25. Jan, 2017

Lando dan Sidima

Catatan  Kagero Nu Lando dan Sidima

(Berdasarkan tulisan dalam Buku harian Bapak. Arsyid Pindarante, Mantan Kepala Desa  Lolu  1970-1974 )

 

“Tesa hi ni tulisi pada tanggal 12 April 1985, tesa nu'totua  ri Raranggonau nosangaka toma masi nte tesa totua dako ri  tompu Nosangaka Toma Lamangale dan Si-si ia  dana tuvu dan naria nonturo ri ngata kavatu atau  riulu  nubinggana kavatuna”

Terjemahan

 “ Cerita ini ditulis pada tanggal 12 April 1985,diceritakan oleh orang tua  bernama Toma Masi  yang berasal dari Raranggonau dan Toma Lamangale dari Tompu,saat  bercerita beliau bermukim di daerah Kavatu atau tepatnya di daerah hulu kampung Kavatuna “

Sejarah Lando Dan Sidima

Lando sanga nu ngata nubulu ri sinjori (sabingga bavona) Bulu Nu Ranggonau,sidima  Sanga Nu Ngata  Nu bulu ri bagia Bulu Nu Tompu atau sii-sii Sidima niganti ante sanga Nubulu Raranjambu,kaboli Nungata Sidima waktuna kejadia posipatesi ntodea mangeva Balanda,sehingga niganti Rarajambu.

Terjemahan

“Lando adalah nama  gunung  disebelah/bagian atas gunung Ranggonau, Sidima adalah nama  kampung di gunung bahagian dari wilayah gunung Tompu, saat ini telah diganti namanya  menjadi Gunung Rarajambu, penggantian nama Sidima terjadi saat peristiwa berdarah perlawanan rakyat Sidima terhadap Belanda.”

“Sebelum  tahun 1904, Biromaru dopa niparenta Nu balanda tapi nomparenta mboto yaitu manggataka ntodea, Madika Malolo nosangaka Mahasuri dan Madika  Matua nosangaka Pilarante”

Terjemahan

“ sebelum tahun 1904 Biromaru belum dikuasai /diperintah oleh Belanda tetapi masih  mengangkat berdasarkan  Rakyat banyak, Madika Malolo dijabat oleh Mahasuri dan Madika Matua dijabat oleh  Palarante”

Mahasuri  adalah Ipar dari Palarante (Istri Mahasuri adalah adik dari Palarante  yang bernama Matjawani), sebelum Belanda masuk di Biromaru  tahun 1904,  kedua orang tua  tersebut,masing- masing  menjabat sebagai Madika Malolo dan Madika Matua karena  kaduanya  sangat menentang kedatangan  Belanda di Biromaru,maka keduanya  diberhentikan dari jabatannya ,tetapi kenyataannya  masih banyak Rakyat Sidima/Tompu dan Lando,Ranggonau  yang  bersimpatik akan  kegigihan keduanya dalam  menentang  Belanda di Biromaru.

Pada waktu itu sempat keduanya  mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh  masyarakat  di Sidima dan Lando yang bertempat di Polipabone. Maksud dari pertemuan itu tidak lain adalah untuk mengingatkan agar rakyat Sidima dan Rakyat Lando  tidak menerima  keberadaan Belanda,selain itu keduanya menyatakan menentang  kebijakan  pajak yang diberlakukan Belanda.

 

Adu Domba Belanda.

Untuk meredam  sikap keras kepala Mahasuri dan  Palarante ,Belanda mengangkat seorang wanita menjadi Magau Sigi Biromaru  bernama Tondei atau Yole atau Pue Langa,sedangkan di Bora  beliau dikenal dengan Nama Roya Nto Sigi, setelah mengangkat Tondei menjadi Magau, Belanda mendesak beliau untuk  mengutus Maradjati, Sampale, Labaritu (Toma Laturima) dari Oloboju  dan Laijoputi, dengan misi untuk menyampaikan  pesan kepada Rakyat Sidima dan  Lando agar taat kepada Belanda dan bersedia membayar  Balaste/pajak

Tetapi sungguh diluar dugaan, ternyata  rakyat Lando dan Sidima menolak perintah tersebut  dan menyatakan tidak mau diperintah oleh Belanda, mereka tidak merasa berhutang dengan adanya keharusan membayar balaste/pajak.

Tak berhasil membujuk ,kemudian utusan  Magau Itondei  mencoba  kembali  beberapa kali untuk meyampaikan  perintah  Belanda kepada rakyat Sidima dan Lando, merasa  tertekan oleh perintah Belanda  untuk tunduk dan keharusan membayar Balaste, rakyat Sidima dan Lando mengadakan perlawanan yang menyebabkan  terbunuhnya utusan Magau yang bernama Maradjati oleh rakyat Lando bernama Tatunaja, pergolakan rakyat Lando dan Sidima ini dibawah pimpinan  orang tua bernama Labaresi.