8. Jan, 2017

Catatan penelusuran Sejarah Pue Njidi

Banua Oge Pue Njidi : Arsitektur Tradisional yang  menggambarkan keramahan.

Catatan penelusuran  Sejarah Pue Njidi

Tak Berlebihan kiranya jika saya menyebutnya Istana Pue Njidi, sesaat memasuki pekarangan rumah panggung ini terlintas kejayaan bangunan ini di masanya, ditopang  kayu-kayu besi yang tak lapuk dimakan rayap, istana tersebut sepertinya sengaja dibuat tinggi sebagai antisipasi serangan musuh yang sewaktu-waktu menyerbu, menghadap  ke arah barat  secara fengsui adalah  simbol  kemakmuran bagi sang pemilik istana,begitu strategisnya  bangunan ini ,jika saja kita  berdiri di terasnya niscaya kita dapat melihat beberapa puncak gunung sekaligus dan jika kita menengok ke arah utara maka  aktivitas Lembah dan Pesisir Teluk Palu  akan terlihat secara jelas, dengan fakta ini asumsi saya bahwa beliau mendirikan istana di Lokasi ini juga sekaligus berfungsi sebagai pertahanan dari ancaman penguasa lain.

Tak seperti Banua Oge  yang berada di daerah Panggona (Kelurahan Lere) yang memiliki 2 tangga, Banua Oge Pue Njidi hanya memiliki  satu tangga yang terletak di sisi depan kanan,sebagai satu-satunya akses naik  menuju teras, tangga dengan kemiringan 35° juga dilengakapi pegangan di sisi kanan kirinya, tetapi sungguh disayangkan tangga yang ada tidak lagi terbuat dari kayu tetapi telah diganti dengan cor-coran semen tetapi pegangannya masih terlihat original, hal itu masih terlihat pada ujung pegangan yang  sedikit terggerus karena adanya budaya wanita kaili yang dilakukan disetiap gerhana bulan untuk datang ke tempat tersebut dengan menutup semua tubuh mereka menggunakan sarung sambil mengambil segemggam beras disertai gerusan ujung pegangan tangga Istana atau rumah bangsawan.

Memasuki teras istana kita diperhadapkan dengan 3 pintu utama yang masing-masing terdiri dari 2 daun pintu,ukuran pintu tengah lebih besar dibandingkan pintu dibagian kanan dan kirinya, sepertinya di zamannya ketiga  pintu tersebut digunakan oleh tetamu untuk masuk mengahadap sang empunya istana sesuai kasta sosialnya,akan tetapi saat ini hanyalah pintu bagian kanan saja yang masih digunakan,2 lainnya terlihat tidak lagi di fungsikan.

Di bahagian teras ini kaya akan ornamen, yang terlihat jelas pada bagian Panapring  (baca lesplank) dan ornamen dinding  teras yang mengelilingi sisi depan dan samping kanan-kirinya,yang menarik adalah  adanya gantungan  kecil di setiap sisi  ketiga Pintu, sepertinya dahulu digunakan untuk mengantung lampu teplok.

Memasuki ruang utama, menampakan  kekuatan adat istiadat masyarakat kaili yang sangat ramah, ruangan ini adalah ruangan yang lebih luas dibandingkan ruaangan lainnya, hampir di setiap sudut ruangan  dihiasi barang-barang yang tergolong antik sebut saja Filter air yang terbuat dari keramik berwarna putih yang kiranya diproduksi di eropa tahun  1880an,ataupun lemari  kayu jati yang masih kokoh  dengan dekor sejumlah teko dan baki-baki adat yang terbuat dari perak,kuningan dan perunggu, sungguh sesuatu yang menarik tatkala sejumlah barang-barang yang menghiasi setiap jengkal istana ini  adalah hasil pemberian ataupun barter oleh tamu yang datang  berkunjung kepada Pue Njidi,karena dari fisiknya barang-barang tersbut tidak di produksi di Lembah Palu tetapi di Belanda,Cina,Jawa bahkan menurut pak Iksam yang berprofesi sebagai Arkeolog,terdapat kesamaan motif dengan sejumlah  benda-benda di daerah di sumatra yang terkenal dengan kerajaan Melayunya yang berafiliasi dengan sejumlah daerah di semenajung campa,kiranya fakta tersebut menggambarkan bahwa istana ini mendapat banyak kunjungan dari  pihak luar yang mempunyai kepentingan  untuk mengunjungi Lembah Palu saat itu.

Pue Njidi dan Kabonena

Kisah Pue Njidi adalah sekelumit kisah penguasa wilayah di barat Lembah Palu, menurut penuturan  keturunan beliau  yang secara turun temurun menjaga barang-barang warisan beliau, sosok Pue Njidi atau biasa orang menyebut beliau “parasila”   ada juga yang menyebut nama beliau “Tende Langi”adalah  seorang Bangsawan yang berasal dari Wilayah Loli dan mengawini puteri penguasa Kabonena.

Hampir tak ada data tertulis yang mengisahkan zaman atau periodesasi pemerintahan beliau di kabonena, tetapi sejumlah voklork mengisahkan saat beliau menjadi orang yang pertama yang menyambut sekaligus menerima ajaran tauhid yang disiarkan oleh Ulama Mingangkabau bernama Abdullah Raqye yang dalam proses pengislamannya melalui  sejumlah tahapan adu kesaktian sehingga sang Ulama mendapat julukan Dato Karama (Orang keramat/Sakti).

Adalah menjadi strategi dakwah untuk mengislamkan penguasa setempat dengan harapan rakyat  beliau ikut menganut ajaran tauhid, hal yang sama tentunya dialami penguasa Kabonena saat itu, Pue Njidi yang  telah memeluk islam  melalui prosesi adat “Povonju Mpoevo” melepaskan  penutup  kemaluan  dan digantikan dengan sarung kiranya diikuti masyarakat kabonena dan sekitarnya, pengaruh islam sangat jelas tergambar pada benda peninggalan Pue Njidi, terhitung sekitar puluhan artefak diperlihatkan kepada kami oleh keturunan langsung Pue Njidi di istananya,hampir semua tak ada yang bermotifkan benda-benda bernyawa yang ada  motif bunga dan  corak-corak simetris lebih dominan yang menggambarkan ajaran islam yang melarang menggambarkan sesuatu  yang beryawa telah diterapkan dalam pusaka milik pue Njidi, terkecuali beberapa motif  guci bergambar Naga yang tentunya  menjadi corak khas benda-benda yang berasal dari Negeri China.

Beberapa benda yang menarik untuk kita ulas pada tuisan ini adalah :

  • Toko/Tombak bermata Dua

Melihat Fisiknya tentunya memory kita dibenturkan dengan pedang kesayangan Nabi Muhammad Saw yang bernama Zulfikar yang di bagian ujungnya membelah menjadi dua,Toko  pue Njidi memiliki kesamaan rupa yang pada  bagian mata tombaknya  juga bercabang dua,entahlah  apakah terinspirasi dari zulfikar saat pembuatan mata tombak ini yang pasti  tombak tersebut memancarkan aura laindaripada lainnya,Wallahu a’lam bi sawab

  • Kayu Pengusir angin “Lasu Mpoiri”

Lasu Mpoiri adalah  rotan berdiameter 3 cm dengan panjang 10-15 cm yang terbuat dari tumbuhan rotan yang diberi motif simetris dengan warna dominan hitam dan merah menurut  keturunan Pue Njidi adalah benda magis yang dapat menghalau angin kencang,dizamannya benda tersebut  digunakan Pue Njidi Untuk berperang terutama jika beliau berlayar,karena menurut salah seorang turunan Parasila/pue Njidi  bahwa belaiu juga seorang pelaut ulung yang kisahnya pernah berlayar dan berperang sampai ke laut Arafura.

  • Guma kalama

Menurut Pihak Museum yang dihadiri Pak iksam sam, Guma yang tersimpan pada keluarga Pue Njidi berjenis Guma kalama,yaitu Guma kebesaran,jika dilihat secara detail dari bentuk dan motif yang  melekat pada valombo/sarung guma dan gagangnya  melambangkan kebesaran dan wibawa sang empunya Guma.

 

  • Keri pasatimpo

Keri merupakan senjata tradisional  khas suku kaili yang berlekuk seperti keris,Keri Pue Njidi mempunyai lekuk 7 dengan bahan mirip logam pembuat Guma,pada bagian pangkalnya terdapat pengait kecil berwarna emas,sarung  dan gagang keri terbuat dari kayu Bonati.

  • Poevo/ penutup kemaluan

Dari sekian peninggalan Pue Njidi barang inilah yang menjadi fenomenal dikarenakan terkait langsung dengan sejarah masuknya islam ke lembah kaili,pada awalnya kami berharap dapat mengidentifikasi periode masuknya islam ke Lembah Palu melalui benda ini,akan tetapi melihat kondisinya yang telah rapuh dan hanya menyisakan potongan-potongan kecil,rasanya sanga sulit untuk menghubungkannya,hal yang senada juga diungkapkan  pak Iksam,sebagai seorang arkeolok beliau hanya dapat mengidentifikasi bahan poevo tersebut yang menurut beliau berupa  kain Mbesa/mesa yang  biasa digunakan dalam upacara adat suku kaili.

Sekian catatan kami dalam penelusran sejarah Pue Njidi di Kabonena,sampai jumpa pada penelusuran berikutnya.