1. Okt, 2019

Selamat Memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Dituduh PKI, Ketua  Serikat Buruh Muslim Indonesia (SARBUMUSI) Kabupaten Poso, Dipenjara Delapan Tahun

Foto: Surat Pernyataan Eks'Ketua Partai Natdhatul Ulama di Poso

 

Serikat Buruh Muslim Indonesia (SERBUMUSI/SARBUMUSI)  adalah Organisasi Massa/oderbouw dari  Partai Nahdlatul Ulama (NU), bukan rahasia,  bahwa pendirian SARBUMUSI pada tanggal 27 September 1955, adalah upaya  Nahdlatul Ulama untuk menghambat laju organisasi buruh besutan PKI, SOBSI.

Rivalitas SERBUMUSI dan SOBSI pun terasa hingga ke daerah, termasuk di Kabupaten Poso. Ada kejadian yang menarik pada tahun 1971, ketika   mantan Ketua  I SARBUMUSI Kabupaten Poso, ditangkap Oleh  Tim  Satgas Intel unit C Poso,  atas tuduhan keterlibatannya pada  PKI.

Tuduhan  tersebut  didasarkan atas penulisan  nama yang memiliki kemiripan, tetapi kemudian terbukti bahwa penangkapan tersebut sarat akan Politisasi karena persaingan figur yang akan menduduki kursi anggota Dewan Kabupaten Poso.

Dalam  sebuah naskah, Sang Ketua SARBUMUSI (Sengaja saya tak menuliskan nama, atas permintaan Keluarga) menuliskan Kronologis penangkapan hingga Siksaan yang dialaminya, sebagai paksaan untuk  menandatangani pernyataan keterlibatannya dalam Organisasi SOBSI, yang terafiliasi dengan PKI.

“Saya dilibatkan pada G 30S/PKI dituduh sebagai Anggota SOBSI, sebelumnya  saya pernah menghadiri pemanggilan Tim Pelaksana Khusus Daerah (LAKSUSDA) di Kantor Polisi Militer (PM) pada  Bulan Januar, 1971. Saat itu saya diperlihatkan sebuah nama yang hampir sama dengan nama panggilan saya,  dan saya menyatakan itu bukan nama lengkap saya. Berita acara pemeriksaan itu kemudian saya tandatangani” Tulisnya pada sebuah kertas.

“Tetapi beberapa bulan kemudian, tepatnya di Bulan April, 1971,  saya ditangkap  di Kantor Pemerintah  Daerah Tingkat II Poso,  tanpa pemberitahuan dan surat penangkapan, oleh Satgas Intel Unit C Poso. Kemudain saya diperiksa dengan pertanyaan yang tidak menjurus pada  kesalahan saya, pada awalnya saya disuruh membuka  baju kemeja dan celana dinas saya, lalu ditanya, apa kerja saya di pelabuhan  dan Siapa Jacob Lamadjuda.”

“Saya menjawab, bahwa saya bukan  buruh di pelabuhan, saya adalah pegawai pemerintah, hanya kebetulan bahwa saya  Ketua Organisasi Buruh SARBUMUSI, Organisasi ini adalah Onderbouw dari Partai Nahdlatul Ulama di Poso, Jacob Lamadjuda adalah teman seperjuangan saat menegakkan Kemerdekaan  republik Indonesia di Poso tahun 1945”

“ Jawaban saya itu tidak mereka terima, kemudian saya disuruh mengaku dan mengaku disertai cambukkan  dan  pukulan secara bertubi-tubi. Alat yang dipakai berupa  seikat rotan  basah terdiri dari  5 batang yang berukuran sebesar ibu jari  dengan panjang 75 cm. Rotan itu dipukulkan sampai hancur, hingga tubuh saya berlumuran darah, selain itu dipasang pula kabel strum pada ibu jari dan kemaluan saya.”

“Siksaan itu dilakukan mulai dari jam 10 Pagi sampai jam 14 baru berhenti, lalu disambung lagi jam 16 Sore dengan siksaan strum pada tubuh saya sampai pukul 20 (menurut ingatan saya, karena setelah itu saya tidak sadarkan diri/pingsan), selama itu saya tidak tahu orang, nantipada pemeriksaan kedua tepatnya tiga hari dari pemeriksaan pertama (berarti saya  pingsan selam 3 hari) saya baru menyadarinya.”

“Pada pemeriksaan kedua, saya dipaksa mengakui bahwa saya anggota SOBSI, saya menjawab, bahwa kapan dan dimana saya  menjadi anggota SOBSI?, saya tidak mengerti tentang SOBSI, saya adalah Pengurus Partai Nahdlatul Ulama, di Poso, jabatan saya adalah  Bendahara, sejak tahun 1963, dan saya  merupakan Pegawai Negeri, Karena  ada peraturan Menteri dalam Negeri yang melarang Pegawai negeri berpartai, maka saya memutuskan memohon berhenti dari Partai”

“ Sebulan berlalu, pemeriksaan secara hukum rimba dengan paksaan itu terus menerus memaksa,  untuk mengakui keterlibatan saya sebagai Anggota SOBSI, disetiap pemeriksaan itu pula  saya membantahnya, dengan alasan kebenaran. Sampai pada suatu saat, datanglah pemeriksa di kamar tahanan saya, dengan suara lemah lembut, membujuk dengan sehelai kertas konsep pemeriksaan yang isinya menyuruh saya  menuliskan diatas kertas itu tentang keterlibatan saya  di SOBSI dan mengakui  bahwa Jacob Lamadjudja adalah teman seperjuangan saat Kemerdekaan 1945 di Poso. Dengan tangan gemetar karena takut akan siksaan sebelumnya, saya menuliskan kesaksian yang mereka inginkan, kemudian mereka ketik lalu saya disuruh menandatanganinya, atas dasar itulah, kemudian saya ditahan secara terus-menerus dari  Bulan April 1971 sampai saya di bebaskan pada Bulan Desember 1979”.

Berdasar surat keterangan dari Komando Daerah Militer XII merdeka Komando Distrik Militer 1307 Poso. Nomor SK-002/8/Dim/1968 tanggal 31 Agustus 1968, serta Surat Pernyataan Jacob Lamadjudja  sebagai Ketua Partai Komunias Indonesia Daerah Poso yang menyatakan Bahwa beliau bukan  anggota PKI dan tak terlibat didalam anggota SOBSI, kemudian diperkuat lagi dengan surat keterangan  Mahfud Badjeber  dan Maaruf Tato selaku  bekas Pimpinan Nahlatul Ulama Poso, Kemudian Beliau dipulihkan haknya sebagai warga negara  serta berhak menerima Pensiun pegawai negeri, karena statusnya Sebagai Pegawai Negeri di DAT II Poso.

Demikian kisah Seorang Ketua I SERBUMUSI Kabupaten Poso yang dipenjara karena tuduhan  terlibat PKI. Peristiwa itu memberi gambaran, bagaimana Stigma PKI kemudian menghancurkan kehidupan seseorang. Sejatinya Bencana Kemanusiaan 65, memposisikan kita semua adalah korban,  yaitu korban manipulasi informasi.