2. Jan, 2019

Gempa dan Tsunami Banggai, 4 Mei 2000.

Foto: Kondisi Bangunan di Kota Salakan setelah Gempa 04/05/2000 dan Bupati Banggai (Hi. Sudarto, SH.) saat menemui Korban di tempat pengungsian.

Bencana  Gempa dan Tsunami Kabupaten Banggai terjadi pada hari Kamis, tanggal  4 Mei 2000, pukul 12:21 WITA., dengan kedalaman 26 KM (16 mil) berpusat di 1,356 Lintang Selatan  dan  123, 57 Bujur Timur ( Kompas, 5 Mei 2000).

Gempa   Banggai  4/05/2000, menurut data Badan Geologi Amerika Serikat  berkekuatan 7,6 Mw (Magnitudo Moment),  memicu gelombang tsunami  3 m, dengan gempa susulan sebanyak 9 kali.

 Gempa dirasakan sampai ke Toli-toli, Menado, Gorontalo, Palu dan Ternate dengan intensitas II-IV MMI, sedangkan di Luwuk  besaran Intensitas gempa VI-VII MMI ( Modified Mercally Intensity).

Pewarta Kompas  tanggal 05/05/2000 menuliskan, tiga korban tewas di Luwuk, empat orang lainnya mengalami luka-luka akibat tertimpa bangunan. Akibat getaran gempa di Luwuk, beberapa bagian bangunan pada Kantor Bupati Banggai, Gedung BRI, dan Mesjid Darussalam mengalami kerusakan.

Sementara di Desa Ponding-ponding, Kecamatan Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan terdapat sedikitnya 60 rumah ambruk, dua unit bangunan SMP, sebuah bangunan SD, Kantor Diknas Kecamatan, sebuah masjid, sebuah gereja, dan dua dermaga. Kerusakan bangunan yang sama parahnya terjadi di Kecamatan Balantak.

Tsunami  menenggelamkan 2 Desa di Pulau Peling (94 Km arah Tenggara Luwuk), Desa tersebut adalah Kayuntayo dan  Uwedikum dengan korban tewas sebanyak 9 orang. Di Koran yang sama edisi tanggal  9  Mei 2000, menuliskan   akibat gempa dan tsunami sekitar  700 KK atau 3.000 warga Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) melakukan eksodus ke Luwuk. Pemberitaan selanjutnya tanggal 20 Mei 2000 kembali pewarta Kompas menuliskan ;  Di Kabupaten Bangkep, sekitar 26.682 jiwa pengungsi tersebar di tempat penampungan, yakni Lapangan Trikora Salakan (sekitar 3.548), Pelabuhan Penyeberangan Salakan dan di jalan-jalan (sekitar 3.365), Lapangan Sepak bola Totikum (sekitar 13.980), dan Lapangan Sepak bola Banggai (sekitar 5.789 jiwa). Sementara di Kabupaten Banggai terdapat sedikitnya 13.000 jiwa pengungsi tersebar di Kecamatan Luwuk (sekitar 4.450), kecamatan Lamala (sekitar 3.678), Kecamatan Balantak (sekitar 4.760), dan Gedung Nasional Luwuk (sekitar 205 jiwa).

Korban Gempa  dan Tsunami  Banggai 4 Mei 2000  secara keseluruhan  menewaskan 54 Orang dan 264 orang Luka-luka.

Penyebab Gempa Banggai

Daryono (BMKG) menuliskan  bahwa Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah merupakan bagian dari kerangka sistem tektonik Indonesia. Daerah ini terletak pada zona “triple junction”, terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik, sehingga ketiganya bertumbukan mengakibatkan Daerah Banggai sebagai salah satu daerah yang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi di Indonesia.

Daryono juga mengutip pendapat Steve, J.M. and Moyra E.J.W., 1998, (Biogeographic Implication of the Tertiary paleogeaographic evolution of Sulawesi and Borneo, SE Asia Research Group, University ofTechnology, Perth, Australia):   “Struktur Sesar Naik Balantak, Sesar Naik Batui, Sesar Naik Sangihe Timur dan Sesar Naik Sorong Utara, Sesar Naik Sula, Sesar Matano dan Sesar Sorong Utara merupakan generator gempabumi yang berpotensi mengguncang wilayah Kabupaten Banggai dan sekitarnya”

Testimoni Rehabilitasi Gempa dan Tsunami Banggai

Alm. H. Sudarto, SH, M.Hum. dalam bukunya “ H.Sudarto, SH, Karir Kepemimpinan, Demokrasi, Reformasi dan Otonomi Daerah” (2001) susunan Haryanto Djamulang menuliskan  pengalamannya sebagai Bupati Banggai  (1996-2001) kala peristiwa  4/5/2000,; “Guna membantu mengatasi bencana gempa bumi, pemerintah Kabupaten Banggai telah memperoleh bantuan dari berbagai pihak baik pemerintah pusat, Provinsi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat serta pihak-pihak yang bersimpati,  walaupun saya selalu dituding “over acting” , saya berprinsip ini adalah  masalah kemanusiaan, dan siapa saja yang mampu  wajib hukumnya untuk saling membantu”

Pun demikian Komandan Kompi Senapan A/711 Raksatama Kapten (Inf) Sudaryono menuturkan pada pewarta Kompas (Jumat, 20 Mei 2000); ‘“Kami menyatakan terbuka untuk menampung para pengungsi yang membutuhkan tempat. Bila perlu mereka kami tempatkan di barak-barak prajurit yang dapat menampung sekitar 400 jiwa,”.