30. Nov, 2017

Wawancara Tim KHST Bersama Andi Tjatjo, TS.

Wawancara Tim KHST Bersama Andi Tjatjo .TS, bertempat di kediaman beliau di Kaluku Bula,  pada hari  Sabtu, 14 November 2017.

Perbincangan berlangsung sangat santai, diselingi candaan Beliau, dengan suguhan Teh hangat,  diskusi semakin  tajam sambil sedikit-sedikit  menyerempet  kondisi Eksisting Budaya  kaili yang mulai tergantikan dengan budaya luar,   berdurasi sekitar  2 jam  30 menit , dimulai sekitar pukul 12 sampai pukul 14.30 WITA, berikut kutipan wanwancara  Tim KHST bersama beliau:

(KHST): Bagaimana  Pak Tjatjo  memaknai sejarahTanah Kaili?

“ Pada Awalnya kehidupan manusia di Lembah ini belumlah ada, karena  semua  masih berupa lautan, dapat dipastikan dahulu kehidupan masih berpusat di pegunungan sebelah Timur dan Barat, Lembah Palu saat ini, dan  Saya menduga, dahulu  ada Rongga besar di sekitar lempah Palu, dengan   melihat kondisi tanah di Pulau Sulawesi ini yang  labil, maka suatu ketika  terjadi pergeseran yang menyebabkan  terisinya rongga tersebut dengan air laut  yang  ada di sekitar teluk palu, sehingga  terbentuklah lembah palu, tetapi saya meyakini  hal tersebut terjadi dalam kurun waktu yang agak panjang,  mungkin saja  peristiwa itulah  yang  kemudian digambarkan oleh Orang tua kita dulu sebagai peristiwa perkelahian  anjing Sawerigading dan belut di Danau Lindu, dalam pandangan saya peristiwa Sawerigading itu  berlatar waktu  abad  9-13 Masehi”

(KHST): Bagaimana  tentang kata Songgo poasi, Pak?

“Kronologis   kembali didengungkannya kata songgo poasi,  bermula saat  diadakan libu mbaso yang digagas oleh Balitbangda Provinsi tepatnya di tahun 2015, kala itu Libu membicarakan  buku “Givu Nu ada”,  lalu ada pertanyaan, dari salah seorang peserta libu tentang  adakah kosakata kaili yang berarti terima kasih, dalam forum tersebut  saya mengatakan, sepengetahuan saya bila kita mencari  kosakata bahasa kaili yang bermakna terima kasih dalam dialek ledo, hampir dipastikan tidak ada, hanya saja ditahun 1970 saat nenek saya masih hidup, beliau merupakan  penutur  bahasa kaili rai, jika beliau  mengucapkan terima kasih maka akan diucapkannya Songgo Mpoase[i], sebaliknya jika lawan bicaranya mengucapkan kata songgo Mpoase maka dia mengucapkan Simbali-bali, mendengar  perkataan saya tsb,  forum tersebut menyepakati kata Songgo Poasi sebagai padanan kata Terima Kasih”

(KHST): Lantas bagaimana dengan penolakan kata Songgo  Poasi  diartikan  dengan Terima Kasih, dan dianggap mengada-adakan saja?

“ Begini, dalam ilmu bahasa ada yang disebut sebagai bahasa serapan, bahasa serapan itu  tercipta dari proses  akulturasi  yang terjadi, contohnya;  di inggris tak ada pohon Bambu, tetapi saat mereka mendapati  pohon bambu di negara lain,  maka   mereka menyebutnya Bamboo, sebaliknya pada awalnya kita tak mengetahui apa itu  Radio dan Television,  saat  dikenalkan di indonesia maka  kita mengikuti penyebutannya sebagai radio dan televisi, mengenai anggapan  yang mengatakan sebagai bahasa mengada-ada, saya hanya mau bertanya : kalau dalam  bahasa kaili Ledo,  Tamu?

(KHST): To rata!

“Kalau mengikuti Dialek Ledo seharusnya Bukan To Rata tapi To Kava, karena  To rata  berarti Orang yang datang, dalam dialek kaili Tara, sedangkan , dalam  dialek Ledo  disebut kava, karena adanya bahasa serapan, To kava berubah menjadi To rata, seperti itulah posisi kata  songgo Poasi, bukan berasal dari dialek ledo, asalnya dari dialek Rai, tetapi dalam  penggunaanya  dapat digunakan  secara Universal, jadi sebenarnya tidak menjadi masalah”

(KHST): Bagaimana pandangan Pak Tjatjo tentang Budaya No Tabe(Permisi) generasi saat ini?

“  generasi saat ini hampir tidak lagi No tabe jika di depan Orang tua, pun ada tetapi telah berubah tidak seperti  ajaran Orang tua Kita Dahulu, seharusnya No Tabe  dengan menjulurkan Tangan Kanan ke bawah sambil membungkukan badan”

(KHST): saat ini No’Tabe sudah dijadkan salam Pembuka, dan  Biasanya saat melafadzkannya tangan kanan akan memegang bahu kiri sambil membungkuk,  bagi wanita  melafadzkan kata tabe  sambil  meletakan kedua tangan di depan  dada sambil membungkuk, bagaiman menurut Bapak , dengan sikap  No Tabe seperti itu?

“ No tabe bisa  dimaknai sebagai permisi, biasanya   No tabe seperti itu  jika  hendak melewati depan Orang Tua, tangan kanan akan turun ke bawah tangan kiri memegang tangan kanan, sedangkan posisi badan agak membungkuk, jika seperti itu maka  orang yang dilewti akan  memberi jalan , dengan memberi isyarat  tangan kanan sambil  berkata “ Ose Dala”.

(KHST) Berarti bukan dibalas dengan kata  “Salama”?

“ itu keliru , kata “salama” itu merupakan Budaya Bugis, sedangkan kita orang kaili, jika ada orang yang No tabe maka kita menjawa “ Ose dala” (sambil memberi isyarat  tangan kanan)”

“ jika Kita No tabe sebagai kata pembuka maka sikap kita (Jika Laki-laki) , sikapnya harus seperti No Tabe seorang Tadulako berpamit kepada Magau, yaitu  Tangan Kanan memegang Guma dan posisi tangan Kiri memegang Toko (Tombak),  sambil membungkukan Tubuh atau berlutut di depan Raja, sedangkan No Tabenya Wanita  tangan Kanannya   menyilang menutupi  Buah dadanya,  dan tangan kirinya lurus dengan posisi badan membungkuk, Posisi No Tabe saat ini lebih mengikuti budaya Hindu dari India”

(KHST):

Setelah  Mendengar penjelasan  Pak Tjatjo Ts, kami  melakukan rekonstruksi sikap saat Notabe......Tabeeeeeee............( Pamit Pulang)