanya ( kepala dan tubuhnya )  kembali menyatu seperti sediakala,hingga saat penebasan tersebut terulang untuk yang ketiga kalinya, sang Tadulako berucap “ Mungkin  ini saatnya saya harus mengalah dan mengakui kelicikan Belanda” dikisahkan pula  setelah eksekusi tersebut sang Tadulako  belum juga binasa  bahkan selama perjalan pulang Kepala sangTadulako masih  mengeluarkan permitaan untuk kiranya  diberi minum sekaligus berpamitan pada ibunya di daerah Buli [Birobuli saat ini], dan akhir  dari kisah kedigdayaan sang Tadulako ini, saat  Kepala beliau dibawa menyeberangi sungai Palu untuk selanjutnya diletakan di depan khalayak Ramai sebagai pertanda telah ditakluknya Tadulako Songgo Langi dari Tatanga.

 

 

KEMIRIPAN

Bila Kita Menganalisa  pemaparan kisah diatas tentunya dapat kita menarik beberapa narasi yang terkesan memiliki kemiripan antara Rawarontek,Pancasona dengan Pangisani Tadulako Songgo langi,hal pertama adalah  menyatunya kembali anggota tubuh yang telah termutilasi saat menyentuh tanah, serta  hilangnya kedigdayaan saat menyebrangi sungai, walaupun keduanya berada di latar waktu serta tempat yang berbeda jauh tetapi inti dari keduanya adalah merupakan kejeniusan lokal dalam meminta  kepada sang pencipta  bukan lagi sesuatu yang yang digolongkan sebagai kearifan lokal. ( dari berbagai Sumber )