23. Des, 2018

Kisah Dato Karama dan Tsunami.

Foto: Pintu gerbang pertama Kompleks makam Syekh Abdullah Raqie (Dato Karama).

Dato Karama  yang  bernama asli  Syekh Abdullah Raqie adalah pendakwah dari negeri Minang Kabau, di abad ke-17, dalam catatan sejarah  beliaulah yang pertama kali  menyebarkan ajaran tauhid di lembah Palu, saat itu Kerajaan Palu dipimpin  Raja pertamanya Pue Nggari.

Pertemuan  Syekh abdullah Raqie pertama kali dengan Raja Palu Pue Nggari  tertulis dalam buku  A.C Kruijt dan  N. Adriani, dengan judul De Bare’e Sprekende Toradja’s Van Midden celebes, halaman 300.

 

“Men sprak dus met elkaar door het geven van teekens en Poeë Nggari verbaasde zich zeer over het s ë m b a h j a' n g (het verrichten van de ritueele godsdienstoefening, 5 maal daags) van DatoeKarama. Zooveel begreep hij, dat Datoe Karama een bijzonder mensch was, endaarom wilde hij hem niet dooden”

 

(Terjemahan bebas)

mereka berbicara satu sama lain dengan memberi tanda dan Poe Nggari sangat terkejut dengan apa yang  dilakukan praktik ritual(Sholat, 5 kali sehari) oleh Datoe Karama.

Dia sangat mengerti bahwa Datoe Karama adalah pria yang spesial, dan karena itu dia tidak ingin membunuhnya.

 

Adalah  Abdul Aziz yang telah menjaga makam  Syekh Abdullah Raqie selama 32 tahun, mengisahkan  pengalaman spiritualnya saat mendengar kisah Syekh Abdullah Raqie (Dato Karama) kala terjadi tsunami dimasa yang lampau.

“Dato Karama Melihat Ombak bersusun tiga dari arah utara menuju Teluk Palu setinggi pohon Kelapa, lalu beliau berdoa sampil  melemparkan surbannya yang berwarna putih, sesaat kemudian  ombak tersebut  terpecah menjadi dua, dan menjauhi posisi makam saat ini”

Cerita inilah kemudian yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat jika terjadi gempa dan tsunami, kompleks Makam  Dato Karama dianggap sebagai tempat kumpul yang aman  dari gelombang tsunami.

Kepercayaan Masyarakat  khususnya  masyarakat sekitar Kelurahan Lere itu diamini  oleh Andi Alimuddin Rauf (Tokoh masyarakat di Kelurahan Lere), Pak Aco sapaan Akrabnya, mengatakan; “  Cerita dari Ibunya, Dahulu saat terjajdi tsunami tahun 1938, Semua keluarga Kerajaan Palu  di Lere mengungsi ke Rumah  Idjaza di depan Masjid Nur, setelah beberapa hari disuruhlah seseorang untuk melihat kondisi rumah Raja, dari Laporan itu disebutkan bahwa air laut  hanya sampai di tangga saja, dan makam Dato Karama tidak terdampak sama sekali” lanjut menurut beliau  “di kompleks makam itu  terdapat pula  kakek-buyut saya yang bernama Dato Bahoro, beliau diceritakan pernah berlayar dan disapu badai selama berhari-hari saat mengarungi lautan”

Hal serupa terjadi saat bencana 28 September 2018, gelombang tsunami hanya mampu  menggenangi pintu gerbang kedua kompleks pemakaman, tidak sampai di Kompleks Pemakaman  Syekh Abdullah Raqie, kejadian itu semakin meneguhkan cerita kesaktian Dato Karama dikalangan Masyarakat Kelurahan Lere, saat  beliau membelah tsunami dengan surbannya.