1. Mar, 2018

POBOYA: NGATA NTINA TO PO TARA

POBOYA: NGATA NTINA TO PO TARA

Eksistensi kampung Poboya telah tercatat jauh sebelum  munculnya kampung-kampung  yang ada di Lembah Palu.

Poboya Yang berasal  dari kata Po dan Boya  mengandung pengertian Lokasi yang sengaja dipilih untuk didiami (dijadikan Kampung).

Secara historis penduduk Poboya memiliki keterkaitan erat  dengan penduduk Tara (To Po Tara) yang  berada di wilayah Parigi.

Migrasi  keluarga Magau  Parigi yang bernama Makagero di Tahun 1500-an secara turun temurun menjadikan 2 daerah  sebagai tujuan untuk melakukan Migrasi, dua daerah tersebut adalah Kampung Vatutela dan Poboya.

Selain To Po Tara yang berada di Parigi ( Lantibu dan Uwe Sama) kampung  Layjango, Malino dan Marima  merupakan Lokasi persinggahan  yang secara usia lebih tua  jika dibandingkan dengan  keberadaan Poboya.

Poboya Menjadi Ntina Topo Tara setelah  Turunan Tompalile Bin Gadi Lemba dipersunting oleh sejumlah keturunan Raja yang ada di Lembah Palu.

Anak Tompalile yang kedua Bernama Jabasura (I jaba) dipersunting Anak Magau   Palu, Jodjo Kodi bernama La Pariusi, dari  silsilah itu menurunkan Djanggola yang selanjutnya  menduduki tahta Kerajaan Palu.

Anak Ketiga Tompa Lile bernama Romadino dikawini Magau Parigi  bernama Hanusu Bin Vinono, dari perkawinan itu menurunkan Tagunu Hanusu, yang dikemudian hari Menggantikan Bapaknya, menjadi Raja di Parigi.

Anak keempat Tompalile, bernama Rimainta/Wainta (Kodi) diperistri Kupalele    Madika dari Tatanga, dari perkawinan ini menurunkan Watjino dan Nabainta, Watjino diperistri  Lagaramusu (PueBoku) Madika Tatanga, anak dari Vinono Madika Parigi, dan Nabainta diperistri Latumara Madika Tondo.

Selain itu cucu dari Tompalile bernama Lamanje (anak dari Ritunjobu Bin Tompalile) mempersunting anak dari  Mahasuri , Madika Malolo  Biromabu.

Melihat keterkaitan dalam hal perkawinan itulah, sehingga antara kerajaan satu dengan lainnya di Lembah Palu saling terhubung, dan Poboya menjadi Ntina yang  melahirkan Raja-Raja  yang menduduki Tahta  kdi sejumlah Kerajaan di Lembah Palu.

Foto: Keturunan Tompalile, serta  Keturunan  saudara Tompalile ( Kiri-kanan) Thompa Yotokodi keturunan Wainta Tompalile, Drs. H. Longki Djanggola,  M.Si, Keturunan Jabasura Tompalile, Drs. Hidayat, M.Si, Keturunan Gonurante (Saudara Kupalele yang mengawini Wainta Tompalile), Moh. Rum Parampasi keturunan Jabasura Tompalile ,  DR. Timuddin Mbauwo, turunan Radja Lolo ( Kakek Hanusu, Magau Parigi yang mengawini Rimadino Tompalile).