26. Des, 2018

Sejarah Kampung Baru Mamboro, Kampung Relokasi 1938.

Foto:  Kondisi Pesisir Kelurahan Mamboro setelah tsunami 28 September 2018.

Tsunami 1938 yang menghantam Lembah Palu berdampak pada  beberapa kampung di Pesisir Teluk Palu, salah satu kampung dengan tingkat Kerusakan terparah saat itu adalah Mamboro.

Seperti yang dilansir sejumlah surat kabar Hindia Belanda diantaranya;  De Tijd dan Nieuwsblad van het Noorden bahkan berita gelompang Pasang yang melanda Palu diberitakan juga sejumlah koran di Amsterdam Belanda; Leeuwarder Nieuws Blad dan De Gooi- en Emlander. Peristiwa tersebut terjadi tanggal 20 Mei 1938, dengan  kekuatan 7,6 SR (data BMKG)

Pada Tahun 1938 Posisi Kampung Mamboro berada di pesisir Pantai  (Saat ini Jl. Tg. Ruru), beberapa Narasi  kronologis  peristiwa tsunami di Mamboro masih melekat di benak Masyarakat di sana, salah seorang penutur yang juga merupakan  saksi Korban adalah Norma Hali, Wanita Kelahiran 1934 itu, mengisahkan tentang situasi Mamboro di tahun 1938 saat diterjang tsunami, kala itu beliau berumur 4 tahun, dan harus dievakusi karena rumah orangtua serta kerabatnya tertelan gelombang tsunami, dari beliau didapatkan cerita bahwa di Kampung tua Mamboro  yang terdampak tsunami terdapat, Pasar, masjid, rumah penduduk serta Rumah Istri Raja Tawaeli Joto Labu lembah yang bernama Mahanila.

Cerita korban tsunami 1938 di  Mamboro yang berdarah Tionghoa, sempat menjadi pemberitaan surat kabar Belanda, selanjutnya terkulik fakta bahwa wanita  tionghoa yang dimaksud bernama Ban Ho, Dia merupakan Pedagang  bahan campuran yang menyewa kolong rumah Halibo Risa untuk dijadikan toko. Awalnya saaat tsunami menerjang Kampung Mamboro, Ban Ho sempat menyelamatkan diri bersama penduduk lainnya,  menurut cerita  yang berkembang di masyarakat  Mamboro; Ban Ho kembali lagi ke Tokonya   hanya untuk mengambil sejumlah cacatan Bon, saat itulah  tsunami  menghempasnya dan membuat dirinya tidak dapat tertolongkan.

Setelah peristiwa kelabu 20 Mei 1938, Masyarakat Mamboro bersama Permaisuri Raja Tawaeli di Relokasi ke beberapa wilayah, Permaisuri Mahanila kemudian menetap di Kampung Mamboro Ngapa, sedangkan masyarakat lainnya membuat Kampung Baru di Lokasi Saat ini yang dikenal dengan Pusat  Kelurahan Mamboro Barat,  ada beberapa rumah  yang selamat dari terjangan gelombang tsunami  1938, salah satunya adalah rumah panggung  milik  Hi. Mahmud yang merupakan Kerabat Istri Raja Tawaeli, rumah itu kemudian secara gotong royong dipikul untuk dipindahkan  dari Kampung Mamboro  (Tg.Ruru) ke Kampung  Baru Mamboro (sampai saat ini rumah tersebut masih kokoh berdiri, di Depan Masjid Jami Mamboro).

Setelah tanggal 20 Mei 1938, daerah  Kampung Mamboro yang terdampak tsunami menjadi kosong, tetapi kemudian secara perlahan dihuni kembali hingga terulang kembali musibah yang sama  di tanggal 28 September 2018,  cerita tsunami 1938 memory kembali tetapi dengan jumlah korban yang lebih banyak.