21. Des, 2018

Tagari Londjo, Tonggo Magau dan Pusentasi.

Foto: Lanskap Palu bagian Barat,  tahun 1946 (KITLV)

Cerita  Tagari Lonjo  menjadi  menggema setelah peristiwa Likuefaksi  yang terjadi di Perumnas Balaroa, menurut cerita masyarakat Baloroa dan sekitarnya, penyebutan  Na'Lonjo berasal dari  bahasa kaili yang  berarti tertanam, atau daerah yang berawa.

Dari mereka pula  dikisahkan  cerita tentang larangan untuk melalui daerah Lonjo, dahulu para pedagang yang  berasal dari Marawola  yang hendak  menuju Pasar Tua Bambaru  lebih memilih Jalur memutar  melalui daerah Duyu,  mereka takut  bila melewati  Lonjo, mereka akan tertanam  di dalam lumpur, padahal  Lonjo merupakan Jalur singkat menuju Pasar Tua di Bambaru.

Selain memiliki struktur tanah yang labil, sehingga disebut Lonjo,  dibagian sebelah Timur  daerah Lonjo  dikenal  sebagai  Tonggo Magau, yang berarti Tempat berkubangnya  kerbau-kerbau milik Raja Palu saat itu,  ada suatu  kisah yang diceritakan secara turun temurun  sampai saat ini, yaitu tatkala  peristiwa hilangnya kerbau Raja Palu, Djanggola. Kerbau yang hilang itu kemudian diketahui  jatuh di sebuah lubang yang tak jauh dari  daerah Tonggo Maggau, oleh  masyarakat setempat,lubang itu dinamakan Pusentasi, yang berarti Pusat Laut.

Menurut cerita yang berkembang,  Pusentasi terhubung dengan pesisir pantai Teluk Palu, keyakinan itu dikarenakan saat peristiwa hilangnya ternak  Raja Palu karena terjatuh  di Pusentasi, beberapa hari kemudian  bangkai ternak tersebut ditemukan di pesisir pantai teluk Palu.

Selain peristiwa  hilangnya ternak Raja Palu yang jatuh ke Pusentasi, Masyarakat sekitar melihat keanehan pada permukaan air Pusentasi, menurut mereka; permukaan air Pusentasi  akan naik jika di Laut sedang terjadi Pasang, dan sebaliknya Bula air laut surut maka permukaan  air di Pusentasi ikut turun, fenomena itulah  yang membuat Lubang itu dinamai Pusentasi atau pusat laut.

Seiring berkembangnya Kota Palu, daerah  Lonjo, Tonggo Magau dan Pusentasi mulai terdegradasi, segala Larangan untuk menjauhi daerah itu mulai tidak diindahkan, puncaknya di tahun 1980an ketika pemerintah bersama inverstor mulai menjadikan daerah itu sebagai lahan pemukiman dengan melakukan pengusuran dan penimbunan  lahan agar menjadi rata dengan maksud agar struktur tanah yang semula labil menjadi keras, sehingga layak untuk didirikan perumahan, yang kemudian dikenal dengan PERUMNAS BALAROA, tanpa disadari kegiatan itu justru sangat membahayakan. Peristiwa gempa 28 September 2018, dengan Magnitudo 7,4 SR, mengembalikan  struktur tanah Lonjo mejadi labil kembali, sehingga terjadilah peristiwa Likuefaksi.