Panggare Nu'Manu

27. Des, 2018

Foto: Lelo N'Tasi, dilihat dari Desa Vayu.

Lembah Palu adalah Lautan yang mengering, Pernyataan itu mempunyai relevansi dengan penemuan sejumlah fosil serta peninggalan sejarah bahkan vegetasi endemik yang  masih  berada di pegunungan sebelah Selatan Lembah Palu.

Proses surutnya air laut sehingga membentuk daratan diikuti  aktivitas migrasi dari  daerah yang tinggi  menuju Lembah dimaknai sebagai  kegiatan No’Kaili (mengalir)

Bahasa suku kaili mengisyaratkan  proses surutnya air laut dengan suku kata Levuto dan Lelo n’tasi.

Dalam kamus  Bahasa Kaili- Ledo –Indonesia-Inggris yang disusun Donna Evans, tahun 2003, kata Levuto diartikan sebagai Pulau; island big enough to have a village.

Orang Kaili secara spesifik  mengidentifikasi levuto sebagai tempat tinggal atau perkampungan awal saat surutnya air laut, levuto sangat erat kaitannya dengan aktivitas orang kaili, No’ Kaili.

Sedangkan Lelo N’tasi bermakna ekor laut, oleh  Daeng Magesa Datupalinge di dalam Bukunya “Kisah Juang Seputar Tanah Kaili” menunjukan bahwa Teluk Palu saat ini adalah Lelo N’tasi (Ekor laut)  yang  surut secara perlahan-lahan dari selatan ke utara.

Budayawan Kaili;  Andi Tjatjo.TS. mengamini  istilah Lelo N’tasi sebagai kosakata  dalam bahasa kaili sebagai bagian akhir surutnya air laut di Lembah Palu. Pak Atjat sapaan akrabnya berpandangan;

 “ Pada Awalnya kehidupan manusia di Lembah ini belumlah ada, karena  semua  masih berupa lautan, dapat dipastikan dahulu kehidupan masih berpusat di pegunungan sebelah Timur dan Barat, Lembah Palu saat ini, dan  Saya menduga, dahulu  ada rongga besar di sekitar lempah Palu, dengan   melihat kondisi tanah di pulau Sulawesi ini yang  labil, maka suatu ketika  terjadi pergeseran yang menyebabkan  terisinya rongga tersebut dengan air laut  yang  ada di sekitar teluk palu, sehingga  terbentuklah lembah palu, tetapi saya meyakini  hal tersebut terjadi dalam kurun waktu yang agak panjang,  mungkin saja  peristiwa itulah  yang  kemudian digambarkan oleh Orang tua kita dulu sebagai peristiwa perkelahian  anjing Sawerigading dan belut di Danau Lindu, dalam pandangan saya peristiwa Sawerigading itu  berlatar waktu  abad  9-13 Masehi”

Daerah yang sampai saat ini memiliki penamaan Levuto dapat kita temui di daerah Tatanga dan Vatutela, secara historis keduanya merupan daerah Tua yang diyakini awal pemukiman setelah Orang Kaili melakukan aktivitas No’ kaili.

Tatanga merupakan Derah tujuan No Kaili yang dilakukan  orang-orang Ulu layo sedangkan Vatutela merupakan Kampung  bentukan  orang-orang Uwelira dan Uwesama.

Pengetahuan penamaan daerah (Toponimi) serta kosakata yang memaknai peristiwa kiranya dapat dijadikan informasi  untuk menentukan seberapa besar kesiapsiagaan kita dalam mengurangi resiko bencana.

 

 

 

26. Des, 2018

Foto:  Kondisi Pesisir Kelurahan Mamboro setelah tsunami 28 September 2018.

Tsunami 1938 yang menghantam Lembah Palu berdampak pada  beberapa kampung di Pesisir Teluk Palu, salah satu kampung dengan tingkat Kerusakan terparah saat itu adalah Mamboro.

Seperti yang dilansir sejumlah surat kabar Hindia Belanda diantaranya;  De Tijd dan Nieuwsblad van het Noorden bahkan berita gelompang Pasang yang melanda Palu diberitakan juga sejumlah koran di Amsterdam Belanda; Leeuwarder Nieuws Blad dan De Gooi- en Emlander. Peristiwa tersebut terjadi tanggal 20 Mei 1938, dengan  kekuatan 7,6 SR (data BMKG)

Pada Tahun 1938 Posisi Kampung Mamboro berada di pesisir Pantai  (Saat ini Jl. Tg. Ruru), beberapa Narasi  kronologis  peristiwa tsunami di Mamboro masih melekat di benak Masyarakat di sana, salah seorang penutur yang juga merupakan  saksi Korban adalah Norma Hali, Wanita Kelahiran 1934 itu, mengisahkan tentang situasi Mamboro di tahun 1938 saat diterjang tsunami, kala itu beliau berumur 4 tahun, dan harus dievakusi karena rumah orangtua serta kerabatnya tertelan gelombang tsunami, dari beliau didapatkan cerita bahwa di Kampung tua Mamboro  yang terdampak tsunami terdapat, Pasar, masjid, rumah penduduk serta Rumah Istri Raja Tawaeli Joto Labu lembah yang bernama Mahanila.

Cerita korban tsunami 1938 di  Mamboro yang berdarah Tionghoa, sempat menjadi pemberitaan surat kabar Belanda, selanjutnya terkulik fakta bahwa wanita  tionghoa yang dimaksud bernama Ban Ho, Dia merupakan Pedagang  bahan campuran yang menyewa kolong rumah Halibo Risa untuk dijadikan toko. Awalnya saaat tsunami menerjang Kampung Mamboro, Ban Ho sempat menyelamatkan diri bersama penduduk lainnya,  menurut cerita  yang berkembang di masyarakat  Mamboro; Ban Ho kembali lagi ke Tokonya   hanya untuk mengambil sejumlah cacatan Bon, saat itulah  tsunami  menghempasnya dan membuat dirinya tidak dapat tertolongkan.

Setelah peristiwa kelabu 20 Mei 1938, Masyarakat Mamboro bersama Permaisuri Raja Tawaeli di Relokasi ke beberapa wilayah, Permaisuri Mahanila kemudian menetap di Kampung Mamboro Ngapa, sedangkan masyarakat lainnya membuat Kampung Baru di Lokasi Saat ini yang dikenal dengan Pusat  Kelurahan Mamboro Barat,  ada beberapa rumah  yang selamat dari terjangan gelombang tsunami  1938, salah satunya adalah rumah panggung  milik  Hi. Mahmud yang merupakan Kerabat Istri Raja Tawaeli, rumah itu kemudian secara gotong royong dipikul untuk dipindahkan  dari Kampung Mamboro  (Tg.Ruru) ke Kampung  Baru Mamboro (sampai saat ini rumah tersebut masih kokoh berdiri, di Depan Masjid Jami Mamboro).

Setelah tanggal 20 Mei 1938, daerah  Kampung Mamboro yang terdampak tsunami menjadi kosong, tetapi kemudian secara perlahan dihuni kembali hingga terulang kembali musibah yang sama  di tanggal 28 September 2018,  cerita tsunami 1938 memory kembali tetapi dengan jumlah korban yang lebih banyak.

25. Des, 2018

Foto: Peta  Penamaan wilayah Loli, tahun 1938 (Catatan A.C Kruyt, diterbitkan Amsterdam : Noord-Hollandsche, 1938)

Awalnya Loli merupakan  salah satu  dari Kota, Pitunggota Kerajaan Banawa,  di bawah kendali Raja Banawa, pada masa kemerdekaan,  Loli kemudian menjadi sebuah Kampung dengan Kepala Kampung pertamanya bernama Dey Pakunje.

Tahun 1960, Loli berubah menjadi Desa dan terbagi menjadi 2  yaitu; Loli Induk dan Loli Oge,  kemudian tahun 2008, dilakukan lagi  pemekaran sehingga terpecah menjadi 5 Desa; Loli Tasiburi, Loli Dondo, Loli Pesua, Loli Saluran dan Loli Oge.

Penamaan 2 Desa pemekaran Loli, sangat erat kaitannya dengan sejarah kebencanaan di daerah itu, 2 daerah yang dimaksud adalah Desa Loli Pesua dan Loli Salura.

Cerita Tsunami di Desa  Loli Pesua dinukilkan dari cerita  saksi korban tsunami 1938, beliau di panggil Pi’ Dahe (Ibu dari Dahe), wanita kelahiran 1930 itu berkisah; saat itu usianya masih 8 tahun, dan harus menyelamatkan diri bersama orang tuanya ke bukit untuk menghindari  gelombang tsunami 1938 yang menurutnya  lebih dahsyat jika dibandingkan tsunami 28 September kemarin.

Lanjut beliau menuturkan nama Pesua merupakan nama yang diabadikan sebagai pertanda bahwa daerah itu merupakan  daerah terdampak tsunami 1938, berasal dari kata Pesua Uwe Ntasi yang berarti Masuknya air laut  (Gelombang tsunami).

Ingatan  tentang jalur-jalur yang dilaluinya saat  menyelamatkan diri saat tsunami 1938 merupakan modal bagi masyarakat disana untuk melakukan  evakuasi saat tsunami  kembali menerjang pada tanggal 28 September kemarin.

Lain halnya dengan Loli Salura, Penamaan Salura diambil dari  nama bukit Njoura atau Soura , menurut Abdi Losulangi; “ Njoura atau Soura berarti tebing,  dahulu merupakan  tempat mengambil air Bangsawan, karena di tempat itu terdapat sumber mata air Bolovatu”

Sama seperti pengetahuan lokal di Loli Pesua, Masyarakat Loli Salura pun dibekali insting Mitigasi, saat gempa terjadi  dan air laut surut mereka harus secepatnya menuju bukit dan menjauh dari bibir pantai.

Kearifan Lokal Masyarakat Loli Pesua dan Salura tentang mitigasi, berbuah manis, saat Bencana  Gempa dan Tsunami 28 September, dari 1700 jiwa penduduk kedua Desa, Korban meninggal 4 orang saja, dan keempatnya merupakan lansia, padahal  tingkat kerusakan  bangunan di kedua Desa mencapai 90%.

Sekali lagi kita diberi pelajaran Bahwa merawat ingatan akan senantiasa membuat kita mawas terhadap marabahaya yang akan menimpa.

24. Des, 2018

Pict: Peta  letusan Gunung Krakatau, 27 Agustus 1883.

Masih ingat adegan Film "Krakatoa, The Last Day"?, film besutan Sam Miller itu mengisahkan tentang bencana vulkanis, meletusnya Gunung Krakatau, film yang diangkat ke layar lebar berdasarkan  tulisan-tulisan Rogier Verbeek, seorang ilmuan geologi asal Belanda.

Nama Rogiar Verbeek  menjadi tak asing di telinga orang Sulawesi, karena  namanya kemudian diabadikan sebagai nama pegunungan di sebelah tenggara Kabupaten Poso,  Provinsi Sulawesi Tengah yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam catatan Verbeek (1884-1885) yang diamatinya lebih dari seratus pelabuhan melalui catatan gelas ukur. Ia berpendapat bahwa kecepatan penyebaran tsunami bergantung pada kedalaman laut dan samudera dari studinya mengenai oseanografi . Hasil penyelidikan-nya mengenai tsunami Krakatau menunjukan bahwa gelombang yang paling tinggi terjadi di Merak, 36 m; Teluk Betung, 24 m; dan pantai selatan Bengkulu, 15 m. Efek resonansi dan kembalinya tsunami meng-akibatkan erosi dan pengendapan sedimen di dasar laut secara bergantian.

Verbeek (1884) juga mencatat bahwa di Padang, Sumatera Barat, tsunami tercatat pertama kali pada pukul 13.25, kemudian disusul gelombang kedua pada pukul 14.20. Gelombang ketiga merupakan gelombang tertinggi, 3,52 m terjadi pada pukul 15.12. Antara 27 Agustus, pukul 12.00 sampai 28 Agustus, pukul 7.30 tercatat 13 kali gelombang air pasang.

Berdasarkan berita yang dihimpun dari laporan seluruh dunia, Verbeek (1885) memperhitungkan bahwa penyebaran tsunami yang tertinggi mempunyai kecepatan antara 540 sampai 810 km/jam. Tsunami mengelilingi dunia dari Krakatau ke arah barat dan timur, kemudian dipantulkan kembali sebanyak 6 kali dari catatan watergauge yang terpasang di seluruh dunia.

Langit Gelap di Lembah Palu.

Berita dampak Letusan  Krakatau di Selat Sunda terhadap  lembah Palu hampir tak pernah dilaporkan, terkecuali  yang tersisa  hanya cerita turun-temurun tentang  langit  gelap, seperti malam yang panjang, hal itu dituturkan Effendi Junda di Besusu; “ menurut Kakek Buyutnya yang kemudian diceritakan kepada Bapaknya, bahwa sebelum peristiwa Kagegere Kapapu Kayumalue (perang Kayu malue), Langit  di Palu gelap selama berhari-hari, orang-orang  berdiam di dalam rumah karena mengira malam yang sangat panjang”

Dalam goresan sejarah di Lembah palu  Junda adalah Tadulako  Besusu yang berasal dari Vunta, cerita-cerita beliau  banyak dirujuk menjadi tulisan tentang kronogis Perang kayumalue, karena  saat itu beliau sebagai salah seorang Panglima perang, Junda sendiri meninggal  pada tahun 1945.

Cerita gelapnya langit di Lembah Palu oleh Junda itu ternyata terjadi di tahun 1883 atau lima tahun sebelum perang Kayumalue (1888), terbatasnya komunikasi dan informasi  menyebabkan berita meletusnya Gunung Karakatau  di Selat sunda  27 Agustus 1883 saat itu tak sampai di telinga masyarakat Lembah Palu, justru yang dirasakan hanya langit yang gelap gulita dengan berbagai tanya asbabmusababnya.

23. Des, 2018

Foto: Pintu gerbang pertama Kompleks makam Syekh Abdullah Raqie (Dato Karama).

Dato Karama  yang  bernama asli  Syekh Abdullah Raqie adalah pendakwah dari negeri Minang Kabau, di abad ke-17, dalam catatan sejarah  beliaulah yang pertama kali  menyebarkan ajaran tauhid di lembah Palu, saat itu Kerajaan Palu dipimpin  Raja pertamanya Pue Nggari.

Pertemuan  Syekh abdullah Raqie pertama kali dengan Raja Palu Pue Nggari  tertulis dalam buku  A.C Kruijt dan  N. Adriani, dengan judul De Bare’e Sprekende Toradja’s Van Midden celebes, halaman 300.

 

“Men sprak dus met elkaar door het geven van teekens en Poeë Nggari verbaasde zich zeer over het s ë m b a h j a' n g (het verrichten van de ritueele godsdienstoefening, 5 maal daags) van DatoeKarama. Zooveel begreep hij, dat Datoe Karama een bijzonder mensch was, endaarom wilde hij hem niet dooden”

 

(Terjemahan bebas)

mereka berbicara satu sama lain dengan memberi tanda dan Poe Nggari sangat terkejut dengan apa yang  dilakukan praktik ritual(Sholat, 5 kali sehari) oleh Datoe Karama.

Dia sangat mengerti bahwa Datoe Karama adalah pria yang spesial, dan karena itu dia tidak ingin membunuhnya.

 

Adalah  Abdul Aziz yang telah menjaga makam  Syekh Abdullah Raqie selama 32 tahun, mengisahkan  pengalaman spiritualnya saat mendengar kisah Syekh Abdullah Raqie (Dato Karama) kala terjadi tsunami dimasa yang lampau.

“Dato Karama Melihat Ombak bersusun tiga dari arah utara menuju Teluk Palu setinggi pohon Kelapa, lalu beliau berdoa sampil  melemparkan surbannya yang berwarna putih, sesaat kemudian  ombak tersebut  terpecah menjadi dua, dan menjauhi posisi makam saat ini”

Cerita inilah kemudian yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat jika terjadi gempa dan tsunami, kompleks Makam  Dato Karama dianggap sebagai tempat kumpul yang aman  dari gelombang tsunami.

Kepercayaan Masyarakat  khususnya  masyarakat sekitar Kelurahan Lere itu diamini  oleh Andi Alimuddin Rauf (Tokoh masyarakat di Kelurahan Lere), Pak Aco sapaan Akrabnya, mengatakan; “  Cerita dari Ibunya, Dahulu saat terjajdi tsunami tahun 1938, Semua keluarga Kerajaan Palu  di Lere mengungsi ke Rumah  Idjaza di depan Masjid Nur, setelah beberapa hari disuruhlah seseorang untuk melihat kondisi rumah Raja, dari Laporan itu disebutkan bahwa air laut  hanya sampai di tangga saja, dan makam Dato Karama tidak terdampak sama sekali” lanjut menurut beliau  “di kompleks makam itu  terdapat pula  kakek-buyut saya yang bernama Dato Bahoro, beliau diceritakan pernah berlayar dan disapu badai selama berhari-hari saat mengarungi lautan”

Hal serupa terjadi saat bencana 28 September 2018, gelombang tsunami hanya mampu  menggenangi pintu gerbang kedua kompleks pemakaman, tidak sampai di Kompleks Pemakaman  Syekh Abdullah Raqie, kejadian itu semakin meneguhkan cerita kesaktian Dato Karama dikalangan Masyarakat Kelurahan Lere, saat  beliau membelah tsunami dengan surbannya.