13. Mar, 2017

Pue Nggari

 Sekilas Sejarah Pue Nggari  

Oleh :

 Tim Penelusuran Sejarah Komunitas Historia Sulawesi Tengah [ KHST ]

[Narasi Pengantar kegiatan Napak Tilas Perjalanan  Pue Nggari di Lembah Palu]

  Berbicara mengenai Sosok  Pue Nggari  berarti kita berbicara  masa Awal Kerajaan Palu,banyaknya versi yang menjelaskan sosok  Beliau ,  tentunya menjadi pertanda  bahwa beliau adalah  seorang yang Misterius tetapi juga,  seorang tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah Lembah Palu, dalam narasi Sejarah yang  tertulis  di  laman web Pemerintah Kota Palu , Pue Nggari Merupakan  Seoang Pangeran yang melakukan migrasi dari sebuah daerah  yang disebut Vongi tepatnya  di sebelah timur  kampung Poboya ,bersama rombongan  termaksut istri beliau ,  dengan alasan tertentu  mereka berpindah melewati beberapa rute yang saat ini disebut sebagai  Pontosu/salah satu wilayah di daerah Poboya ,untuk selanjutnya menuju  Valangguni [saat ini menjadi Kelurahan Talise valangguni ], lalu menuju  sekitaran  pesisir pantai Teluk Palu “Pogara”,  yang saat ini difungsikan sebagai Lokasi penggaraman,di daerah tersebut ditandai dengan  digalinya Buvu [Sumur] yang disebut Buvu Resede,nama  itu merupakan nama  penggalinya, Resede merukan salah seorang yang ikut dalam rombongan Migrasi Pue Nggari,dari  wilayah Pogara, kemudian Pue Nggari dan rombongan  memustuskan  menetap di daerah Besusu,dalam beberapa  kisah turun temurun nama Besusu sedianya disebut  Pandapa, di  Pandapalah diskisahkan dibangunnya Istana Kerajaan Palu pertama kalinya sebagian narasumber mengutarakan Istana Pue Nggari di Pandapa terbuat dari Tanah yang bersusun-susun,  tetapi ada juga yang  mengisahkan bahwa Istana yang diberi nama “Pasu Pata Mpasu”  berbentuk rumah panggung , yang terdiri dari Tiang2 kayu yang diambil dari  4 penjuru mata angin karena itulah disebut sebagai “Pasu pata Mpasu”.

Eksistensi Pue Nggari tak berhenti sampai di  Pandapa,selanjutnya beliau menikah  dengan seorang Puteri bangsawan yang berdarah  campuran Lando,Bangga dan Dombu, menikahi  Pue Mputi atau Pue Bula ,Pue Nggari menurunkan keturunan yang selanjutnya menjadi Magau Kerajaan Palu yaitu La Bugulili, Malasigi, Lamakaraka, Yodjo Kodi,Parampasi,Idjasa, Djanggola dan Magau terakhir kerajaan Palu Tjatjo Idjasa. Silsilah  Magau Palu tersebut dapat kita lihat pada sebuah Manuskrip Kerajaan Palu, yang ditulis  oleh Petugas Belanda di tahun 1927 dengan judul Stamboom Magaoe Paloe.

 

Berikut beberapa  versi Cerita dan tulisan/Transliterasi yang memuat tentang sosok seorang Pue Nggari

 

 Versi “Palu Meniti zaman”

HM Masyuda menuliskan dalam bukunya “Palu Meniti Zaman”  di halaman 101-112,  bahwa Pue  Nggari adalah seseorang yang berasal dari Vonggi,  Kampung To po Tara  pada perbukitan bagian Timur  Tanah Kaili, selain itu  menurut  beliau, Pue Nggari adalah sesorang keturunan  To  Manuru yang  mempunyai nama asli  Lawegasi Bodawa , di lembaran selanjutnya  H.M Masyuda menuliskan  bahwa terdapat cerita rakyat yang menceritakan asal usul Pue Nggari : Diceritakan  bahwa Pue Nggari  berasal dari Selatan Vatusampu , dipercaya Asal Usul  Pue Nggari  adalah cicit  dari seorang Puteri yang lahir dari Ikan Timboro  kakeknya bernama  Sogomolomba  mereka mempunyai anak bernama Sondilana,Tonda Labua dan Payugarera.

 Dari Sondilana yang menurunkan  Sondubuluva  yang kemudian   mengawini Sompoa lalu melahirkan  Werelemba,Jamapatida,Lenggeva dan lawegasi Bodawa/Pue Nggari .

Versi  Manuskrip Keluarga Nasaruddin Pakedo

 Manuskrip Milik ( Alm )  Nasaruddin Pakedo tertulis  bahwa Pue Nggari merupakan anak dari Pasangan suami- istri bernama Lasamalangi dan  Vuapinano ,tak  dituliskan siapa nama Istri beliau yang tertulis  hanya nama keturunan beliau  yaitu : Pue Bongo /panjororo,Lasa maingu, Pue Somu dan Pue Rupia/Pue Sese. Berdasarkan silsilah tersebut menuliskan Bahwa bapak  (alm ) Nasarudin Pakedo adalah turunan ke- 7 dari anak Pue Nggari bernama Pue Rupia/Pue Sese,selain Manuskrip tersebut  diturunkan juga beberapa buah peninggalan Pue Nggari berupa piring dan pusaka lainnya  yang saat ini masih bisa kita jumpai,bersama benda – benda pusaka tersebut diturunkan cerita heroisme ketika peralihan pemerintahan Magau Kerajaan Palu dari Pue Nggari kepada Magau kedua yang diringi invasi dari Kerajaan lain,dalam cerita  tersebut Sosok Pue Rupia mampu megendalikan  situasi suksesi secara damai.

 Versi HBD Sisilemba

  HBD Sisilembah yang menuliskan  sejarah singkat Imbalava lembah [Pue Bongo Totua ]dan Malasigi [ Pue bongo  Anak], bahwa Pue Nggari  yang bernama Asli  Guntulele adalah Kakek  Mertua dari Pue Bongo  Totua karena istri pertamanya adalah  cucu dari Pue Nggari / Guntulele yang bernama Gilireme atau Gilimareme, dalam tulisan ini juga secara tersirat beliau menyatakan periodesasi Pue Nggari sebagai  Raja Pertama di Kerajaan Palu  lebih tua dibandingkan masa pue Bongo totua dan pue Njidi di kabonena [ Mantikulino].

Versi Stamboom Magaoe Paloe 1927 Buatan Hindia Nedherland

 Stamboom Magaoe Paloe yang ditulis  tahun 1927 adalah penyempurnaan dari stamboom  magaoe Palu sebelumnya yag ditulis di tahun 1925 hampir tak jauh berbeda isi kedua stamboom tersebut karena  hanya dituliskan dalam jangka waktu 2 tahun, dalam silsilah tersebut  tak ditemui  nama Pue Nggari tetapi dituliskan sebagai Siralangi sebagai Madika kamonji yang memperistri Seorang bangsawan /Madika  yang berasal dari Lando,dalam Stamboom tersebut  tergambarkan secara jekas bahwa sosok Pue Nggari lah yang menurunkan Magau-Magau yang berkuasa di Kerajaan Palu,bahkan salah seorang anaknya  Dato Labungulili menikahi Magau Tavaili Ke IV Dae Ngasia juga menurunkan Magau-Magau di Kerajaan Tavaili dan Sigi Biromaru.