14. Jan, 2017

Jejak P.Regout Maastrischt 1836 di Banua Oge Pue Njidi

Jejak  P. Regout Maastrischt 1836 di Banua Oge Pue Njidi

Salah satu benda peninggalan Pue Njidi yang masih lestari tersimpan oleh keturunannya adalah sebuah mangkuk putih  polos yang bagian bawahnya  bertuliskan P. Regout Maastricht,   kiranya menjadi hal yang menarik melihat  fakta tersebut apalagi  beserta logo  P.Regout Maastrischt  dengan tahun 1836  juga disertai kata-kata bertuliskan aksara Jawa.

Mangkok Retak Seribu

Identifikasi porselin putih  berlebel P.Regout milk Pue Njidi  dapat digolongkan sebagai benda langka dan memiliki nilai sejarah tinggi,di dalam penyebutanya jenis  seperti itu  tergolong kedalam mangkok  retak seribu,penyebutan tersebut didasari atas fisik benda tersebut yang  motifnya tampak retak disekujur sisinya,berdasarkan  penuturan beberapa kolektor benda antik semakin banyak retakannya berarti usia benda tersebut semakin tua,selain itu biasanya bentuk seperti ini dipercaya  merupakan benda yang dicari oleh penggila  koleksi benda antik karena dapat  memperlambat basi makanan yang dihidangkan atau yang lebih populer dengan istilah “Anti basi”.

P.Regout Maastricht 1836

P. Regot Maastricht merupakan  gabungan Nama pemilik dan Wilayah  dimana pabrik  kaca dan perselin  tersebut didirikan ,Petrus Regout adalah orang yang mendirikan  pabrik kaca dan tembikar  di Maastricht pada tahun 1834 dan menjadi salah satu produsen Belanda  paling penting di paruh kedua abad ke-19 sampai Perang Dunia II. Sejak tahun 1890 teks Made in Holland ditambahkan ke logo pabrik dan pada tahun 1899 pabrik ini berganti nama menjadi Sphinx. Pada tahun 1959 SPHINX / REGOUT bergabung dengan Societe ceramique de Maestricht. Pabrik menghentikan produksi gerabah pada tahun 1969.

Petrus Regot 1836 dan Pue Njidi

 Menjadi pertanyaan besar di benak kita bagaimana  keramik  Eropa yang tergolong elit di abad ke-19 ini  bisa berada di kediaman Pue Njidi? tentunya Jawaban pertanyaaan itu dapat menjadi dasar  penggambaran sosok  seorang bangsawan kaili  yang bermukim di daerah kabonena  bernama Pue Njidi.

Secara detail  kapan dan bagaimana porselin yang berasal dari Maastricht bisa berada di Kabonena sekiranya tak dapat diterangkan oleh turunan Pue Njidi akan tetapi beliau menyatakan beberapa keramik khususnya yang berasal dari Eropa adalah benda-benda yang dahulunya menjadi perlengkapan  hidup Sang bagsawan tersebut,bukan rahasia lagi bahwa tujuan  para penjelajah Eropa untuk datang ke sejumlah daerah di  Nusantara adalah untuk menguasai perdagangan emas dan rempah-rempah melalui  pendudukan /kolonialisme serta penyebaran ajaran nashrani atau yang lebih dekenal dengan sebutan  3 G; Gold,Glory dan Gospel .

Sebagai Seseorang Bangsawan sekaligus penguasa wilayah yang memiliki wibawa dan dipercaya  dapat mempengaruhi Rakyatnya untuk  bisa menerima kedatangan kaum Eropa di lembah Palu,tentunya menjadi keharusan bagi Para tamu untuk meberi hadiah berbagai macam benda yang kiranya menjadi trendsetter disaat itu,dan kemudian  alasan tersebutlah menjadi asumsi yang logis tentang asal muasal  sejumlah  porselin Eropa tersebut.

Fakta  lain yang dapat kita simpulkan dari sejumlah benda keramik dan Porselin Eropa tersebut bahwa  Ditahun 1830an  Seorang Pue Njidi menjadi kunci  boleh atau tidaknya seorang Pendatang untuk melakukan  aktivitas baik berdagang atau mengunjungi  lembah Palu, hal ini  dapat kita lihat berdasarkan sejumlah benda  peninggalan Pue Njidi yang teridentifikasi berasal dari beberapa daerah baik Eropa,China ataupun  benda lokal dengan motif Sumatera dan Jawa.

Sikap ramah dan gampang membaur  tanpa meninggalkan akar Budaya kaili tercermin jelas pada Arsitektur Bangunan banua Oge  Pue Njidi yang ukuran teras dan ruang tengah yang luas  tentunya  hal dapat diartikan bahwa beliau adalah seorang yang mampu melakukan negosiasi dengan sejumlah  pendatang baik dari Eropa,China,Jawa,dan Melayu  yang kemungkinan besar dilakukan didalam kediamannya tersebut.