2. Apr, 2017

Catatan Sejarah Johor di Tanah Kaili.

Catatan Sejarah Johor di Tanah Kaili.

Kesultanan Johor merupakan   bagian  dari Sejarah  Kejayaan Malaka,  sebagai tempat  perniagaan Tersohor di Tenggara Asia,  menjadikan Johor sebagai Incaran Kerajaan- Kerajaan sekitar untuk ditaklukan, bahkan Potugis dalam misi pencarian rempah-rempahnya  pun melakukan invasi  ke Johor guna mengamankan  jalur  perdagangannya, walaupun  pada akhirnya harus mengakui hagemoni  VoC  melalui  penandatanganan sebuah  Traktat perjanjian di tahun 1606.

Di Tahun 1613 Johor  berada dibawah kendali Kerajaan Aceh bersama masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, selanjutnya sejumlah kerajaan silih berganti menginvasi kesultanan Johor , mulai dari Jambi, Minangkabau dan Siak.

Tercatatat dalam sejarah Panjangnya, Johor pernah di dominasi  oleh perantau dan pedagang yang berasal dari Sulawesi , dominasi tersebut seiring dengan niat Minangkabau  untuk menginvasi Johor tetapi pada akhirnya orang –orang sulawesi yang berada di johor lebih  berpihak kepada  Daeng Parani untuk mereka  besarkan menjadi penguasa Johor.

Pertalian Johor – Kaili

Dominasi Perantau Sulawesi di Johor memiliki kesesuaian dengan  cerita turun temurun yang kemudian dituliskan  Moh Noor Lemba dalam buku Silsilah Kita Santina, di halaman 1.

Dalam pertalian perkawinan tersebut digambarkan, seorang Bangsawan Kaili yang bergelar Nto Kaili menikahi puteri  penguasa Johor[ Raja Johor.] pernikahan tersebut dituliskan berlangsung di Solok,  sang  bangsawan yang  bernama Asli  Dae  Ligule itu ,  merupakan adik Magau Tavaili  ke-2 Yunto Lemba , dari perkawinan itu melahirkan seorang  anak bernama Putri yang kemudian  dipersunting Syekh Djalaludin AlYdrus dari Baghdad kemudian  menurunkan  Husein dan Alwi  ( Butuh rujukan).

Walaupun tak banyak informasi yang  dapat menjelaskan pertalian tersebut, kiranya  kita dapat  menghubungkan  Invasi Raja Kecil    yang  berhasil menguasai Johor  di tahun 1717, keberhasilan Raja Kecil tersebut mendapat  perlawanan  dari imigran Sulawesi di Johor , sehingga Raja  Kecil harus pindah ke Siak,  atas keberhasilan itu sejumlah  imigran sulawesi mendapatkan  gelar Yam  Tuan Muda dan menikah dengan putri pembesar Johor.