2. Mar, 2018

Kontroversi Radja Maili

BENARKAH RADJA MAILI  (MANGGE RISA) WAFAT DALAM PERANG KAYUMALUE, 1888?

 

Sosok Radja Maili  atau Mangge Risa seakan tak habis meningggalkan cerita Kontroversi, mulai dari Kesalahan penulisan Nama, yang seharusnya Radja Maili  tetapi ditulis Raja Moili (tak pernah  ditanggapi oleh pemerintah Kota Palu),  hingga waktu dan kronologis  beliau meninggal , masih  diselimuti tanda tanya.

Dalam Laman  Resmi pemerintah Kota palu   http://palukota.go.id, pada segmen  “Sejarah Kota Palu” dituliskan:

 

Belanda pertama kali berkunjung ke Palu pada masa kepemimpinan Raja Maili (Mangge Risa) untuk mendapatkan perlindungan dari Manado di tahun 1868. Pada tahun 1888, Gubernur Belanda untuk Sulawesi bersama dengan bala tentara dan beberapa kapal tiba di Kerajaan Palu, mereka pun menyerang Kayumalue. Setelah peristiwa perang Kayumalue, Raja Maili terbunuh oleh pihak Belanda dan jenazahnya dibawa ke Palu.

Benarkah Radja Maili terbunuh   setelah Perang Kayumalue, 1888?

Berdasarkan penuturan keturunan Risa (keponakan Radja Maili), Arsyad Risa di Kaleke, bahwa Radja Maili saat pertempuran Kayumalue atau yang lebih dikenal dengan Ka Gegere Kapapu Nu Kayumalue, beliau terkena tembakan meriam dari kapal perang Belanda, akan tetapi  saat itu beliau belum meninggal bahkan tak mengalami luka, akan tetapi akibat  tembakan meriam itu menyebabkan tulang kakinya patah, sehingga beliau tak bisa berjalan, setelah pertempuran reda beliau dibawa kembali ke Palu saat rombongan berada didaerah antara Mamboro dan Tondo, beliau mengembuskan Nafas yang terakhir, sehingga jenazahnya dibawa ke Palu dan dimakamkan di Pemakaman Pogimba Boya Ntongo (Kampung Baru).

Cerita Lain dituturkan oleh Amir P. Lasimpo, Tokoh Adat Kayumalue, menurut cerita yang diturunkan oleh orang-orang tua  di Kayumalue kepadanya, bahwa Radja Maili tidak meinggal saat terjadi perang di Kayumalue, tahun 1888. Radja Maili meninggal di Labuan karena perseteruan keluarga, jenazahnya dibawa dari Labuan Lelea ke Palu melalui jalur Laut.

Daeng Mangesa Datupalinge menuliskan Asbab kematian Radja Maili dalam bukunya,  adalah sebagai akibat dendam lama dalam keluarga, kronologisnyapun tidak berada dalam rangkaian waktu perang Kayumalue, beliau menggambarkan kesaktian Radja Maili yang kulitnya tak sanggup ditembus senjata tajam, sehingga untuk membinasakannya harus dilakukan dengan cara  yang tak lazim.

Data tertulis yang paling kotroversial lainnya adalah kisah perjalanan Missionaris asal Belanda bernama Nichoulas Adriani dan Albert Christian Kruyt pada tahun 1897, mereka menuliskan tentang kondisi Kerajaan Palu yang mengalami Dualisme kepemimpinan Raja, yang salah satunya dijabat Radja Maili, walaupun mereka saat  itu tidak sempat bertatap muka, akan tetapi perjalanan mereka dari Poso kemudian ke Parigi lalu singgah di Tawaeli  dan Palu sebelum sampai ke Sigi dan berakhir di Lindu (Van Poso Naar Parigi ,Sigi en Lindoe)  mendapat perlindungan dari Raja-raja Lokal dan Kontroleur Palu, jadi bisa disimpulkan  informasi tentang dualisme Raja di Kerajaan Palu  (masih  hidupnya Radja Maili) dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sejumlah data baik berupa data  Oral History ataupun tulisan missionaris Belanda, menyatakan bahwa Radja Maili tidak tewas dalam peristiwa Perang Kayumalue tahun 1888, walaupun terdapat  beberapa perbedaan penggambaran kronologis wafatnya  beliau, akan tetapi dapat dipastikan bahwa asbab wafatnya Radja Maili (Mangge Risa)  berlatarbelakang konflik internal Keluarga, dan bukan karena  Peluru pasukan Belanda. Mengenai latar waktu wafatnya beliau, asumsi liar saya  mempercayai bahwa peristiwa itu terjadi setelah tahun kunjungan N. Adriani dan  AC. Kruyt ke Kerajaan Palu, 1897,  atau  sembilan tahun setelah  peristiwa Perang Kayumalue.

Foto: Pusara Radja Maili di pemakaman Pogimba, Boya Ntongo (Kampung Baru).