25. Des, 2018

Loli Pesua dan Salura: Kampung Pemekaran Dengan Sejarah Tsunami.

Foto: Peta  Penamaan wilayah Loli, tahun 1938 (Catatan A.C Kruyt, diterbitkan Amsterdam : Noord-Hollandsche, 1938)

Awalnya Loli merupakan  salah satu  dari Kota, Pitunggota Kerajaan Banawa,  di bawah kendali Raja Banawa, pada masa kemerdekaan,  Loli kemudian menjadi sebuah Kampung dengan Kepala Kampung pertamanya bernama Dey Pakunje.

Tahun 1960, Loli berubah menjadi Desa dan terbagi menjadi 2  yaitu; Loli Induk dan Loli Oge,  kemudian tahun 2008, dilakukan lagi  pemekaran sehingga terpecah menjadi 5 Desa; Loli Tasiburi, Loli Dondo, Loli Pesua, Loli Saluran dan Loli Oge.

Penamaan 2 Desa pemekaran Loli, sangat erat kaitannya dengan sejarah kebencanaan di daerah itu, 2 daerah yang dimaksud adalah Desa Loli Pesua dan Loli Salura.

Cerita Tsunami di Desa  Loli Pesua dinukilkan dari cerita  saksi korban tsunami 1938, beliau di panggil Pi’ Dahe (Ibu dari Dahe), wanita kelahiran 1930 itu berkisah; saat itu usianya masih 8 tahun, dan harus menyelamatkan diri bersama orang tuanya ke bukit untuk menghindari  gelombang tsunami 1938 yang menurutnya  lebih dahsyat jika dibandingkan tsunami 28 September kemarin.

Lanjut beliau menuturkan nama Pesua merupakan nama yang diabadikan sebagai pertanda bahwa daerah itu merupakan  daerah terdampak tsunami 1938, berasal dari kata Pesua Uwe Ntasi yang berarti Masuknya air laut  (Gelombang tsunami).

Ingatan  tentang jalur-jalur yang dilaluinya saat  menyelamatkan diri saat tsunami 1938 merupakan modal bagi masyarakat disana untuk melakukan  evakuasi saat tsunami  kembali menerjang pada tanggal 28 September kemarin.

Lain halnya dengan Loli Salura, Penamaan Salura diambil dari  nama bukit Njoura atau Soura , menurut Abdi Losulangi; “ Njoura atau Soura berarti tebing,  dahulu merupakan  tempat mengambil air Bangsawan, karena di tempat itu terdapat sumber mata air Bolovatu”

Sama seperti pengetahuan lokal di Loli Pesua, Masyarakat Loli Salura pun dibekali insting Mitigasi, saat gempa terjadi  dan air laut surut mereka harus secepatnya menuju bukit dan menjauh dari bibir pantai.

Kearifan Lokal Masyarakat Loli Pesua dan Salura tentang mitigasi, berbuah manis, saat Bencana  Gempa dan Tsunami 28 September, dari 1700 jiwa penduduk kedua Desa, Korban meninggal 4 orang saja, dan keempatnya merupakan lansia, padahal  tingkat kerusakan  bangunan di kedua Desa mencapai 90%.

Sekali lagi kita diberi pelajaran Bahwa merawat ingatan akan senantiasa membuat kita mawas terhadap marabahaya yang akan menimpa.