21. Des, 2018

Toponimi Petobo.

PETOBO, KINTA dan SUNGAI NGGIA.

Dalam Peta buatan Etnograf Belanda,  Albert Christian Kruyt, yang ditulis berdasarkan   catatan perjalanannya Ke Lembah Palu tahun 1897, Kruyt menuliskan dengan jelas suatu daerah  bernama Petobo. 

Sejatinya Petobo merupakan penamaan baru,  sebelumnya Petobo bernama Jajaki, menurut Tutura Atman Givu Lando (Tokoh adat Pombewe); “Jajaki merupakan tempat polibu (Musyawarah), sebelum peristwa Kagegere Lando –Sidima, Jajaki sempat menjadi ibukota Sigi Sebelum pindah ke Janja (Biromaru)”

 Lanjut menurut Atman; “wilayah Jajaki sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu: Kinta, varo, Nambo, Ranjobori, Pantaledoke, Popempenono, dan Kaluku Lei”

Penamaan Petobo didasarkan dari peristiwa Taboge Bulava yang hendak dinikahi Pria Kaili Tara, dengan mahar dibuatkan saluran air dari Sungai Kawatuna, tetapi saat Prosesi Petambuli, sang mempelai Pria meninggal, sehingga daerah tempat meninggalnya disebut Petobo yang  diartikan jatuh tertelungkup.

Terdapat cerita turun temurun tentang Petobo, dalam kisahnya Petobo merupakan daerah khusus yang diminta untuk dijadikan tempat  tinggal, Atman mengatakan “dahulu penduduk Petobo  tidak bisa lebih dari 60 orang, jika lebih, maka akan terjadi bencana dan penyakit sehingga jumlahnya kembali menjadi 60 orang” lanjut Atman mengatakan; “ atas fenomena itulah sehingga dibuatlah upacara adat  dengan menyusun sejumlah tombak dan Guma (Pedang) untuk dijadikan Kinta, sejak saat itu penduduk di Kinta dapat bertambah”, menurutnya peristiwa itu mempunyai kesesuaian dengan Selamatnya daerah  Petobo Kinta dari Bencana Likuefaksi 28 September yang lalu.

Lainhalnya dengan penamaan Nambo, menurut Atman; “Nambo yang merupakan bagian dari wilayah Petobo (Sebelum Likuefaksi, letak Nambo sekitar Jl. Mamara), merupakan nama Raja Loru yang Na’Lanya (Hilang), bernama  Nambo Lemba,  beliau diceritakan hilang di DAS Sungai Nggia, karena dahulu wilayah Petobo, merupakan bekas aliran sungai Nggia dari Kapopo, yang kemudian  bertemu dengan sungai Kawatuna ke arah  Levonu (daerah sekitar Dunia Baru dan Mall Tatura)”

Petobo  dahulu hanya dipakai sebagai tempat berperang,  bukan untuk tempat bermukim, karenanya terdapat wilayah bernama Pantale doke (tempat menaruh tombak) serta Ranjobori yang dikisahkan sebagai wilayah khusus dilangsungkan peperangan, sedangkan di bagian bawah Petobo disebut Kaluku Lei (Sekitar Rumah sakit bersalin Nasana pura), karena wilayah tersebut banyak terdapat pohon kelapa dengan buah berwarna merah.