4. Des, 2016

TANGGA BANGGO DAN TODONJAEO

Tangga Banggo ; Dari Baruga Sampai Menjadi Identitas Kawasan

(Catatan penelusuran  sejarah yang tersisa di Siranindi.)

Saat ini Nama Tangga Bango menjadi sesuatu yang asing di telinga Masyarakat kota Palu, sedianya Tangga banggo adalah sebutan  Baruga Kerajaan Palu sebagai tempat  Magau bermusyawarah  dengan Dewan Adat , Tangga Banggo  memiliki keunikan pada tangganya,disebut Tangga Banggo karena  Tangga yang dipakai berbentuk seperti  permainan Timbang Bolong yang  dapat dinaikan dan diturunkan , dengan bertumpu pada  bagian tertentu.

Dibangun disekitaran abad  XVIII ,Tak banyak  yang tersisa  dari sejarah panjang Istana dan   Baruga Tangga Banggo, kecuali lokasi  pemakaman Magau dan kerabatnya yang masih menyisakan sedikit penyebutan  istilah  Tangga banggo.

Dikisahkan dalam sejumlah Tutura ( cerita Turun-temurun Masyarakat Kaili ) bahwa  Wilayah Tangga Banggo/Siranindi yang dahulu dikenal dengan sebutan besusu Kodi  [ baca: Besusu kecil ] merupakan  wilayah yang ditempati oleh Permaisuri Raja Palu  pertama Pue Nggari atau Siralangi bernama Pue Puti atau Pue Bula pada dokumen Arsip Silsilah Magaoe Palu  1927 dan Silsilah Siralangi yang tersimpan pada Keluarga Alm.Nasaruddin Pakedo Di Besusu menuliskan Keturunan Pue Nggari dari Permaisurinya di Tangga Banggo  memegang  kendali dalam Kemagauan Kagaua Palu, hal tersebut berlangsung lama sampai dibangunnya Istana Raja Palu  di  Ponggavia [ lere ] di tahun 1890an oleh Magau Palu saat itu yang bernama Yodjokodi atau Toma I Siema.

 

TODONJAEO

Todonjaeo adalah Sebutan  atau istilah yang diberikan  pada Tiang Utama baruga Tangga Banggo,secara bahasa Todonjaeo dalam  bahasa kaili dapat diartikan  sebagai sesuatu yang berdiri  sehari penuh, sebutan tersebut merupakan  Mantera atau Gane-gane yang disebutkan oleh Tadulako Yunda pada saat Mengangkat  batang pohon yang akan digunakan  sebagai Tiang Raja  di Baruga Tangga Banggo, sang tadulako yang dikenal memiliki kesaktian sedianya  adalah  orang yang diminta  khusus oleh  Magau   untuk menebang  dan mengangkat batang tersebut dari  daerah Mebere [ saat ini termasuk dalam wilayah kelurahan Lasoani ] ke  Tangga Banggo/Siranindi.

Cerita ini ternyata sangat melekat  pada ingatan  Sejumlah Orang tua yang berada di wilayah Mebere ,sebagai kebanggaan dan  tuk meneruskan  memori TODONJAEO kepada generasi selanjutnya ,maka  TODONJAEO disematkan sebagai salah satu  nama jalan penghubung di Wilayah Kelurahan Lasoani