24. Des, 2018

Krakatau Meletus, langit di Lembah Palu gelap gulita.

Pict: Peta  letusan Gunung Krakatau, 27 Agustus 1883.

Masih ingat adegan Film "Krakatoa, The Last Day"?, film besutan Sam Miller itu mengisahkan tentang bencana vulkanis, meletusnya Gunung Krakatau, film yang diangkat ke layar lebar berdasarkan  tulisan-tulisan Rogier Verbeek, seorang ilmuan geologi asal Belanda.

Nama Rogiar Verbeek  menjadi tak asing di telinga orang Sulawesi, karena  namanya kemudian diabadikan sebagai nama pegunungan di sebelah tenggara Kabupaten Poso,  Provinsi Sulawesi Tengah yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam catatan Verbeek (1884-1885) yang diamatinya lebih dari seratus pelabuhan melalui catatan gelas ukur. Ia berpendapat bahwa kecepatan penyebaran tsunami bergantung pada kedalaman laut dan samudera dari studinya mengenai oseanografi . Hasil penyelidikan-nya mengenai tsunami Krakatau menunjukan bahwa gelombang yang paling tinggi terjadi di Merak, 36 m; Teluk Betung, 24 m; dan pantai selatan Bengkulu, 15 m. Efek resonansi dan kembalinya tsunami meng-akibatkan erosi dan pengendapan sedimen di dasar laut secara bergantian.

Verbeek (1884) juga mencatat bahwa di Padang, Sumatera Barat, tsunami tercatat pertama kali pada pukul 13.25, kemudian disusul gelombang kedua pada pukul 14.20. Gelombang ketiga merupakan gelombang tertinggi, 3,52 m terjadi pada pukul 15.12. Antara 27 Agustus, pukul 12.00 sampai 28 Agustus, pukul 7.30 tercatat 13 kali gelombang air pasang.

Berdasarkan berita yang dihimpun dari laporan seluruh dunia, Verbeek (1885) memperhitungkan bahwa penyebaran tsunami yang tertinggi mempunyai kecepatan antara 540 sampai 810 km/jam. Tsunami mengelilingi dunia dari Krakatau ke arah barat dan timur, kemudian dipantulkan kembali sebanyak 6 kali dari catatan watergauge yang terpasang di seluruh dunia.

Langit Gelap di Lembah Palu.

Berita dampak Letusan  Krakatau di Selat Sunda terhadap  lembah Palu hampir tak pernah dilaporkan, terkecuali  yang tersisa  hanya cerita turun-temurun tentang  langit  gelap, seperti malam yang panjang, hal itu dituturkan Effendi Junda di Besusu; “ menurut Kakek Buyutnya yang kemudian diceritakan kepada Bapaknya, bahwa sebelum peristiwa Kagegere Kapapu Kayumalue (perang Kayu malue), Langit  di Palu gelap selama berhari-hari, orang-orang  berdiam di dalam rumah karena mengira malam yang sangat panjang”

Dalam goresan sejarah di Lembah palu  Junda adalah Tadulako  Besusu yang berasal dari Vunta, cerita-cerita beliau  banyak dirujuk menjadi tulisan tentang kronogis Perang kayumalue, karena  saat itu beliau sebagai salah seorang Panglima perang, Junda sendiri meninggal  pada tahun 1945.

Cerita gelapnya langit di Lembah Palu oleh Junda itu ternyata terjadi di tahun 1883 atau lima tahun sebelum perang Kayumalue (1888), terbatasnya komunikasi dan informasi  menyebabkan berita meletusnya Gunung Karakatau  di Selat sunda  27 Agustus 1883 saat itu tak sampai di telinga masyarakat Lembah Palu, justru yang dirasakan hanya langit yang gelap gulita dengan berbagai tanya asbabmusababnya.