2. Sep, 2017

Foto: Rumah Assistand Resident Donggala, Tahun 1920.

Rumah Assistend Resident Donggala: Berdiri di Zaman Kolonial, Berakhir di Tangan AUREV.

Salah satu dari sekian banyak heritage yang berada  di Kota Donggala adalah tangga bangunan kolonial yang ditenggarai sebagai bagian dari  sebuah bangunan  rumah  Assistend Resident  Donggala berdiri  di kawasan  dataran tinggi Gunung Bale,  dalam kepingan  puzzle sejarah  Donggala,  di masa kolonial, Gunung Bale tersohor dengan   sosok pemimpinnya  bernama Malonda atau Pue Djoli. Heroisme beliau tatkala memutuskan  untuk menentang  hegemoni  Kompeni di Banawa, peristiwa di medio 1902 dikenang dengan nama “Perang Donggala”. Setelah peristiwa  berdarah tersebut,  Pemerintah Hindia Belanda menempatkan seorang Assistend Resident di Donggala sebagai perpanjangan tangan Resident  yang berkedudukan di Menado.

Di tahun 1903, tepanya di tanggal 28 Agustus,  seorang  Kontroleur yang sebelumnya  bertugas di  Afdelling Poso didaulat menjadi  Assistand Resident Donggala, beliau bernama  A.J.N.  Englenberg, Sang Kontroleur  dibuatkan  sebuah Rumah khusus, dibangun di wilayah Gunung Bale, dengan desain  arsitektur Indo – Eropa.  Rumah  hunian  Englenberg tersebut, dilengkapi gevel, Tower (Menara Pengintai), Wind Wijzer (Penunjuk Arah Angin), Nok Acroterie(Hiasan Puncak Atap), geveltopen dan Belustrade, yang  semuanya merupakan cirikhas Bangunan Kolonial  (Eropa) berlanggam Indonesia.

Rumah Assistend Resident Donggala Menghadap langsung ke  arah Teluk Palos, sehingga dari situ Kelihatan Jelas daerah-daerah di bawahnya, semisal :  Pelabuhan, Pusat Kota Donggala  bahkan  Pesisir Teluk Palos masih  nampak dengan jelas terlihat dari Halaman Kediaman Tuan Englenberg ini, tentunya hal inilah menjadi alasan mengapa Hunian ini menjadi Posisi yang strategis dalam mengintai segala aktivitas pergerakan musuh Hindia Belanda Di Teluk Palos.

Selain Arsitekture  yang khas serta Posisinya yang strategis di sekitaran Rumah Assistend residen Donggala ini terdapat  bangunan pendukung yang diperkirakan sebagai hunian  pembantu Assistend Resident donggala, posisinya tepat di sebelah kanan Rumah  sang Assistend resident,  sedangkan di bagian  lain terdapat pula sebuah garasi Mobil  yang diperuntukan memarkir kendaraan Assistend Resident, dan  sampai saat ini sisa  garasi ini masih dapat kita jumpai.

Berakhirnya Eksistensi Rumah Assistend Residen Donggala.

Sejak dibangun tahun 1903, Rumah Assistend Residen Donggala di Gunung Bale seakan menjadii Bangunan  kebanggaan orang nomor satu di Donggala dan sekitarnya, hal ini terbukti dengan sangat terawatnya  bangunan  kolonial itu, baik dari interior pun di bagian Eksterior  bangunan terlihat jelas melalui  dokumen foto yang ada,  Tepat  di tanggal 28 April 1958, petaka   menimpa  Heritage tersebut  tak dinyana, pesawat-pesawat AUREV PERMESTA memuntahkan  mortir yang mengahcurkan  Rumah Assistend Resident Donggala, misi Permesta untuk menguasai  kawasan  Udara Indonesia Timur  dengan menerbangkan burung besi  yang dipiloti militan AUREV ( Angkatan Udara Revolusioner) PERMESTA, mengakhiri Eksistesi heritage yang  telah berdiri selama setengah abad itu,  dan alhasil sejak saat itu  kawasan ini  hanya menyisakan sedikit artefak berupa  tangga di serambi depan yang menghubungkan bangunan utama dengan alun-alun di depan Rumah  Assistend Resident.

Saat ini telah berdiri bangunan  Modern  tepat di atas Rumah Assisten resident Donggala tersebut, Tangga yang menjadi saksi kemegahan Bangunan Kolonial  inipun masih digunakan, walaupun saat ini  telah berubah bentuk dan sempat menjadi hunian  Camat dan pejabat pemerintah lainnya, Aura Kemegahan Heritage tersebut masih  dapat kita rasakan, saat berdiri  di tangga  sambil melemparkan pandangan  ke arah  semenanjung Landschape Donggala beserta Teluk Palos yang legendaris.