10. Nov, 2016

Part II

Siapakah Yang Pantas Menjadi  Pahlawan Nasional Dari Sulawesi Tengah????

Part II

Sampai Mati Tak Sudi Kompromi.

Tatanga yang pada awalnya memiliki sistem Pemerintahan dan berusia lebih tua dari Kerajaan Palu dengan bentuk Kebaligauan yang dikepalai oleh seorang  Baligau, dalam sejumlah  penuturan sejarah memiliki  Baligau yang terkenal gigih dan tak mengenal kompromi terhadap Belanda.  tercatat adalah  seorang wanita  bernama Rangigamagi, berkuasa di era 1895-1903 beliau dikisahkan terlibat penyerangan Tangsi dan pasukan Belanda, menurut  keturunan beliau di kelurahan Tatanga yang bernama Amilis Lagaramusu, Pihak Belanda beberapa kali mencoba membujuk sang Baligau untuk mau bekerjasama dengan menandatangani sejumlah kontrak kerja sama,tetapi  beliau menjawab :

“ Walaupun  kiranya Belanda membuatkan rumah yang atap, dinding dan lantainya terbuat dari emas, Saya tetap tidak akan tunduk pada perintah Belanda”

jawaban  itu dijawab Pihak Belanda dengan mendatangkan Pasukan dibawah kepemimpinan Leutn. Vostkuil untuk menangkap beliau  bersama  petinggi kebaligauan Tatanga.

Di dalam  Buku susunan H.Rusdy Toana bertajuk ‘’Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala’’,  dituliskan,  Pada hari Kamis 7 September 1903 bersama Sang Baligau ditangkap pula suaminya bernama, Lingujombu, Madika Malolo Amir Kasa, beserta lima orang Tadulako masing-masing Ritulero, Gonurante, Latorampe, Kundu dan Sambali. rombongan itu juga menyertakan  3 orang lainnya bernama Kundu, Tadalemba, dan Rusapande

Dari Tatanga rombongan   Rangigamagi dibawa ke Donggala untuk kemudian diasingkan ke Pulau jawa. terkisahkan  saat perjalanan dari Donggala ke Batavia beberapa  tawanan termasuk Sambali dieksekusi karena mencoba memberontak dan menyerang petugas.

Pada tahun 1909  Baligau Ranginggamagi dipindahkan ke Semarang  info tersebut didapatkan dari Kundu ,Tadalembah dan Rusapande yang  dipulangkan  ke Tatanga pada tahun1912, Tercatat sampai akhir hayatnya Sang Baligau tidak pernah  tunduk pada Belanda, dan tetap konsisten pada sumpah yang diucapkannya sebelum  beliau ditangkap dan diasingkan ke Jawa, menurut informasi pak Amilis Lagaramusu, kemudian didapatkan kabar bahwa Pusara Ranginggamagi terdapat di Jawa Barat tepatnya di daerah Ciloto.

 

Politik Devide Et Empera di Kerajaan Moutong.


Raja Moutong pertama bernama Magalatung beliau merupakan seorang  Diaspora  yang berasal dari wilayah  Selatan  Sulawesi. menurut catatan sejarah serta cerita  yang ada, Magalatung kemudian  mempersunting Seorang Raja wanita Moutong yang bernama Minarang.  dari perkawinan itu mereka dikarunia 3 orang anak yang bernama Pondatu, Paubi dan Massu.   Tertulis  dalam silsilah kerajaan Moutong, bahwasanya Pondatu menurunkan Borman, Paubi menurunkan Makaranu dan Massu menurunkan Tombolotutu. Suksesi Di dalam kerajaan  Moutong saat  mangkatnya Magalatung lalu digantikan anaknya Pondatu (bapak dari Borman) dibaca Belanda sebagai pintu masuk untuk menaklukan Kerajaan Moutong, karenanya  Kolonial Belanda  mulai mengajukan  sejumlah kesepakatan  dalam  Perjanjian Pendek (Kortevolkraling) untuk ditandatangani Raja Moutong, tetapi perjanjian itu ditolak oleh Pondatu dan sampai wafatnya,  Belanda tidak dapat mendapatkan persetujuan Raja Moutong untuk mengakui kekuasaannya.
Setelah Pondatu mangkat, Kerajaan Moutong dipimpin oleh kepokanannya yaitu Tombolotutu, dengan sikap yang sama tetap menentang keberadaan Belanda bahkan Tombolotutu secara terang-terangaan mengobarkan permusuhan pada Belanda, Kebencian Tombolotutu berawal dari  Campur tangan Belanda dalam urusan  kerajaan Moutong, saat menetapkan  DAENG MALINO sebagai Raja di Moutong, padahal sebelumnya posisi Daeng Malino hanya sebagai Punggawa untuk wilayah Tinombo. Melihat celah itu Belanda mengadudomba Raja dan Punggawa Kerajaan Moutong ,bahkan Belanda berani mengangkat Daeng Malino menjadi Raja di TInombo dan menandatangani Korte volklaring pada tanggal 1 Mei 1896,hal ini membuat Raja Tombolotutu marah dan bangsawan Moutong menjadi pecah,tetapi peristiwa ini dapat dimediasi jogugu/Raja Gorontalo Ulea Wabu sehingga tidak terjadi pertumpahan darah,walaupun dikisahkan Raja Tombololotutu menerima jabatan tangan Daeng Malino dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya tetap menggenggam kerisnya yang diartikan bahwa ia masih sebagai Raja di Motong termasuk Tinombo.
Mendengar Perdamaian itu Belanda mendatangkan Marsose dari Gorontalo untuk menguasai Moutong dan terjadilah kontak senjata yang menewaskan pemimpin pasukan Kerajaan Moutong yang bernama Laringgi dan Mologau, serangan itu memaksa Tombolotutu untuk mundur dan membangun kekuatan sampai ke kepulauan TOGEAN/WALEAN daerah asal ibunya yang bernama LARA


Mundurnya raja tombolotutu beserta pasukannya ke Walean/Togean bukanlah tanpa sebab,hal ini telah diperhitungkan oleh beliau. karena disana Tombolotutu mendapatkan bantuan prajurit serta persenjataan dari kakak tirinya yang bernama PAWAJIO dan MAKARAU, mereka merupakan anak dari hasil perkawinan LARA (Ibu Tombolotutu) dengan suami pertamanya LAKAIANG yang merupakan bangsawan Walean. Tak sampai beberapa lama di Togean Tombolotutu memutuskan untuk kembali ke Moutong guna mengobarkan perlawanan gerilya, setelah berhasil menembus blokade kapal perang belanda tombolotutu langsung menuju ke Gunung Labu dan Gunung Taopa untuk membentuk basis pertahanan atas bantuan raja Lambunu maka dibuatlah pertahanan di sauh Bolano hal ini semata2 karena telah terdapat kesepakatan antara Raja Lambunu dan Moutong agar saling membantu jika terjadi serangan dari luar kerajaan. Melihat hal ini Marsose Belanda yang didatangkan dari Gorontalo mencoba menyerang Raja Tombolotutu di Sauh Bolano,dalam kontak tersebut tercatat beberapa perahu pendaratan pasukan belanda dihancurkan prajurit Moutong, serta tewasnya sejumlah Marsose pilihan Belanda yang diakibatkan sumpitan beracun,sampai beberapa bulan lamanya serangan tersebut mengakibatkan semakin lemahnya pertahanan prajurit Tombolotutu dan hanya menyisakan sedikit prajurit Moutong,sampai pada akhirnya keputusan Raja Tombolotutu untuk kembali bergerak meninggalkan Sauh Bolano menuju ke arah barat puncak gunung, tetapi pasukan belanda tetap mengejar rombongan Tombolotutu dan membumi hanguskan BauhBolano.
Sampai pada wilayah Toli-toli RajaTtombolotutu bergeser lagi ke Selatan ke arah Tinombo lalu membangun pertahanan dikarenakan mendapat Prajurit-Prajurit baru dari masyarakat sekitar,pasukan Belanda telah memperhitungkan hal tersebut karenanya diutuslah beberapa orang untuk membujuk agar Tombolotutu menyerah,tetapi dengan tegas Raja Tombolotutu menolaknya.
Pasukan Belanda dengan persenjataan yang lengkap mencoba menyerang pertahanan Tombolotutu di Tinombo , Raja Tombolotutu yang telah mengetahui kekuatan belanda memilih meninggalkan pertahanan dan bergerak ke arah selatan menyusuri pegunungan,dan pergerakan mereka berhenti di desa BOU daerah SOJOL,di sini Raja mendapatkan bantuan dari kepala kampung yang bernama KALEOLANGI (PAPA TARIMA) serta anaknya yang bernama SINALA .pasukan belanda terus mengejar dan mencoba memutus pergerakan Tombolotutu,bahkan Marsose Belanda menangkap Kepala Desa Bou dan anaknya lalu mengasingkannya dengan tuduhan membantu pelarian Raja Tombolotutu.
Dalam pelarianya di hutan Sojol Tombololotutu dianugrahi seorang putra yang diberinama DATU PAMUSU yang berarti Raja Perang dan kemudian hari ia lebih dikenal dengan nama KUTI TOMBOLOTUTU.

Setelah beberapa lama berada di hutan Sojol dan dianugrahi seorang anak diberi nama KUTI TOMBOLOTUTU melalui sang permaisuri yang dengan setia mengikuti raja Tombololotutu selama dalam perjuangannya,pasukan beliau memutuskan untuk terus bergerak ke arah selatan sampai pada pegunungan di bagian atas PANTOLOAN Pasukan beliau mendapat bantuan dan perlindungan dari magau Banawa La Makkagili atau Pue Mpudu pun pada akhirya karena melindungi Raja Tombulotutu pue mpudu di tangkap oleh Belanda lalu diasingkan ke makassar pada tahun 1903,tetapi momentum ini dikemudian hari menjadi tali pengikat antara kedua Kerajaan dengan adanya pernikahan turunan mereka .
Mendengar ditangkapnya magau banawa La makkagili oleh belanda Raja Tombolotutu segera menuju arah utara untuk berlindung kepada mertuanya di Toribulu hal ini dikarenakan istrinya yang baru saja melahirkan dan memiliki bayi yang secara otomatis semakin memperlambat gerak pasukannya, selain itu kondisi kesehatan beliau yang menurun yang mengharuskan beliau ditandu selama dalam perlawanannya.
Akan tetapi kenyataannya Pasukan belanda telah memblokade Desa Toribulu dan menyandera mertua Tombolotutu bahkan mengancam jika beliau tak menyerah, maka marsose belanda akan membantai penduduk desa toribulu dan Donggulu,selain itu pihak belanda juga memobilisasi penduduk Donggulu untuk menangkap Raja Tombolotutu dan Pasukannya dengan imbalan akan dihapuskannya pajak serta ditiadakannya heerendist (kerja Rodi) bagi kampung tersebut.

Strategi Mobilisasi pihak belanda ternyata berhasil,pergerakan pasukan Tombolotutu yang batal menuju toribulu dan mengalihkan rutenya menuju ke arah Kasimbar dipotong pasukan belanda di pegunungan Uju lari desa Donggulu,pertempran kembali pecah tetapi pihak belanda sekali lagi mengeluarkan acaman akan membumihanguskan desa donggulu dan membunuh seluruh penduduk jika Tombolotutu masih melakukan perlawanan,bahkan pihak belanda kembali mengirim marsose yang diangkut dari donggala dengan kapal perang JAVA untuk antisipasi jika ancaman belanda tak dipatuhi Raja Tombolotutu.
Mendengar ancaman itu raja tombolotutu semakin tertekan karena telah mempertaruhkan keselamatan mertua serta penduduk desa donggulu dan toribulu,akan tetapi ia tak rela jika belanda menguasai kerajaannya dengan menangkapnya, maka dengan jiwa kesatria ia memutuskan untuk tidak menyerah dalam keadaan hidup kepada Belanda sebaliknya dengan senjata pusaka/keris yang bernama LACORI ia memerintahkan kepada panglima perang kepercayaannya untuk menacapkan ke tubuhnya karena diyakini tak ada senjata yang mampu menembus kulitnya ( kebal) selain pusaka tersebut, tusukan lacori menembus badan dan membuat tubuh Tombolotutu tertumbuk pada sebuah batu besar yang mengakibatkan patahnya ujung keris lacori,setelah peristiwa itu jenazah raja Tombolotutu diambil mertuanya dan dimakamkan di Tesa Toribulu,tetapi semangat perjuangan beliau tak pernah mati walau akhirnya secara de facto dan de jure tahun 1904 seluruh pesisir Teluk Tomini telah di kuasai Belanda.

 

Bersambung Part III