20. Mar, 2017

Sejarah Touna

Kronologis Pengangkatan Tandjumbulu sebagai Raja Todjo

( di COPAS dari laman  Website Pemerintah Kabupaten  TOUNA )

Dikisahkan bahwa raja Kolomboi dengan istri yang ke 1 TAKA TUDUNTAKA diketahui tidak mempunyai keturunan dan istri ke 2 mempunyai anak seorang laki-laki yang bernama TANDJUMBULU dan seorang perempuan bernama LILA, maka calon kandidat raja pada waktu itu adalah TANDJUMBULU akan tetapi sesuai kondisi saat itu dimana pemerintahan Belanda telah mempunyai pengaruh, maka Raja TAKA TUDUNTAKA menyurat kepada pihak pemerintah Belanda dalam hal ini adalah asisten Residen di Manado dimana menyatakan dirinya dan kemudian pada bulan Desember tahun 1927 Asisten Residen tiba di Tojo dari Manado dan menginap di Rumah kerajaan bersama pengawalnya, yang sekaligus mengatur persiapan pemilihan. Dikarenakan calon Raja Tojo ada tiga orang, masing-masing :
ABDUL. HAMID MUSLAENI (Putera 1 dari MUSLAENI dengan Raja TAKA TUDUNTAKA)
TANDJUMBULU (Putera dari Raja KOLOMBOI dengan istri ke 2 marga Lembah dari MARDIKA TAWAELI).Keesokan harinya tanggal 1 januari 1928 masyarakat keempat suku yang mendiami wilayah Tojo sudah siap di Aula Kantor Raja untuk melaksanakan pemilihan. Pada hari itu pula hasil pemilihan sudah diketahui beberapa jumlah suara untuk masing-masing Kandidat. Adapun hasil yang terpampang dipapan tulis sebagai berikut :
1. ABDUL KADIR LASUPU
2. ABDUL. HAMID MUSLAENI
3. TANDJUMBULU
Hasil dari pengumpulan suara sebenarnya dimenangkan oleh ABDUL KADIR LASUPU,tetapi kemenangan tersebut di Veto oleh Pabicara Kerajaan Hi. MBUE LASUPU. Perlu diketahui bahwa pengaruh dari Hi. MBUE LASUPU masih sangat kuat karena beliau pada waktu itu masih sebagai Pabicara Kerajaan Tojo sebagai orang yang dituakan, beliau mengatakan bahwa aturan yang ada di kerajaan sejak dahulu bahwa siapa saja yang menjadi Raja Tojo maka beliau sebagai turunan ANDI LASUPU tetap sebagai Panglima Perang/Pabicara Kerajaan sehingga jika anaknya yang diangkat menjadi Raja sangat tidak relevan serta beliau anti terhadap penjajah, baru ternyata bisluit pengangkatan dari tujuh datuk yang tergabung dalam Tinja Patasulapa. Dengan alasan itu sehingga Asisten Residen juga dapat memakluminya, dan sesuai dengan petunjuk Hi. MBUE LASUPU ditunjukan TANDJUMBULU anak dari Raja KOLOMBOI untuk menjadi raja Tojo menggantikan TAKA TUDUNTAKA yang mana disetujui pula Asisten Residen. Sehingga pada saat itu dikeluarkan Besliut penobatan Raja Tojo oleh Asisten Residen Manado (sudah pemerintahan Belanda yang mengangkat). Pada pemerintahan TANDJUMBULU, kerajaan masih mengadakan perlawanan melawan Belanda tetap berlangsung dan pusat pemerintahan masih di Tojo. Setelah 11 (sebelas) tahun pemerintahan kerajaan berjalan, oleh raja TANDJUMBULU pusat pemerintahan/perkantoran dipindahkan ke Rato Ampana untuk melaksanakan strategi perjuangan (tahun 1938), karena kebutulan pula Hi. MBUE LASUPU (Pabicara Kerajaan/Panglima Perang) sudah lebih dahulu pindah Rato Ampana yang sebelumnya adalah rintisan orang tuanya ANDI LASUPU. Daerah Rato Ampana dibentuk menjadi sebuah kampong oleh Hi. MBUE LASUPU pada tahun 1918 yang diberi nama kampong Ampana yang artinya  Ampa adalah jerat yang berbisa sedangkan  adalah yang mematikan dan beliau sebagai kepala kampungnya yang pertama, sedangkan penduduk asli Rato Ampana adalah bernama TARAMPU. Demikianlah sejak itu (tahun 1938) Raja TANDJUMBULU melaksanakan tugas-tugas kerajaan bersama-sama Hi. MBUE LASUPU di Rato Ampana