20. Feb, 2017

H. Joto Dg Pawindu

Sekelumit Perjuangan H.Joto DG Pawindu

H. Joto Daeng Pawindu, Lahir   di tahun  1895, Ayahnya bernama Dg. Sute  Sedangkan Ibunya bernama Oda, Sebagai anak seorang bangsawan kaya di Kota Palu, Joto Dg Pawindu dibesarkan dalam lingkungan  yang religius, beliau  merupakan anak Sulung dari 4 bersaudara, adik-adiknya bernama  H.Dg.Maroa, H.Ahmad, dan Hj.Ince Ami atau  Tite saudari beliau inilah yang kemudian diperistri oleh Sayed Idrus bin Salim Al Djufrie atau “Guru Tua “, bahkan  menurut beberapa sumber  mengatakan  ketika terjadi pembredelan Perguruan Al Khairaat oleh Kolonial Jepang di tahun 1942-1945 Sang Ulama  tersebut  disebutkan meminta perlindungan serta memindahkan  menyiarkan Islam ke tempat Kakak iparnya  H.Joto Dg Pawindu di Pevunu.

Sebelum  aktif dalam Sarekat Islam seorang  Joto Dg. Pawindu sejatinya adalah seorang  pedagang yang memanfaatkan jalur sungai untuk aktivitas perniagaan bahan-bahan makanan dari Palu-Pevunu, dalam Buku Sejarah Pahlawan Sulawesi Tengah  tulisan Haliady dan kawan-kawan diuraikan  bahwa pada tahun 1917   Joto Dg. Pawindu  menjabat sebagai presiden Partai Sarekat Islam wilayah Kota Palu,dibawah kepemimpinannya SI Paloe,   menjadi Partai  Inlander/pribumi yang  mampu membuat Kolonial Belanda ketar-ketir, menurut  Pemerintah Hindia Belanda  Joto Dg Pawindu adalah tokoh yang mampu merubah  pemikiran  kaum pribumi di  sekitar pegunungan  Lembah Palu, untuk  menentang segala kebijakan pemerintah  termaksud  keharusan membayar pajak [balasting] dan menolak kerja Paksa, fakta tersebut berkesesuaian dengan  tulisan A.C.Kruyt yang dimuat dalam Bukunya berjudul de West Toradja,s Van Midden Celebes,halaman 41, beliau menuliskan “ Sekali lagi pemerintah menemui suatu kesulitan waktu SI mempropagandakan agama,tetapi  juga menentang pemerintah”

Atas Kekhawatiran Belanda tersebut , pihak Penjajah  mulai melancarkan sejumlah Politik Devide Et  Emperanya (adu domba), mereka  membenturkan Partai Sarekat Islam di Palu  yang digawangi  H. Joto Dg Pawindu dengan Persatuan Raja Palu yang diinisiasi oleh   Magau Kerajaan Palu, tak hanya sampai disitu, merasa  aktivitas  Sarekat Islam semakin meresahkan, sejumlah tokoh-tokoh serta  Bangsawan yang secara nyata  mendukung  keberadaan SI ditangkap serta dilengserkan dari  tahta kekuasaannya, tercatat  H.Joto Dg. Pawindu mengalami  pengasingan sebayak 2 kali, pertama ditahun 1928-1930, beliau diasingkan ke Nusa Kambangan,di tahun yang sama pula ,belum genap setahun merasakan kebebasan, beliau  kembali diasingkan bersama tokoh SI Lainnya  Abd.Rahim Pakamundi ke Sukamiskin Bandung sampai tahun 1933.

Dalam pengasingan Kedua tersebut beliau bertemu dengan Putera Sang fajar Ir.Soekarno dan mendapatkan faham-faham nasionalisme, Atas arahan Putera Sang Fajar pulalah   membuat  seorang H. Joto DG Pawindu kemudian  bergabung  kedalam Partai Nasional Indonesia (PNI) dan mengembangkan di Palu bersama dengan faham nasionalisme dalam konteks lintas Agama ,kemudian pertemuan  keduanya  kembali terjadi saat  Presiden Soekarno melakukan Kunjungan  ke Palu pada Tanggal 2 Oktober 1957, menurut  Tokoh pemerhati  sejarah Kota Palu Nirman  Winter, sesaat  mendarat di lapangan Udara Masovu Ir.Soekarno mengutus  orang kepercayaannya  untuk secara khusus  menemui H.Joto Dg pawindu guna bertemu dengan dirinya dan  Moment Pertemuan  keduanya berlangsung  dalam suasana   mengharu-Biru.

Atas Jasa-jasanya dalam  melakukan perlawanan terhadap pengaruh pemerintah Hindia Belanda di zaman  sebelum dan pasca kemerdekaan ,H Joto DG Pawindu dianugerahi penghargaan sebagai pejuang Perintis kemerdekaan  Republik Indonesia, yang dituangkan dalam Surat Keputusan /SK No.295/63/PK tertanggal  19 November 1963,tiga tahun setelahnya H Joto DG Pawindu menghembuskan nafas terakhir tepatnya tanggal 15 Agustus  atau dua hari sebelum perayaan HUT RI  Ke-21  di tahun 1966.