24. Apr, 2018

Perlawanan Vinono (Papa I Hainta)

Vinono: Simbol Perlawanan terhadap Kolonialisme di Parigi.

“Ma‘bulapa boga ri vana  pade meta’ a mbaeva Balanda” semboyan tersebut merupakan kata-kata yang dipekikan Vinono dalam menentang hegemoni  compagnie di Kerajaan Parigi.

Berdasarkan silsilah yang tertera dalam kerajaan Parigi, Vinono merupakan anak dari   Magau Sawali (Raja Ali/Magau Baka Palo), sedangkan ibunya bernama Fundju,  seperti diuraikan  A.C Kruyt dan N. Adriani dalam catatan perjalanannya ketika mereka mengunjungi kerajaan Parigi tahun 1897, Mereka dikisahkan sebuah rahasia, bahwa Fundju (Ibu dari Vinono) adalah seorang Puteri dari seorang Raja Sigi.

Cerita  A.C Kruyt dan N. Adriani  itulah  yang kemudian terverifikasi, bahwa Raja Sigi yang dimaksud adalah seorang bangsawan Sigi Dolo berdarah Kumbili (Kayu Malue) bernama  Dae Matallu (saudara dari Lasakumbili dan Dei Pasisi),  sedangkan dalam silsilah Kerajaan Parigi Ibu dari Fundju  yang bernama Arabaiya tak dituliskan menikah dengan siapa, tetapi kemudian setelah dilakukan Komparasi silsilah, didapatkan, bahwa Suami  dari Arabaiya tersebut bernama Dae Matallu. Dengan demikian berarti Vinono mempunyai darah percampuran Sigi dan Parigi.

Vinono tercatat mempunyai beberapa Istri, yang pertama adalah saudaranya  yang berasal dari Dolago, yang melahirkan Hainta, karenanya  penyebutan lain dari  nama Vinono adalah Papa I Hainta. Istri kedua Vinono bernama Dae Sagala (Anak dari La Maroso yang menjabat Madika Matua) merupakan  kerabat beliau dari Pelawa, dari Dae Sagala, Vinono memperoleh keturunan Tiga orang, yaitu: Hanusu, Hapsa (Istri Borman Lemba, Madika Malolo Kerajaan Tawaeli) dan Sawaida/Pue Njumbi. Selanjutnya Istri dari Vinono bernama Wuri (Vuri), merupakan Bangsawan  yang berasal dari Tatanga, perkawinan Vinono dan Wuri dikaruniai  seorang Putra bernama Lagaramusu/Yodjo atau yang digelari Pue Boku, Istri Vinono terakhir yang tercatat dalam silsilah berasal dari Tindaki, dari istri tersebut Vinono menurunkan seorang Putra bernama Kunu.

Dalam Nota Van Toelitching van Paloe, Sigi, Dolo en Biroemaroe disebutkan  bahwa Vinono sempat melamar Adik dari Karandja Lemba, bernama Tondei, akan tetapi perkawinan tersebut  tak terlaksana, sehingga Vinono diharuskan membayar denda adat kepada Kerajaan Sigi.

 

Setelah Mangkatnya Magau sawali yang diperkirakan dikisaran tahun 1850-an, sebagai putra mahkota, Vinono telah disetujui Dewan hadat untuk melanjutkan Tahta  Ayahnya, dalam beberapa cerita yang berkembang  diketurunan  bangsawan Kerajaan Parigi, setelah mangkatnya Magau sawali, tahta sempat berpindah  kepada Adiknya bernama Radja Lolo/Papa I Ladjado, akan tetapi, pihak Belanda tidak meyetujuinya sehingga Radja Lolo  harus melarikan diri ke Labuan lalu menikah dengan anak Radja Palu bernama Ronempeluru Binti Djala Lemba. Belanda tak menyangka bahwa sikap Vinono setali tiga uang dengan Pamannya yang sangat membeci Belanda, sehingga  seperti yang digambarkan oleh A.C Kruyt dalam bukunya  Van Posso naar Parigi,Sigi en Lindoe di tahun sebelum 1897 terjadi dualisme Kepemimpinan di Kerajaan Parigi, dimana  terdapat seorang Jou Boki (Ratu) bernama Jinggi (Djengi) yang kala itu dilantik oleh Gubernur Belanda sebagai penguasa Parigi dan  mempunyai istana di  Desa Mesigit (Masigi),  Sedangkan seorang lagi merupakan Putra Mahkota bernama Papa i Hainta (Vinono) yang mempunyai istana di Parigi Mpoe (Parigi Mpu’u).

 Menurut catatan  Perjalanan  A.C Kruyt, beliau menuliskan bahwa Perlawanan Vinono terhadap Belanda berlangsung  pada tahun 1894-1897, perlawanan itu  banyak dipengaruhi oleh Samaralau alias Papa Pande, beliau adalah  seorang yang berasal dari Kayu Malue, hal itu sangatlah beralasan karena  jika  kembali ditelisik  bahwa Kakek Vinono, Dae Matallu adalah  berasal dari Kayu Malue (Kumbili).

Sampai akhir hayatnya, Vinono tak sudi untuk tunduk terhadap  Belanda, konsekuensi dari  sikap kerasnya itu, Vinono tak  dianggap sebagai Raja Parigi dan namanya tidak tertulis sebagai  Raja Parigi yang dibuat oleh Belanda,  di dalam keterangannya A. C Kruyt menginformasikan tanggal mangkatnya Papa I Hainta (vinono) yaitu tanggal  27 Agustus 1897, dikisahkanya pula  saat ia mengunjungi Parigi Mpoe, Jenazah Vinono masih disemayamkan (Nilumu) di sebuah bangsal (Kataba) yang dibawah peti matinya telah diletakan 3 kepala manusia, akan tetapi akan ditambah sehingga  menjadi 7 kepala manusia, selama Persemayaman tersebut terdapat sejumlah larangan  bagi masyarakat Parigi hingga Jenazah dimakamkan, hari itu dituliskan  Kruyt sebagai hari Ni’ombo.

Foto: Pusara Vinono diantara makam Magau Sawali (Bapaknya) dan Dae Sagala (Istri keduanya) dalam  Kompleks Makam Raja-raja Parigi di Parigi Mpu'u