3. Jan, 2019

Kumbili: Kampung yang selamat dari Bencana Tsunami 1938.

Foto: Peta Pesisir Teluk Palu, 1899.

Kumbili merupakan  nama tua dari Kayumalue, penamaan Kumbili  diambil dari nama pohon yang hanya hidup di daerah itu, selain tak bisa tumbuh di tempat lain, pohon kumbili memiliki siklus hidup yang sangat unik, karena hanya tumbuh dalam  waktu beberapa tahun, lalu puluhan tahun kemudian mati, dan hidup lagi.

Kumbili yang selanjutnya berubah nama menjadi Kayumalue, sedari dulu merupakan wilayah yang kaya akan cerita kesejarahan, bukan saja cerita  bertema Patriotisme, karena Kayumalue dikenal sebagai tempat pecahnya Perang Kerajaan Palu dan Kolonial Hindia Belanda (1888) yang dikenal dengan  peristiwa Kagegere kapapu Nu Kayumalue. Sejarah Kebencanaan pun menyebut Kumbili (Kayumalue) merupakan  daerah yang selamat dari amukan tsunami 20 Mei 1938.

Kayori ( sastra Lisan Suku Kaili) menggambarkan Kejadian Tsunami 1938 dimana Kayumalue menjadi satu-satunya daerah yang selamat di Teluk Palu dari ganasnya Gelombang tsunami, oleh masyarakat Kayumalue  Kayori itu diyakini terucap dari mahluk astral “Ular berkepala dua”  sebagaimana  bunyi syairnya;

                Goya-goya Gantiro

                To’ Kabonga Loli’o

                Palu, Tondo, Mamboro Na’ Toyomo

                Kayumalue Melantomo.

 

Artinya: Gempa  Bumi di Ganti (Banawa),

dirasakan juga oleh Orang Kabonga dan Loli.

Palu, Tondo dan Mamboro telah tenggelam (Tsunami), hanya Kayumalue  yang terapung (Selamat dari tsunami).

 

Syair Kayori  gempa dan tsunami 1938  kemudian menjadi ingatan kolektif masyarakat Kayumalue. Bahkan  pada saat bencana 28 September 2018, tak sedikit orang yang  mengaevakuasi diri dan keluarga mereka  menuju Kayumalue, mereka yakin bahwa Kayumalue merupakan daerah  evakuasi yang aman, sebagaimana kejadian tsunami 1938.