28. Des, 2018

Sejarah Bencana Non Alam (Wabah Penyakit) di Lembah Palu.

Foto: Laporan Belanda, tentang wabah Diare  di Palu, Poso, Menado dan Kwandang, tahun 1916.

Undang-Undang  Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan  bencana mendefinisikan Bencana sebagai  peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Produk legislasi itu  mengkategorikan jenis- jenis bencana menjadi  3 kelompok, yaitu; bencana alam, bencana Non alam dan becana sosial.

Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Sejarah bencana non alam di  Palu, Sigi dan Donggala terekam melalui sejumlah arsip dan cerita (Oral History),  bahkan beberapa kasus  menjadi perhatian khusus pemerintah Kolonial Hindia Belanda di masanya

Berikut  peristiwa  bencana  non alam  berupa penularan penyakit  yang menyerang penduduk Lembah Palu dalam lintasan sejarah;

Gondok.

Penyakit Gondok (struma) adalah pembengkakan di leher (laring) karena kelenjar tiroid yang membesar. Gondok Banyak diderita penduduk Lembah Palu, khususnya yang mendiami  dataran tinggi, sebuah  dokumentasi foto Hindia Belanda hasil jepretan Albert Grubauer, di akhir abad ke-19, menggambarkan   salah satu daerah yang banyak penderita  Gondok adalah Kampung Saluboku di Sulawesi tengah.

Disentri.

Awal Abad ke-20, tepatnya tahun 1916-1917, Lembah Palu terserang wabah penyakit disentri, kejadian  luar biasa ini membuat pemerintah Kolonial harus mengeluarkan peringatan khusus,  tentang  bahaya disentri, wabah penyakit itu kemudian menjadi asbab meninggalnya anak Jodjokodi yang bernama La Pariusi (Ayah dari Djanggola), menurut Andi Alimuddin Rauf ; “cerita yang diturunkan dari Ibunya saat itu banyak Orang yang meninggal, jika ada  jenazah yang akan dimakamkan, beberapa saat kemudian ada lagi yang meninggal, bahkan ada lokasi kuburan massal di Kampung Lere waktu  itu” ,  beliau melanjutkan tentang wafatnya  La Pariusi ; “  Kenapa Bapak dari Djanggola  (La Pariusi) dimakamkan di dekat Masjid Lere bukan di  Tangga Banggo, Siranindi?  karena  wabah disentri saat itu, orang-orang ketakutan untuk keluar dari rumah”.

Dalam Dokumen  tertanggal  28 April 1917, pemerintah Hindia Belanda melalui Residen Menado, menjadikan wabah Disentri menjadi perhatian khusus di Midden Celebes, wabah disentri saat itu diinformasikan  telah menjangkit  di Poso , Menado, Kwandang dan Bolaang Mongondow sedangkan penyebabnya  berasal dari  kotoran hewan (Kerbau dan Kuda).

 

 

Flu Spanyol

Penyakit Flu Spanyol Menjadi Bencana Dunia pada tahun 1918, menurut virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai "The Mother of All Pandemics” hal itu karena kedahsyatan penyebarannya, penyakit yang diyakini berasal dari Camp Funston dan Haskell County (Kansas) Amerika Serikat itu dibawa oleh buruh Tiongkok dan Vietnam yang dipekerjakan militer Inggris dan Perancis selama Perang Dunia I (PD I). pandemi bermula di Swedia atau Rusia lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara. Virus  flu Spanyol membinasakan sepertiga populasi dunia.

Bulan Oktober-Desember 1918 virus Flu Spanyol mewabah sampai ke Lembah Palu, sebelumnya  Virus itu telah sampai ke Jawa dan Sumatera,  menurut pemberitaan surat kabar Soerabaia diperkirakan 1,5 juta penduduk Hindia menjadi korban virus flu spanyol,  di dalam dokumen Belanda  menguraikan bahwa Virus Flu Spanyol  menjadi penyebab kematian Raja Kulawi  Tomampe ( Toma I Masi),  masih di dalam laporan yang sama virus Flu Spanyol juga menjangkiti Raja Palu yang bernama Parampasi , di Nisan Magau  (Raja) Parampasi, bertuliskan ” " Kaanat Wafat (Telah Wafat),Parampasi Magau Palu, 12 Rabiul Awal Sanata , 1337 Hijriah”   bila  dikonversi  ke dalam penanggalan Masehi menjadi,  16 Desember 1918.

 

Lepra (Kusta)

Penyakit Lepra atau kusta oleh Masyarakat Kaili disebut dengan Lampa Vau, sejak tahun 1920-an, Penyakit Lampa Vau telah mewabah  di Lembah Palu, di dalam catatan Kolonial, tahun 1933 telah dibangun sebuah Sanatorium (Leprozarie)  di Watusampu,  penyakit  yang disebabkan Mycobacterium leprae ini pada awalnya disebut sebagai penyakit kutukan, karenanya penderita Kusta  disembunyikan  bahkan dijauhi dalam pergaulan sosial.

Tahun 1942 penularan  Penyakit Lepra menjadi meluas, sesuai dengan dokumentasi foto NMVW, yang menggambarkan sejumlah warga Watusampu penderita lepra di kumpulkan, untuk didata dan diobati, selanjutnya tahun 1960-an pemerintah,  medirikan  tempat penderita penyakit Kusta/lepra di daerah Kawatuna (Sekarang  menjadi AKPER),  eksistensi Sanatorium Kawatuna digunakan sampai  akhir  tahun 1980-an.

Flu Mao

Penyakit Flu mao mewabah di Palu tahun 1970, seperti yang dilansir surat  kabar Sulteng Pos, tanggal  10 Januari 1970, virus Flu Mao menyerang warga Kota Palu setelah merayakan Natal, Tahun Baru serta Lebaran yang  jatuh  pada waktu yang berdekatan.

Dikabarkan saat itu Warga Kota Palu tidak dapat keluar rumah dan hanya tiduran saja, karena Flu Mao menyerang persendian yang diikuti demam serta muntah-muntah.Wabah Flu Mao pun menjangkit sampai ke daerah Donggala.

Demikian beberapa  wabah penyakit di Lembah Palu yang terekam dalam  ingatan, semoga kita semakin memperhatikan kebersihan serta menjaga  pola hidup yang higienies setelah terjadi bencana 28/09/2018, untuk menghindari mewabahnya penyakit setelah bencana.