31. Jan, 2017

#SaveHeritageKotaPalu

 

BerLanggam Kolonial ,Bilakah  Gedung Eks Kantor Swapraja Palu Menjadi Cagar Budaya???

 

Menyusuri Jalan Kapiten  Patimura menuju ke arah Kompleks  Pertokoan Kota Palu  kita akan  menemukan sebuah gedung  bercirikan Kolonial yang berdiri kokoh tepat menghadap  ke arah timur, Bercat putih dengan Pilar-pilar menjulang yang terbuat  dari Kayu besi ,seakan  mengisyaratkan hebatnya  struktur dan konstruksi bangunan tersebut dalam menantang zaman, bangunan yang dibuat ditahun 1940-1950 ini tak sepenuhnya mengadopsi arsitektur Kolonial,jika dibandingkan dengan  gezagheber/Gedung juang yang di bangun tahun 1920an Eks Kantor Swapraja tidak memiliki Beranda  tengah dan belakang,tetapi langgam kolonial Belanda terlihat jelas pada Pilar-pilar yang tinggi menjulang,atap yang berbentuk  perisai serta ventilasi udara dan langit-langit  yang tinggi,akan tetapi lantai bangunan Ekskantor Swapraja tidak lagi  tersusun dari marmer  seperti yang kita  jumpai pada lantai Gezagheber/Gedung Juang.

Keunikan Arsitektur gedung Eks Kantor Swapraja

Sejalan dengan  teori Arsitektur campuran yang berkembang ditahun 1940an dimana telah terjadi percampuran corak antara langgam Kolonial dengan memasukan unsur-unsur daerah dari Arsitektur Tradisional, tentunya sebagai penyesuaian  iklim tropis yang memiliki  musim hujan dengan intensitas lebat dan periode penyinaran Matahari yang lebih lama, part bangunan yang menggambarkan konsep yang bersifat elektis ini terlihat jelas pada  bentuk ventilasi yang menyerupai bangunan Tradisioanl seperti halnya ventilasi  Bagua Oge dan ventilasi  Mesjid Jami di Kampung Baru dan Mesjid Tua di Besusu .

 

Sejarah Kantor Eks Swapraja

Terlihat jelas bahwa secara Arsitektur gedung Eks Kantor Swapraja adalah gedung  berlanggam Kolonial tetapi disesuaikan dengan unsur-unsur tradisional,dan menurut teori bahwa bangunan-bangunan seperti itu dibangun dikisaran waktu 1940-1950 dimana bangkitnya  Rasa Nasionalisme atau lebih dikenal dengan era Kemerdekaan.

Zaman Swapraja diidentifikasi  sebagai zaman peralihan antara zaman Kerajaan  dan  zaman otorisasi pemerintahan daerah,atau merupakan padanan bagi istilah yang disebut sebagai Zelfbestuur,wilayah Swapraja dibawah pucuk pemerintahan seorang kepala Swapraja atau seorang zelfbestuurder.

Era Swapraja di lembah Palu Ditandai suatu peristiwa penting ,yang oleh Sejarawan Kota Palu Rusdi Toana diusulkan sebagai Tonggak Awal Lahirnya Kota Palu,peristiwa penting tersebut adalah  saat Magau terakhir kerajaan Palu yang bernama Tjatjo Idjaza dengan gelar Bulu bambara secara tegas Mengeluarkan Maklumat pada tanggal 6 Mei 1950 tepat pukul 7.00 Pagi  yang isinya   membubarkan Kerajaan Palu dan Bergabung  dengan Republik Indonesia,peristiwa tersebut tercatat dilaksanakan di Taman Nasional tepat di depan Gedung Juang saat ini

Pejabat kepala Swapraja saat itu dijabat oleh Andi wawo Parampasi yang sebelumnya  menjabat sebagai Madika Matua dalam Struktur Pemerintahan Kerajaan Palu,kantor Swapraja inilah  yang sampai detik ini masih berdiri kokoh sekaligus sebagai saksi bisu sejarah  perjalanan Kota Palu,bahkan  pada zaman terbentuknya Kota Administratif Palu melalui  Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1978.  Bangunan yang status kepemilkannya  berada dibawah kendali  Pemda Donggala itu,masih difungsikan sebagai kantor Camat Palu Kota yang saaat itu dijabat oleh  Yoto Maruangi, Kisruh tarik-menarik kepemilikan seakan membenamkan segala nilai-nilai Historis  gedung tersebut,sempat digunakan oleh Pemda Donggala sebagai kantor Dinas Pendidikan tak menjadikan  kondisi bangunan tersebut terawat justru sebaliknya keberadaanya semakin terancam   dan menjadi incaran  para investor ,hal ini dikarenakan Lokasinya yang sangat Strategis,hanya  berjarak beberapa ratus meter dari Pusat perekonomi ,Hiburan serta pemerintahan  Kota Palu.

Salah Satu Heritage Kota Palu

Sebagai salah satu dari sekian  bangunan yang berusia di atas 50 tahun dan memiliki nilai sejarah ,sudah sepantasnya  bangunan Eks Kantor Swapraja mendapat perhatian yang lebih melalui penetapan sebagai cagar Budaya sesuai amanat Undang-undang  No.11 tahun 2010  tentang cagar Buudaya,di sinilah kita melihat  keseriusan Pemerintah dalam memproteksi bangunan bersejarah Kota Palu,karena sampai sejauh ini payung hukum yang berada di daerah tentang  Pelestarian Cagar Budaya baik berupa PERWALI atau PERDA masih belum terealisasi.

SEMOGA GEDUNG EKS KANTOR SWAPRAJA TAK BERNASIB SAMA SEPERTI GEDUNG EKS KANTOR BAPEDDA DONGGALA.

#SaveHeritageKotaPalu #KamiPelestariCagarBudaya