26. Des, 2016

Tamalove

Tamalove: Kedigdayaan Meringankan Tubuh Suku  Kaili

Ilmu merigankan tubuh kiranya telah menjadi  salah satu Kanuragakan yang digeluti oleh pendekar ataupun orang2  dizaman dahulu yang mepelajarinya dengan  maksud tertentu.

Di Pulau jawa  ilmu tersebut dikenal dengan AJIAN SAIFI ANGIN – atau Sapu Angin, merupakan suatu kedikdayaan yang dapat mempercepat seseorang dalam perjalanan. Dengan aji Sapu Angin ini orang dapat menempuh jarak jauh dalam waktu yang singkat, ibaratnya lebih cepat darai pesawat terbang. Aji ini pula yang menjadikan orang seperti kijang atau burung srikatan dalam kecepatan bergerak. Orang yang mempunyai aji sapu angin dan mengamalkan dengan baik dapat meringankan tubuh sringan-ringannya, sehingga dapat lari cepat sekali. Dahulu para wali songo selalu menggunakan aji sapu angin ini, khusunya bila diundang untuk rapat di masjid demak.

Pada kenyataannya  di kalangan  masyarakat kaili kedigdayaan serupa juga diamini keberadaannya,mereka menyebutnya dengan sebutan “Tamalove”, ada banyak sumber cerita yang mengisahkan bahwasanya Para Tadulako bahkan Beberapa Magau di lembah Kaili sering mempergunakan kedigdayaan tersbut.

Adalah Madika Dolo Datupalinge yang dituliskan oleh anaknya dalam sebuah buku tentang bagaimana beliau seketika bergerak  cepat  melompat  dari satu tempat ke tempat lain ketika mendengar saudanranya Datupamusu ditangkap oleh Belanda,selain itu Tadulako Besusu Vunta bernama Yunda yang dikisahkan oleh turunannya sering bepergian  bersama pasukannya untuk berperang melawan Pasukan Belanda dengan menempuh jarak yang cukup jauh tetapi mereka tempuh hanya beberapa jam sahaja.

Ternyata bukan hanya di lembah Palu saja kedigdayaan Tamalove menjadi membumi,dalam sejumlah tulisan pun menyebutkan tat kala  Raja Moutong Tombolotutu bergerilya di dalam hutan sepanjang leher  pulau Sulawesi sering mempraktekannya,hal itulah yang membuat beliau sukar untuk di sergap oleh Pasukan Belanda,kejadian serupa juga sering digunakan oleh Magau parigi Hanunsu Vinono dan Bapaknya yang beberapa kali mengunjugi kerajaan Sigi,Dolo dan Tatanga bahkan  kedigdayaan tsb juga mereka praktekan saat  sang empunya kedigdayaan menunggangi Kuda  dalam perjalanannya.

Tak banyak informasi ataupun tulisan yang dapat kita jumpai dalam hal syarat serta amalan yang digunakan oleh orang kaili dalam mempraktekan Tamalove, ada beberapa daerah yang mensyaratkan  dengan rutinitas pengaturan nafas,atau  pengkonsumbian air putih sebagai syaratnya [ dalam suku jawa disebut sebagai “Mutih”], akan tetapi yang  menjadi menarik bahwa sanya suku kaili sangat meyakini bahwa segala kedigdayaan pada manusia adalah refleksi dari perangai dalam kehidupan sehari-hari mereka,yang terjadi adalah pembatasan segala tindakan  sesuatu yang bersifat tak bermoral,seperti  tak boleh berbohong,atau melakukan tindakan yang tak terpuji lainnya.

Mantera adalah Doa

Selain menjaga sikap dalam setiap akses kehidupan masyarakat kaili juga meyakini bahwa setelah proses pengendalian diri mereka lakukan  sesuai tuntunan, hal selanjutnya adalah meminta  kepada sang pencipta untuk mengabulkan permintaanya,yang  mereka sebut sebagai gane-gane.

Seperti yang tergambar dalam tulisan gane Tamalove berikut :

 

“Batu kadedu kangku basi Kasindara

Kumani manimbulumani  Manimbulu Allah

Manimbulu bagindali saparati Kun fa yakun ...

( untuk menjaga  kesakralan  gane-tsb,lanjutannya tidak kami tuliskan)

 

Bila kita mencooba  mempejari kata perkata dalam gane-gane diatas tentunya kita akan sampai pada kesimpulan  bahwa segala kedigdayaan yang ada pada manusia adalah restu dari sang pemilik hidup ini.