4. Jan, 2019

Dari Kaombona hingga menjadi Tana Runtu

Foto: Tampak atas daerah Kaombona.

Gempa dan tsunami yang menerjang Teluk Palu,  1 Desember 1927, menyisakan sedikit penamaan wilayah terdampak di Pesisir  Teluk Palu. Kaombona, begitu penduduk Lokal “Kaili” menyebutnya,  Kaombona berasal dari Kata  Na’ Ombo, Donna Evans menuliskan arti Kata Na’Ombo dalam Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Ingggris yang disusunnya, “ naombo adj. 1) tercekung; runtuh. cave it; sunken; collapse inward as an old building; collapse inward”.

 

Di dalam  memori kolektif  masyarakat Teluk Palu, penyebutan Kaombona  berawal dari turunnya permukaan tanah di sekitar pesisir Teluk Palu  yang  diakibatkan  gempa dengan  kekuatan 6,5  SR, pada hari Kamis,  1 Desember 1927 Pukul; 12.37 Wita. Menurut data BMKG,  pusat gempa saat itu berada di 119,5 BT dan 0.5 LS .

 

Pewarta  Koran De Telegraaf ( Minggu, 4/12/ 1927), menuliskan berita bertajuk: “HEVIGE AARDBEVING TE DONGGALA” (Gempa Bumi Dahsyat di Donggala), menyebabkan  kerugian 50.000 gulden  serta korban  meninggal 14 orang dan korban luka-luka 50 Orang.

Ahmad Arif dan Azwin Rizal Harahap  dalam Tulisannya  yang berjudul “Hikayat Runtuhnya Tanah Runtuh” mengutip  Data  Novosibirsk Tsunami Laboratory bekerja sama dengan World Agency for Planetary Monitoring and Earthquake Risk Reduction (2007), menunjukkan saat itu,  tinggi tsunami mencapai 15 meter. Dasar laut juga mengalami penurunan sedalam 12 meter.

Penurunan permukaan tanah sedalam 12 meter itulah  menjadi cikal bakal penamaan daerah tersebut  dengan sebutan Ka ‘Ombona, Secara spesifik  lokasi “Kaombona” berada di Pesisir,  dimulai dari  Rumah Makan Heni Putri Kaili sampai ke Lokasi  Polsek Palu Timur ( Lokasi eks sirkuit cross Tana Runtu).

Penyebutan Kaombona mulai pudar pada era 1970-an,   saat  itu  disekitar lokasi Kaombona  (saat ini telah menjadi Showroom dealer Mobil   Hadji Kalla) dijadikan  arena Mottocross yang dikenal dengan Sirkuit Tana Runtu,  penamaan  sirkuit “TanaRuntu” bersinonim dengan kata Ka’ Ombona, yang bermakna permukaan tanah yang turun.

Sejak 1972 sampai tahun 2000-an  berbagai gelaran even  Mottocross semakin membenamkan penyebutan  nama Ka’ombona, hingga timbul  keinginan  Pemerintah Kota Palu, menamakan Hutan Kota  di Sekitaran lokasi MTQ dengan nama Hutan Kota Ka’Ombona, inisiatif itu sejatinya  kembali mengangkat  nama Ka’ombona walau sebetulnya penamaan itu adalah sesuatu yang  ahistoris.
.