12. Nov, 2016

TeksPart III ( Selesai)

Siapakah Yang Pantas Menjadi  Pahlawan Nasional Dari Sulawesi Tengah????

Part III

( Selesai)

 

Mengundurkan diri sebagai Raja

Tovua Langi atau Touma i Torengke dituliskan dalam  Jurnal seputar perlawanan Rakyat Sulteng  Vol.48 merupakan  Raja yang paling akhir ditaklukan oleh Belanda di Lembah kaili  bujukan Belanda  yang mengutus saudaranya Magau Paloe dan Raja Banawa Untuk menandatangani verklaring, namun dengan tegas ia menolak,  hal itu membuat Belanda seakan patah arang akan sikap keras sang Raja,sehingga tak ada  cara lain selain mengerahkan pasukan untuk menaklukan Kerajaan Kulawi,terjadilah perang antara marsose belanda dan Pasukan  Kulawi yang terkenal dengan perang Bulumomi  1905.

Dikisahkan perang bulumomi  yang medatangkan kerugian Pihak Belanda karenanya harus mendatangkan bala bantuan dari Menado,hal ini dikarenakan prajurit Kulawi yang juga mempersenjatai diri dengan sejumlah meriam an bedil peninggalan portugis,tetapi dengan strategi memutar arah akhirnya belanda berhasil measuk ke jantung kerajaan Kulawi dari arah yang lain yang memanfaatkan kelengahan pertahanan Kulawi hal itu membuat sang raja memutuskan menyerahkan jabatannya kepada ponakannya Tomampe ,daripada harus menandatangani kontrak perjanjian  dengan Belanda.

 Sumpah Vinono Membakar Semangat Prajurut Parigi

Sedianya  untuk menggantikan kakak perempuan Ayahnya yang bernama i Ndjengi Tonambaru,vinono atau papa Hainta  dilantik menjadi Magau tetapi beliau menolak pasalnya beliau tidak sudi mengakui perjanjian yang ditandatangani Magau sebelumnya dengan Belanda yang telah merugikan pihak kagaua Parigi  akhirnya di tahun 1914 beliau bersumpah “ Mabulapa Boga Rivana pade metaa mbaeva Balanda” sumpah itu membakar  semangat pasukan Parigi yang  dikomandani anaknya Hanusu bersama ponakannnya Rusa Palu dan Lantigau serta Radja Pelava pasukan kerajaan Parigi berperang dengan Marsose Belanda di daerah Matelele, dan akhir dari perang tersebut  tetangkapnya Hanusu,Rusapalu ,Lantigau dan Radja pelava untuk  dibuang ke  Menado,Kutai dan Bali, dari kesemuanya hanya Hanusu yang  dapat dipulangkan keparigi tahun 1917,sedangkan sisanya  wafat di daerah pembuangannnya.

Dua Datu Dari Dolo  Yang Keras Kepala

Datu Palinge dan Datu Pamusu secara silsilah  merupakan saudara sepupu yang sedari kecil telah terlatih dalam peperangan ,tercatat dalam sejarah  bahwa keduanya merupakan  anggota pasukan termuda yang di komandadani Yolulembah saat peristiwa kagegere kapapu Nu kayumalue 1888, tak mengherankan dalam perjalanan hidup beliau selalu diawasi  oleh pihak Belanda ,bahkan keduanya berkali-kali menolak  ajakan damai serta menandatangani  Korte verklaring  kerajaan Belanda ,bukan Belanda namanya kalau tak mampu mengatasi keras kepala kedua Datu tersebut,dengan tuduhan yang  mengada-ada keduanya ditangkap dan dibuang ke tempat yang berbeda  Datu Palinge dibuang ke Menado sedangkan Datu Pamusu diasingkan ke Ternate bersama anaknya bernama Tagunu, tetapi  keduanya  dapat dipulangkan ke kerajaannya yang telah dipreteli oleh Belanda.

Tabatoki Pahlawan Dari Poso

(Dinarasikan Oleh Komunitas Historia Tana Poso )

Ta Batoki melakukan perlawanan antara tahun 1906 sampai dengan 1909. Ta Batoki adalah Kabose dari Kasawi Dulongi (Lage-Onda'e).

Ta Batoki tidak sendiri!!! Dalam catatan Belanda, Ta Batoki ditemani oleh 30 orang pasukan pemberani yang menyertai beliau melakukan perang Gerilya.

Mulai Januari Tahun 1906, Ta Batoki dan 30 orang pengikutnya menjadi mimpi buruk bagi Belanda. Beliau berkelana mulai dari hutan hutan di Lage, Onda'e, Pebato, dan tidak pernah ditangkap Belanda.

Hal ini disebabkan karena Ta Batoki memiliki kesaktian yang tinggi, tidak mempan peluru.

Pada Tahun 1907, dalam satu sergapan di Pebato, ketika sudah terkepung oleh Belanda, Ta Batoki meloncat di jurang dari lipu Longkida dan tidak meninggal karenanya. Peristiwa ini lantas masuk dalam surat kabar Belanda dengan judul Tabatoki Ontsnape atau Tabatoki Lolos!!!

Demikianlah Ta Batoki melakukan perlawanan secara terus menerus sampai dengan Tahun 1909 ketika perlahan lahan pasukannya menyusut karena banyak yang meninggal dan mengalami sakit karena kekurangan bahan makanan.

Di tahun 1909 ketika dalam gambaran Emily Gobee, seluruh daratan Pamona bersiaga untuk penangkapan Ta Batoki karena lokasi persembunyiannya telah diketahui. Dari sisi ke sisi seluruh danau Poso telah dijaga pasukan Belanda.

Adalah Adriani yang menolak tindakan militer dilakukan. Beliau kemudian meminta Ta Rame (kabose Banano) untuk memintah Ta Batoki menyerahkan diri. Ta Batoki menolak menyerah dan meminta bertemu dengan Adriani.

Sama halnya dengan Penangkapan Pangeran Diponegoro, demikian juga penangkapan Ta Batoki. Ketika sedang melakukan perundingan dengan Adriani, pasukan Belanda menangkap beliau dan membawanya ke Poso, dan dipenjarakan di Penjara Tua Tanjumbulu dekat dengan Perempatan Tentena saat ini.

Kelak dalam catatan Belanda disebutkan bahwa Ta Batoki meninggal karena penyakit paru - paru yang diidapnya.

Namun dalam penelusuran sumber lain, ditemukan cerita bahwa selama di penjara di Poso, Ta Batoki melakukan mogok makan, Tidak mau Makan!!! dan inilah kemudian yang merenggut nyawa pahlawan ini. Memilih Mati daripada menyerah.

Hi.Hayyun Pahlawan dari Toli toli

Heerendienst ( Kerja Rodi ) diperlakukan secara bergilir kepada masyarakat dari setiap perkampungan selama 14 hari. Rakyat Salumpaga kena giliran menjelang bulan puasa dengan menunjuk 40 orang pekerja. Sesuai perhitungan, mereka akan bekerja sampai hari ke – 6 bulan Ramadhan. Oleh karena itu sebelum puasa, mereka menghadap kepada Raja Tolitoli, Haji Mohammad Ali Bantilan untuk bermohon kiranya pekerjaan bisa dilanjutkan setelah lebaran Idul Fitri. Raja menjawab, pergilah kepada Kontroleur penyampaikan keberatanmu, merekapun pergi ke kontroleur J.P.de Kat Angelino. Kontroleur mengatakan Heerendienst dibulan puasa bukan mauku, tapi maunya Rajamu sendiri. pergilah mengadu kepada Rajamu. Demikianlah mereka bolak balik minta keringanan tapi tidak diterima. Atas kejengkelan mereka, maka para pekerja rodi itu sepakat pulang ke Salumpaga dengan naik perahu.

Setiba di Salumpaga, mereka menghadap kepada Kepala Kampung ( Abd,Karim ) sekaligus minta perlindungan, namun justru Kepala Kampung marah dan bergegas berangkat menemui Marsaoleh Distrik Utara, Haji Muhammad Shaleh Bantilan di Santigi untuk melapor bahwa pekerja asal Salumpaga melarikan diri. Mendengar laporan Abd. Karim itu, Marsaoleh lalu menyampaikan kepada Raja Tolitoli Haji Muhammad Ali Bantilan di Nalu. Selanjutnya, Raja Tolitoli menghadap kepada Kontroleur Belanda J.P. Angelino. Saat itu pula mereka sepakat berangkat ke Salumpaga dengan naik perahu. Rombongan itu terdiri dari Kontroleur Angelino, Raja Ali Bantilan, Marsaoleh Shaleh Bantilan, Mantri Pajak Suatan, 5 Polisi dan 2 orang Opas Kerajaan

Sesampai di Salumpaga, Kontroleur memerintahkan Kepala Kampung untuk mengumpulkan para pekerja yang melarikan diri. Setelah semuanya berkumpul, lalu Kontroleur Angelino bertanya, kenapa anda melawan pemerintah dan melarikan diri ? Haji Hayun sebagai Imam Salumpaga yang ikut hadir menjawab “Mereka tidak melawan Pemerintah dan tidak pula lari dari pekerjaan” tetapi mereka pulang karena persediaan bahan makanannya habis dan akan melaksanakan Ibadah Puasa bersama keluarga. Kira nya Tuan Paduka dapat memakluminya. Adapun tugas pekerjaan yang 6 hari lagi dapat dilanjutkan usai lebaran. Permohonan itu tidak dikabulkan, bahkan memerintahkan segera ke Tolitoli melanjutkan kerja rodi.

Mereka diberangkatkan dengan jalan kaki dalam keadaan leher dan tangannya diikat satu sama lain dengan dikawal oleh 5 Polisi. Melihat perlakuan seperti itu, Haji Hayun meminta agar ikatan itu dilepas dan pekerjaan ditangguhkan sampai selesai puasa. Lagi-lagi Kontroleur Angelino menolak. Atas penolakannya, seketika itu juga Otto menebas batang leher Angelino hingga badan dan kepalanya terpisah, lalu berpaling memancung Manteri Pajak Suatan dan seorang Opas. Raja Haji Mohammad Ali Bantilan yang hendak melarikan diri, dapat dibunuh oleh Kampaeng. Adapun Marsaoleh Haji Mohammad Shaleh Bantilan dapat terhindar dari maut karena sempat bersembunyi di rumah penduduk.

Melihat kejadian itu, seorang Opas sempat berlari mengejar polisi yang mengawal 28 pekerja itu dan berteriak “Lepaskan Tembakan” Tuan Kontroleur sudah mati. Mendengar teriakan tersebut, polisi melepaskan tembakan ke udara. Sebelum tembakan kedua, pekerja serentak melepaskan ikatan ditangan dan dileher lalu merampas senjata nya dan dipukulkan padanya sampai ke-5 polisi itu mati. Peristiwa ini terjadi tgl. 5 Juni 1919 bertepatan 2 Ramadhan 1339,